HB Jassin Dan Dokumentasi Sastra (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari HB Jassin dan Dokumentasi Sastra (1)

Tentang “tulisan-tulisan pertama dalam surat kabar dan majalah” ini ada kisah tersendiri.

Ketika duduk di HBS Medan, Jassin sudah mulai menulis dan mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai media. Setamat dari HBS, Jassin meninggalkan Medan. Akan tetapi ia tidak langsung ke gorontalo – kampung halamannya- melainkan singgah dulu di Jakarta. Di Jakarta Jassin menemui S. Takdir Alisjahbana, salah seorang pengarang yang dikaguminya saat itu. “Kami ngobrol lama sekali mengenai kesusastraan, bahasa, kebudayaan, dan sebagainya,” tutur Jassin. Dari Jakarta, Jassin melanjutkan perjalanan ke Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang, dan terakhir Gorontalo.

Beberapa hari setelah tiba di Gorontalo, Jassin menerima sepucuk surat dari S. Takdir Alisjahbana. Isinya: mengajak Jassin bekerja sebagai redaktur buku di Balai Pustaka.

Jassin tidak segera menerima tawaran itu karena ayahnya melarang. Pertama, sang ayah ternyata masih kangen pada putranya itu. Kedua, ternyata sang ayah lebih menginginkan anaknya menjadi amtenar (=pegawai pemerintah) dan untuk itu si ayah sudah mempersiapkan pekerjaan buat Jassin di Kantor Asisten Residen di Gorontalo.

Akhirnya Jassin bekerja juga di kantor itu. Sekalipun hanya lima bulan, ternyata pekerjaan itu amat berpengaruh pada Jassin di kemudian hari, sebagaimana akan kita lihat dalam sebuah pengakuan Jassin nanti. Akan tetapi, sebelum sampai pada pengakuan itu, baiklah kita lihat dulu apa yang dikerjakan Jassin sesudah tidak bekerja di Gorontalo.

Tanggal 1 Februari 1940, Jassin datang ke balai pustaka dengan maksud hendak bekerja. Jassin membawa surat S. Takdir Alisjahbana yang tempo hari, berikut tulisan-tulisan Jassin yang sudah pernah diterbitkan. Dan Jassin langsung diterima pada hari itu juga! Penerimaan itu ternyata memberi arti tersendiri bagi Jassin, terutama dalam hubungannya dengan dokumentasi yang telah dia garap sebelumnya. Tentang ini Jassin menjawab: “Ketika ternyata bahwa berbagai tulisan tersebut ikut mempengaruhi penerimaan saya sebagai pegawai, dokumentasi mulai jadi hal penting di mata saya.” Dengan kata lain, sekiranya Jassin tidak membawa bukti-bukti tulisannya itu dan seandainya tulisan-tulisan itu tidak berpengaruh pada penerimaan Jassin sebagai pegawai Balai Pustaka, mungkin pandangan Jassin terhadap dokumentasi (sastra) tidak akan seperti sekarang.

***

Selama bekerja 5 bulan di kantor asisten Residen Gorontalo, ternyata Jassin tidak pernah menerima gaji satu sen pun. Itulah antara lain yang membuatnya tidak betah bekerja lama-lama di sana.

Sekalipun demikian, bukan tak ada hikmahnya bagi Jassin bekerja tanpa gaji itu. Karena seperti diakui Jassin, “Selama Agustus-Desember 1939, saya banyak mempelajari berbagai masalah yang kemudian ternyata bermanfaat untuk tugas-tugas saya. “ Manfaat apakah itu? “Di samping mempelajari masalah-masalah Islam, adat-istiadat Gorontalo serta berbagai perkara tanah, saya juga berkesempatan untuk mempelajari bagaimana membuat satu dokumentasi yang baik.”

Dengan kata lain, Jassin justru belajar mengenai dokumentasi selama bekerja lima bulan di kantor asisten residen itu. Bekal inilah kemudian yang dibawa dan dipraktekkannya di Jakarta, ketika ia mulai menggarap dokumentasi sastra secara sistematis tahun 1940.

Lanjut ke HB Jassin dan Dokumentasi Sastra (3)

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to HB Jassin Dan Dokumentasi Sastra (2)

  1. Pingback: HB Jassin dan Dokumentasi Sastra (3) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>