Hang Tuah (Sastra Daerah Melayu)

Salah satu karya sastra Melayu tradisional yang menonjol dan merupakan sumber yang tidak habis-habisnya dibicarakan adalah Hikayat Hang Tuah. Bagi masyarakat Melayu, Hang Tuah merupakan tokoh sejarah, seorang pahlawan yang gagah berani. Sebagai hamba, si Tuah atau Laksamana gelarnya sangat setia dan berbakti kepada tuannya, yaitu Raja Malaka. Pengabdiannya pada Raja dimulai sejak berdirinya Kerajaan Malaka, saat Malaka mengalami puncaknya, hingga masa runtuhnya karena serangan Portugis dan Belanda.

Konon menurut pengarang, Hang Tuah itu tidak mati, ia tinggal di pucuk hulu Sungai Perak. Karena itu pada zaman penjajahan orang Melayu percaya bahwa Hang Tuah mau menolong seseorang sewaktu mengalami kesulitan. Ini berarti bagi orang yang percaya Hang Tuah merupakan sumber kekuatan (Ismail Hamid, 1993).

Sebagai cerita yang menarik hikayat ini telah berkali-kali disalin. Hingga kini masih ada naskah salinan tangan dengan tulisan Arab-Melayu dan berbahasa Melayu. Beberapa perpustakaan yang memiliki naskah itu adalah perpustakaan nasional di Jakarta (Behrend, 1998), Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur (Howard 1966), Perpustakaan Universitas Leiden (Wieringa, 1998), dan SOAS London (Ricklefs, 1977). Selain itu ada pula edisi naskah yang telah diterbitkan antara lain, edisi Shellabear (1908), edisi Balai Pustaka (1948), dan edisi Kassim Ahmad (1975).

Berikut ini akan disajikan beberapa petikan episode hikayat Hang Tuah yang diambil dari edisi teks Kassim Ahmad. Naskah yang dipakai milik almarhum Tengku Seri Utama Raja, seorang kerabat Diraja Kelantan. Semula hikayat ini tertulis dalam huruf Arab Melayu dan berbahasa Melayu, tebal naskah setelah dicetak dalam huruf latin 526 halaman, yang terbagi dalam 28 Bab.

Keempat episode yang dipilih adalah, 1) Hang Tuah Melarikan Tun Teja, 2) Pertikaian Hang Tuah dan Hang Jebat, 3) Hang Tuah diutus ke Keling dan Cina, dan 4) Hang Tuah Jatuh Sakit.

Melalui episode tersebut, pembaca diharapkan dapat memperoleh gambaran mengenai sosok Hang Tuah sebaga hamba yang setia pada tuannya. Hidupnya dibaktikan pada raja, karena itu sepantasnyalah bila Hang Tuah pada masanya merupakan simbol kebesaran Malaka.

Jika anda tertarik untuk membaca kisah mengenai Hang Tuah ini, Anda akan mendapatkannya di buku Antologi Sastra Daerah Nusantara. Dapatkan di toko buku terdekat.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>