HB Jassin Penerjemah yang Baik

Pada tahun 1973 HB Jassin memperoleh hadiah Martinus Nijhoff dari Prins Bernhard Fonds di Belanda untuk terjemahan karya Multatuli, Max Havelaar (Djambatan, 1972). Sebetulnya, ini bukan terjemahan Jassin yang pertama. Jauh sebelumnya, Jassin sudah berkecimpung di bidang terjemahan, sebagaimana akan kita lihat di bawah ini.

Terjemahan Jassin yang pertama ialah Sepuluh Tahun Koperasi (1941) karya R.M Margono Djojohadikusumo (Judul aslinya dalam bahasa Belanda: Tien Jaren Cooperative). Selanjutnya, terjemahan Jassin dari bahasa Belanda adalah: Renungan Indonesia (1947) karya Sjahrazad (= nama samaran Sutan Sjahrir, buku asli, Indonesische Overpeinzingen, justru terbit pertama kali di Belanda pada tahun 1945), Cerita Panji dalam Perbandingan (1968) karya R.M Ng.Poerbatjaraka (Diterjemahkan bersama Zuber Usman; judul asli: Pandji Verhalen onderling vergeleken), Cis dan Cuk (keduanya tahun 1976) karya Vincent Mahieu (judul asli: Tjis dan Tjoek), Pemberontakan Guadalajara (1977) karya J.Slauerhoff, Teriakan Kakatua Putih (1980) karya Johan Fabricius, dan Percakapan Erasmus (1985) karya Desiderius Erasmus.

Terjemahan Jassin dari Bahasa Inggris ada dua: Chushingura (1945) karya Sakae Shioya (Diterjemahkan bersama Karim Halim) dan Api Islam (1966) karya Syed Ameer Ali (Judul asli The Spirit of Islam).

Jassin pun menerjemahkan dari bahasa Prancis. Diantara terjemahannya: Terbang Malam (1949) karya Antoine de St.Exupery (judul asli: Vol de Nuit) dan Kisah-kisah dari Rumania (terjemahan bersama Taslim Ali dan Carla Rampen; judul asli: Nouvelles Roumaines).

Tahun 1978 terbit terjemahan Jassin dari bahasa Arab, yaitu Al-Quranu’l-Karim Bacaan Mulia. Selanjutnya terjemahan Jassin dari bahasa Arab ialah: Berita Besar (1984).

Menurut pengakuan Jassin, ia pun pernah menerjemahkan dari Bahasa Jerman, meskipun hingga kini belum terbit sebagai buku. Buku yang diterjemahkan Jassin itu adalah karya Nietzsche, Also Sprach Zarathustra.

***

Sengaja dideretkan buku terjemahan Jassin dari dulu sampai sekarang, agar kelihatan apa saja yang telah diterjemahkannya. Dari daftar tadi nampak pula bahwa Jassin menterjemahkan dari pelbagai bahasa: Belanda, Inggris, Prancis, Arab, dan Jerman.

“Saya menyadari,” kata Jassin, “betapa bahayanya menerjemahkan dari terjemahan.” Itulah sebabnya, Jassin selalu berusaha menerjemahkan langsung dari bahasa sumbernya (= bahasa asli)-nya. Itu pula sebabnya, Jassin tidak menerjemahkan Al-Qur’an dari bahasa Eropa (yang mungkin jauh lebih mudah bagi Jassin), melainkan langsung dari bahasa sumbernya, bahasa Arab.

Inilah salah satu prinsip bagi Jassin dalam menerjemahkan.

Meskipun begitu, Jassin tidaklah menolak terjemahan kedua, yakni terjemahan dari terjemahan. Karena menurut Jassin, “dongeng bahwa lebih baik membaca aslinya tidak selalu bisa dipertahankan.” Dan ini sudah dibuktikan oleh Jassin, dengan menerjemahkan Chushingura dan Kisah-kisah dari Rumania yang sudah disebut tadi, masing-masing dari bahasa Inggris (bukan dari bahasa Jepang) dan dari bahasa Prancis (bukan dari bahasa Rumania).

***

Ada orang mengatakan bahwa penerjemahan adalah pengkhianatan. Ada pula yang berpendapat: dalam terjemahan selalu ada hal, suasana, atau nuansa yang hilang. Setiap penerjemah tentu menyadari hal ini. Namun bagi Jassin “salinan (= terjemahan – PE) yang baik tidak usah lebih kurang dari aslinya, malahan mungkin lebih baik.” Itulah sebabnya menurut pendapat Jassin, “menerjemahkan, asal dilakukan dengan sungguh-sungguh, hanya menguntungkan belaka.”

