HB Jassin Paus Sastra Indonesia (Sang Kritikus Handal – 1)

Sekalipun memulai kariernya sebagai dokumentator sastra (1940), kemudian sebagai penerjemah (1941) dan redaktur majalah (1942), namun HB Jassin lebih terkenal sebagai kritikus sastra Indonesia, sampai-sampai ada yang menjulukinya sebagai paus sastra Indonesia.

Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan orang, kita mengetahui bahwa Jassin masih tetap berwibawa hingga saat ini. Sehubungan dengan ini, tentulah wajar jika timbul pertanyaan: mengapa kedudukan Jassin begitu kuat dalam sastra Indonesia, bahkan hampir-hampir tidak tertandingi? Apa yang menyebabkan Jassin seolah-olah tidak tergoyahkan? Apakah karena secara kebetulan Jassin merangkap menjadi redaktur sejumlah majalah sastra sehingga orang (terutama para pengarang dan calon pengarang), mau tidak mau, harus ‘tunduk’ pada penilaiannya? Ataukah, Jassin dihormati dan disegani karena reputasinya yang baik, penilaiannya yang netral, dan wawasannya yang luas? Dan pertanyaan yang sering menggoda banyak orang adalah: di mana sebetulnya letak kebesaran Jassin?

Dalam kaitan pertanyaan-pertanyaan ini, tentulah amat penting kita ketahui prinsip-prinsip Jassin berkenaan dengan kritik sastra dan kritikus sastra. Sebab, apa yang dipraktekkan Jassin dalam menulis kritik sastra selama ini, pastilah bertolak dari prinsip-prinsip tadi dan penilaian orang pada Jassin pastilah didasarkan pada apa yang terpancar dalam/dari tulisan-tulisan Jassin.

***

Menurut Pendapat Jassin, “Kritik kesusastraan ialah pertimbangan baik atau buruk sesuatu hasil kesusastraan. Pertimbangan itu tentu dengan memberikan alasan-alasan mengenai isi dan bentuk hasil kesusastraan.” Di pihak lain, Jassin mengatakan bahwa kritik ialah penerangan dan penghakiman. “Untuk memberi penerangan seorang kritikus memasuki jiwa hasil ciptaan. Ia harus menunjukan kekuatan dan keindahannya yang hakiki, menunjukan apa yang kekal dan fana, nilai-nilai yang akan tetap menarik hati atau akan dilupakan orang pula, nilainya sebagai seni, tempatnya dalam kemajuan kesusastraan, artinya bagi masyarakat, perbandingan dengan hasil-hasil seniman sendiri atau hasil-hasil orang lain. Diteropong bagian-bagiannya, dihubungkan yang satu dengan yang lain, untuk mendapatkan suatu pemandangan seluruhnya, tentang isinya, semangatnya, seninya. Biasanya penerangan dalam hal ini sudah berarti pula penghakiman, diterima atau tidak oleh seniman bersangkutan dan masyarakat.”

Bagaimana cara yang sebaiknya menulis kritik sastra? “Apabila mengkritik,” kata Jassin, “sebaiknya kita dasarkan kritikan kita atas bahan yang dikritik, jangan pada orangnya. Cara yang pertama memberi kita kemungkinan lebih besar untuk bersikap objektif, sedang cara yang kedua akan selalu subjektif. Objektifitas keuntungannya ialah bahwa mengemukakan fakta dan tidak hanya perasaan saja. Fakta merupakan kenyataan yang sama bagi semua orang, sedang perasaan terlalu terikat pada kesenangan atau selera seseorang. Tentu bisa juga kita bertolak dari simpati atau antipati yang subjektif terhadap seseorang, lalu mencari alasan-alasan yang objektif untuk menyerang atau memujinya. Dalam hal ini meskipun subjektif, kita juga mencoba mengemukakan argumentasi yang objektif dan inilah menurut pendapat saya kritik yang lengkap dalam dirinya.”

***

Tentulah ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dan dipunyai seseorang untuk bisa menjadi kritikus sastra. Menurut pendapat Jassin, “untuk menjadi kritikus harus ada bakat seniman sedikit banyaknya, sebab jiwa seniman hanya bisa dimengerti oleh orang yang juga mempunyai bakat seni.” Itulah sebabnya, Jassin kurang setuju dengan pendekatan yang dilakukan para ilmuwan maupun para linguis (=ahli bahasa) terhadap sastra. Alasan Jassin: “Apa yang dilakukan oleh ahli-ahli ilmu pengetahuan umpamanya tentang sejarah kesusastraan, ialah penyelidikan dan pertimbangan yang berdasarkan akal dan pikiran. Lebih terang lagi hal itu bisa kita lihat pada ahli bahasa yang tertarik pada hasil-hasil kesusastraan bukan karena nilai-nilai keindahannya, tapi karena kata-kata yang bisa diselidikinya dari mana asalnya, apa artinya, dan gembira apabila bisa menetapkan dalam kamus yang disusunnya bahwa sesuatu kata berasal dari bahasa Sanskerta atau bahasa lama yang lain.”

