HB Jassin Paus Sastra Indonesia (Wibawa Sang Paus – 2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari HB Jassin Paus Sastra Indonesia (Sang Kritikus Handal)

Setelah melihat prinsip kritik sastra, cara mengkritik, syarat-syarat yang mesti dimiliki calon kritikus,  dan tugas kritikus sastra, barangkali ada baiknya kita lihat bagaimana karya yang berhasil dan indah itu menurut pendapat Jassin.

Pertama-tama, Jassin tidak melihat sebuah karya sastra dari besar-kecilnya bentuk fisiknya. “Bagi saya sendiri, penemuan sajak kecil yang baik selalu menggembirakan,” Jassin menegaskan. Kemudian ditambahkannya: “Satu sajak yang berhasil adalah satu sajak yang berhasil, bagaimanapun singkatnya. Ia telah memuat segala yang telah dirasakan oleh penyairnya dengan instuisinya. Begitu juga dalam cerita pendek yang berhasil kita tidak bisa meminta lebih dari apa yang telah diceritakan pengarang di dalamnya. Pun satu roman yang berhasil hanya terbatas persoalannya dan kita boleh setuju atau tak setuju, di dalamnya pengarang telah meletakkan hasil pemikirannya, perasaannya, daya ciptanya.”

Selanjutnya Jassin berbicara tentang keindahan sebuah karangan. “Keindahan sesuatu karangan, bukanlah terletak dalam banyaknya kejadian-kejadian yang diceritakan, melainkan banyaknya kekayaan pikiran dan perasaan yang terlukis di dalamnya. Bukan pikiran dan perasaan yang di buat-buat, yang terasa dibuat-buat, tetapi pikiran dan perasaan yang timbul dari hati benar-benar, yang terasa kejujurannya oleh pembaca.”

Selain itu, Jassin pun tidak menolak ide atau cita-cita dalam sebuah ciptaan. “Tentang cita-cita, tentulah tiap pengarang mempunyai cita-cita yang dimasukkannya dan dijalinkannya dalam karangannya. Ada yang dengan berterang-terangan dan ada pula yang dijalinkannya dengan halus dalam cerita, sehingga hanya terasa saja oleh pembacanya. Pada umumnya cara yang kedua inilah yang menurut ukuran keindahan sebaik-baiknya. Si pengarang jangan hendaknya terdengar dalam cerita, melainkan hanya terasa saja.”

***

Dengan prinsip kritik sastra, cara mengkritik, posisi kritikus serta ukuran keindahan tadilah Jassin menilai karya-karya pengarang Indonesia selama ini., sebagaimana dapat kita lihat dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei., yang terdiri dari empat jilid. Di dalam “buku monumental”-nya ini, Jassin menilai karya para pengarang angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, hingga pada karya pengarang yang muncul pada tahun 50-an dan awal tahun 60-an.

Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei diterbitkan oleh Penerbit PT Gunung Agung tahun 1954, tetapi sejak tahun 1985 diterbitkan oleh PT Gramedia dalam edisi yang diperbarui.

Macam-macam penilaian orang terhadap cara kerja maupun karya Jassin selama ini.

Arief Budiman misalnya menyebut Jassin sebagai “seorang kritikus sastra yang bekerja secara cermat dan kontinu.”

Penilaian Teeuw lain lagi. Sesudah mengatakan, “Tak dapat disangsikan bahwa sebagai seorang ahli sesi dan kritik, Jassin tidak pernah mencapai tingkat kecemerlangan Sitor atau Asrul, dan bahwa sumbangannya terhadap kritik sastra harus dipandang sebagai keterangan-keterangan yang sehat lagi berguna, dan bukan sebagai analisa yang mendalam dan mengagumkan,” Teeuw juga mengakui bahwa Jassin “tetap merupakan seorang tokoh yang tak mungkin dicari gantinya dan amat penting dalam kesusastraan Indonesia”.

Penilaian yang mirip datang dari Jakob Sumardjo. Menurut Jakob, “Buku-buku kritik Jassin masih tetap diminta oleh masyarakat luas, karena peranannya sebagai mediator dan terutama karena apa yang ia bicarakan bersifat melampaui aktualitas. Karya-karya kritik Jassin dalam buku serialnya Kritik dan Esei akan tetap enak dibaca dan aktual untuk bertahun mendatang ini. Jassin berhasil menangkap segi-segi masalah yang ‘langgeng’ menjadi masalah-masalah budaya dalam mengulas karya-karya sastra.”

***

Pembicaraan mengenai Jassin sebagai kritikus sastra tentulah kurang lengkap jika kita tidak menyinggung sebutan-sebutan yang pernah ditujukan kepadanya.

Pada awal bab ini sudah disinggung bahwa Jassin pernah dijuluki “Paus Sastra Indonesia”. Sebutan ini muncul sekitar awal tahun 50-an. Dalam sebuah surat di tahun 1963, Trisno Sumardjo pun pernah menyebut Jassin sebagai “barometer”. Dan sebutan-sebutan ini pun belum lengkap jika tidak dikaitkan dengan “kewibawaan”.

Tentang kata terakhir ini, Jakob Sumardjo memberi penjelasan berikut. “Kewibawaannya,” kata Jakob, “terpancar dari kejernihan bahasanya, luasnya pengetahuan sastranya, keterpelajarannya dan keterbukaannya yang ikhlas (…) Sikapnya yang netral dan percaya kepada ‘kebenaran’ dengan nilai-nilai yang universal abadi menunjukkan kepribadiannya yang menarik.”

Barangkali yang paling menarik adalah menyimak pendapat Jassin sendiri tentang: mengapa kritikus yang satu lebih dihormati dari kritikus yang lain, dan apa rahasia kewibawaan seorang kritikus. Mengenai hal ini, Jassin berkata: “Mengapa kritikus/eseis yang seorang lebih didengarkan kata-katanya dari kritikus/eseis yang lain? Inilah rahasia besar yang tidak disadari oleh kebanyakan kritikus dan eseis kita. Rahasia itu menurut pendapat saya terletak pada kesungguhan, kejujuran, ketelitian, ketekunan, pendalaman dan pemusatan pikiran si kritikus/eseis pada materi yang sedang dibahasnya, yang didasarkan atas pengalaman, pencarian, pengendapan, pemikiran yang paling dalam dan paling jauh menurut kemampuannya. Maka pembahasannya sebagai esei dan kritik mempunyai kedalaman, mempunyai bobot, tenaga lontar, tenaga pengaruh yang jauh dan dalam. Dengan cara inilah kritikus/eseis mencari kebenaran, yang dengan dimaksud atau tidak dimaksud kemudian menjadi pedoman bagi orang lain, yang tidak berkesempatan tau berkemampuan sejauh dan sedalam itu meninjau, dan dberi sehutan gezag hebbend dan ‘mempunyai autoritas’ karena bisanya dipercaya.”

Agaknya, kata-kata ini pulalah yang menjadi rahasia kebesaran, kewibawaan ke-barometer-an dan “kepausan” Jassin.

Diambil dari buku: HB Jassin Paus Sastra Indonesia oleh Pamusuk Eneste

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>