Tentang manfaat terjemahan, Jassin tidak pernah ragu. “Terjemahan bukan saja bermanfaat bagi penerjemah, apalagi bila mereka pengarang yang kreatif pula. Sebab dengan menerjemahkan mereka mempertajam dan memperbaiki cara menyatakan diri, belum lagi kita bicara tentang gagasan dan pikiran yang mereka peroleh dalam pekerjaan itu.” Tidak mengherankan jika Jassin memberikan penilaian yang tinggi terhadap penerjemah atau penyalin. “Penyalin ialah pelopor, yakni dengan bahasa membuka jalan ke dunia rohani segala bangsa,” ujar Jassin. Itu pula sebabnya pada pemakaman Trisno Sumardjo (1969) Jassin mengatakan: “Satu hal yang tetap saya sayangkan. Dengan kepergian Saudara, kami telah kehilangan seorang penerjemah karya-karya Shakespeare yang belum semua saudara terjemahkan. Dan saya tidak tahu, bilakah lagi akan lahir seorang putra Indonesia yang akan dapat meneruskan pekerjaan Saudara dengan ketekunan yang sama dengan kemampuan yang sama.”

Lebih jauh, Jassin menyatakan bahwa terjemahan itu amat banyak manfaatnya bagi pembaca, “lebih-lebih untuk negeri yang sampai sekarang merupakan masyarakat tertutup.” Namun ada syaratnya, yaitu: pembaca terjemahan pun harus rela membuka diri. Atau dalam kata-kata Jassin, “Pintu-pintu dan jendela-jendela harus dibuka luas-luas untuk memasukkan pikiran-pikiran segar.”

***

Bagaimana cara Jassin menerjemahkan? Bagaimana pula sikapnya terhadap bahasa sumber (= bahasa asli) dan bahasa sasaran (=bahasa terjemahan)? Tentu kita pun ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Boleh dikatakan, Jassin adalah seorang penerjemah yang luwes. Yang penting bagi Jassin adalah gagasan bahasa sumber yang hendak dialihkan ke bahasa sasaran, sedangkan struktur kalimat bahasa sumber tidak perlu dipertahankan. Dalam menerjemahkan Al-Qur’an misalnya, Jassin berpendapat: “Apa yang dikatakan dalam bahasa Arab dengan kalimat aktif misalnya, bisa saja lebih enak dalam bentuk pasif dalam bahasa Indonesia, atau sebaliknya.”

Tentang pilihan kata pun Jassin tidak terlalu kaku atau terlalu terikat kepada bahasa sumber. Contoh ini dapat kita lihat dalam terjemahan Max Haveelar. “Sebisa-bisanya,” begitu Jassin, “saya mempergunakan bahasa Indonesia percakapan dengan kata-kata yang diambil dari dialek Jakarta, sebab Multatuli mempunyai gaya yang paling tepat dapat dinyatakan dengan bahasa pergaulan biasa.”

Hal yang mirip berlaku untuk terjemahan Al-Qur’an. “Saya banyak mempergunakan kata-kata yang berasal dari bahasa daerah atau dialek, bahkan dari bahasa semenanjung,”

Dan kesemuanya itu dilakukan oleh Jassin dengan penuh kesadaran, “demi padanan yang tepat, atau demi pertimbangan keindahan bunyi, irama, dan pengertian.”

***

Sebagai penerjemah dengan sikap, cara, dan visi tadi, Jassin ternyata banyak menerima acungan jempol.

Mh. Rustandi Kartakusuma misalnya, menjuluki Jassin sebagai ‘penerjemah yang baik.”

Hadiah Martinus Nijhoff yang disebut pada awal bab  ini adalah penghargaan atas jerih payah Jassin dalam menerjemahkan. Juri pemberi hadiah itu memuji Jassin sebagai telah “memberikan sebuah buku dalam bahasa Indonesia yang baik dibaca, dalam bahasa yang sekarang hidup, dengan mengalihkan suasana secara otentik dan dengan menyampaikan kepada kita pesan pengarang secara murni.” Dalam sebuah surat kepada Kasim Mansur, Jassin mengomentari penghargaan ini demikian: “Ini satu kehormatan yang besar yang tidak pernah saya impikan akan saya terima begitu jauh dari tanah air.”

Dalam kaitannya dengan terjemahan Al-Qur’anu’l-Karim Bacaan Mulia,Hamka mengatakan: “Maka dengan usaha Dr. H.B. Jassin menulis terjemahan Al-Qur’an, dia telah sampai pada batas yang dia sendiri tidak dapat mundur lagi buat turut memperkuat perkembangan penyebaran Islam di tanah air kita bersama-sama dengan teman-temannya yang lain.”

***

Sekalipun banyak menerima pujian dan penghargaan dari pelbagai pihak, namun Jassin tetaplah Jassin: seorang yang rendah hati. Dalam hubungan terjemah-menerjemahkan ini misalnya, Jassin tidak pernah lupa pada Armijn Pane. “Armijn Pane mendidik saya antara lain untuk menerjemahkan dengan baik,” demikian pengakuan Jassin.

Diambil dari Buku: HB Jassin Paus Sastra Indonesia, karya Pamusuk Eneste

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to HB Jassin Penerjemah yang Baik

  1. Pingback: H.B Jassin Penyelamat Sastra Indonesia (Melawan Plagiatisme) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>