Syarat kedua ialah jiwa besar. “Kritikus yang besar ialah kritikus berjiwa besar dan sudah bisa melepaskan diri dari nafsu dengki, iri hati, benci, dan riah dalam hubungan terhadap seseorang.” Da kritikus semacam ini adalah “kritikus yang mempunyai persengketaan dengan seseorang yang dikritiknya, tetap mempunyai ketenangan jiwa untuk memuji dengan beralasan kebagusan ciptaan lawannya.” Sebagai contoh, Jassin mengambil dirinya. “Saya sendiri,” demikian Jassin, “sebisanya mengekang diri sebelum melancarkan kritik. Kalau saya sedang marah pada seseorang, saya tidak terus menyerang tulisannya apalagi pribadinya, tapi saya kumpulkan dulu bahan-bahan secukupnya dan ini memakan waktu yang lama sekali; berbulan-bulan malah bertahun-tahun baru saya lontarkan kemarahan saya melalui fakta hasil-hasilnya. Dengan demikian kemarahan itu hanya sebagai tenaga pendorong dan yang maju ke depan tetap argumentasi yang berdasarkan kenyataan. Begitu pula halnya apabila saya merasa simpati dan ingin memuji, saya meredakan diri dulu dan berdasarkan fakta mengemukakan pendapat. Kombinasi kedua sikap jiwa ini tentu ada pula, malah lebih sering saya alami. Sementara menyelidiki sesuatu hasil atau beberapa hasil, selalu saja saya akan bertemu dengan hal-hal yang menyenangkan, tapi juga membikin jiwa kerut-merut, karena kesal, maka kedua kesan yang timbul saya kemukakan pula berdasarkan fakta. Dengan cara inilah saya mencoba selalu objektif dalam subjektivitas saya, sehingga mendapat objektivitas yang subjektif. Dengan demikian tiap-tiap kritik, bagaimanapun objektifnya, tetap bersifat subjektif dan dalam subjektivitas inilah letak diri saya sebagai kritikus.

Syarat ketiga ialah pengalaman. “Seperti juga sastrawan tidak bisa mengambil bahan-bahannya dari bacaan-bacaan dari buku-buku lain, tapi terutama dari penghidupan, begitu juga seorang kritikus harus bicara atas pengalaman, supaya pendapatnya tidak dogmatis, tetap, tidak boleh diubah lagi, tapi seperti kehidupan penuh dengan serba kemungkinan dan tidak pula segera menyalahkan atau membenarkan tanpa lebih dahulu melihat soal dari segala sudut.” Lebih jauh Jassin mengatakan: “Karena isi kesusastraan ialah seluruh kehidupan, maka perlulan seseorang yang mau jadi kritikus mengenal, lebih baik, mengalami kehidupan sehingga tiada yang asing baginya dalam sifat-sifat jiwa manusia dan lagi haruslah ia mempunyai dasar pengetahuan yang luas, supaya pertimbangannya tidak berat sepihak.”

***

Apa saja tugas seorang kritikus sastra? Apa saja yang harus dia lakukan dalam menghadapi karya sastra?

“Seseorang kritikus, pengkritik, atau penimbang,” kata Jassin, “ialah seorang perantara antara pencipta dan orang banyak. Seorang kritikus mendapatkan dan menunjukkan kebagusan-kebagusan atau kekurangan-kekurangan dalam sesuatu ciptaan dan dengan demikian membikin ciptaan itu jadi terang bagi orang banyak, hingga mereka bisa menghargai atau mempunyai pandangan sendiri pula.” Dengan kata lain, seorang kritikus sastra –dengan istilah Jassin- adalah “menara petunjuk jalan”.

Akan tetapi, Jassin menambahkan pula bahwa kritikus sastra bukan hanya untuk pembaca sebagai “penunjuk jalan”, melainkan juga untuk seniman atau sastrawan sendiri. “Seorang seniman mencipta dengan tidak memikirkan nilai ciptaannya dan nilai ciptaan ini dibukakan oleh kritikus. Seniman mempertimbangkan kritikus dan mengambil apa yang bisa dipergunakan untuk kebaikan ciptaannya kemudian. Dalam hubungan mereka seorang kritikus besar senantiasa bisa memberi sesuatu pada seniman.”

Meskipun demikian, Jassin sadar bahwa seorang kritikus sastra bukanlah Tuhan atau dewa. Oleh karena itu, Jassin menganjurkan agar “kritikus tidak boleh dipandang sebagai orang yang tidak bisa bikin kesalahan. Terhadap kritikus, pembaca harus kritis pula”.

Diambil dari buku: HB Jassin paus sastra Indonesia karangan Pamusuk Eneste

HB JassinWikipedia: Hans Bague Jassin (31 July 1917 – 11 March 2000), better known as HB Jassin, was an Indonesian literary critic, documentarian, and professor.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to HB Jassin Paus Sastra Indonesia (Sang Kritikus Handal – 1)

  1. Pingback: HB Jassin Paus Sastra Indonesia (Wibawa Sang Paus – 2) | SastraNesia

  2. Pingback: H.B Jassin Penyelamat Sastra Indonesia (Melawan Plagiatisme) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>