HB Jassin dan Dokumentasi Sastra (3)

 

Tulisan ini merupakan lanjutan dari HB Jassin dan Dokumentasi Sastra (2)

 

Armijn Pane agaknya mempunyai tempat tersendiri bagi Jassin. Jassin mengakui ia banyak “berguru” pada pengarang Belenggu itu. “Armijn Pane mendidik saya untuk menerjemahkan secara baik,” demikian Jassin, “bagaimana melakukan editing terhadap naskah yang masuk, bagaimana menulis cerpen, atau bagaimana membuat pembicaraan buku dengan baik, di majalah ataupun di radio.”

Dalam membicarakan sebuah buku misalnya, begitu cerita Jassin, Armijn Pane selalu menganjurkan agar Jassin tidak hanya membaca buku yang hendak dibicarakan, melainkan juga membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan buku itu. Hal ini membuat Jassin harus mencari sendiri buku-buku yang dianjurkan Armijn Pane untuk dibaca itu. Jassin harus mencarinya ke toko buku, dan kadang harus mencarinya pula ke tukang loak.

Pembelian buku-buku itu dengan sendirinya memperbanyak koleksi buku Jassin. Dan tiap buku yang dibelinya, selalu disimpan baik-baik. “Makin banyak buku kita.” kata Jassin, “makin banyak pula pengetahuan kita, serta makin banyak pula hal yang bisa kita tulis.”

***

Walaupun di atas telah disebutkan beberapa hal yang mendorong Jassin untuk menggeluti Dokumentasi sastra, menurut pendapat saya timbulnya minat Jassin pada dokumentasi haruslah dipulangkan kepada sumber utamanya, yakni ayah Jassin: Bague Mantu Jassin. Di atas segala-galanya, hemat saya sang ayahlah yang mengilhami sang anak (H.B Jassin) untuk menekuni dokumentasi dari tahun ke tahun, dari masa ke masa. Mengapa saya katakan demikian? Karena ternyata sang ayah memiliki perpustakaan pribadi di rumah! Secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, Jassin sering membacai buku-buk ayahnya, sekalipun ia belum mengerti betul apa yang tertulis di dalamnya (umumnya buku-buku itu untuk orang dewasa). Bukan hanya itu, Jassin kecil juga kerap kali di suruh ayahnya meminjam buku dari perpustakaan HIS Balikpapan.

Dengan kata lain, minat Jassin pada dokumentasi sesungguhnyalah diwarisinya dari ayahnya. Kalau ayah saya punya perpustakaan (=dokumentasi), mengapa saya tidak boleh memilkinya? Demikian kira-kira tekad Jassin. Dan bukan tidak mungkin – disadari atau tidak – Jassin pun ingin melebihi ayahnya, misalnya dalam hal koleksi buku. Yang terakhir ini memang telah dibuktikan Jassin!

***

Apakah manfaat dokumentasi bagi Jassin? Apakah makna sebuah dokumentasi? Dan bagaimakah pandangan Jassin terhadap dokumentasi?

Agaknya, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini menarik untuk disimak. Dan jawaban itu tidak perlu kita cari jauh-jauh karena Jassin sudah berulang kali mengutarakannya pada pelbagai kesempatan.

“Pekerjaan dokumentasi ini,” demikian Jassin, “Bagi saya pribadi telah memberikan semangat dan kegembiraan karena telah membuahkan hasil-hasil studi berupa pembicaraan dan kritik sastra, antologi, dan kompilasi…” Hasil-hasil yang dimaksud ialah buku: Pancaran Cita (1946), Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi (1948), Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948), Tifa Penyair dan Daerahnya (1952), Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (1954), Chairul Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956), Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1962), Pujangga baru: Prosa dan Puisi (1963), Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968), Heboh Sastra 1968: Suatu Pertanggungan Jawab (1970), Polemik (1972), dan lain-lain.

Dengan kata lain, sekiranya Jassin tidak memiliki dokumentasi yang lengkap, kemungkinan besar ia tidak akan menghasilkan buku-buku tadi. Atau paling tidak, buku yang dihasilkannya tidak akan sebanyak sekarang.

Sekarang marilah kita lihat makna dokumentasi itu sendiri. Menurut Pendapaat Jassin, “Dengan adanya dokumentasi, kita menjadi kenal masalah-masalah, dalam hal dokumentasi kesusastraan ini, kita menjadi kenal masalah-masalah kesusastraan dan pengarang-pengarang, latar belakang dan sejarahnya.” Sebaliknya: “Menyia-nyiakan hasil karya kita berarti menyia-nyiakan kehidupan kita, sejarah kita, masa silam, masa sekarang, masa depan kita.” Dan akhirnya Jassin menyimpulkan: “Dokumentasi adalah alat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam dan memperluasnya.”

Sumber : HB Jassin: Paus Sastra Indonesia. Penulis: Pamusuk Eneste. Penerbit Djambatan. Jakarta: 1987.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to HB Jassin dan Dokumentasi Sastra (3)

  1. Pingback: HB Jassin Dan Dokumentasi Sastra (2) | SastraNesia

  2. Pingback: H.B Jassin Penyelamat Sastra Indonesia (Melawan Plagiatisme) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>