HB Jassin Redaktur Abadi (1)

Hampir separuh dari usia HB Jassin telah dia gunakan untuk meredakturi pelbagai majalah di Indonesia, sebagaimana akan kita lihat berikut ini.

Jassin sudah mulai berkecimpung di bidang majalah sejak tahun 1940, ketika ia menjadi sekretaris majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh S. Takdir Alisjahbana. Tahun 1942 hingga tahun 1945 Jassin menjadi redaktur majalah Pandji Pustaka. Majalah ini mati tahun 1945. Sebagai gantinya muncul majala Panca Raya dan Jassin pun ikut meredakturinya dari tahun 1945 sampai tahun 1947. Jassin pun ikut menjadi redaktur hingga majalah ini mati tahun 1966.

Tahun 50an adalah masa subur majalah kebudayaan (tercakup di dalamnya: majalah sastra dan majalah seni) di Indonesia. Pada dekade ini, Jassin menjadi redaktur sejumlah majalah, di antaranya: Zenith (1951-54), Bahasa dan Budaya (1952-63), Kisah (1953-56), dan Seni (1955).

Tahun 60-an, Jassin duduk sebagai redaktur beberapa majalah. Tahun 1961, Jassin menjadi redaktur (merangkap penanggung jawab dan pemimpin redaksi) majalah Sastra. Akan tetapi, karena serangan dari kelompok Lekra, majalah ini berhenti terbit pada tahun 1964, bersamaan dengan dilarangnya Manifes Kebudayaan oleh Bung Karno (8 Mei 1964). Sastra terbit kembali tahun 1967, namun hanya bertahan hingga tahun 1969.

Bulan Juli 1966, sejumlah pengarang, seniman, dan budayawan menerbitkan sebuah majalah yang bernama Horison. Bersama-sama dengan Mochtar Lubis, Taufiq Ismail, Zaini, Soe Hok Djin (sekarang bernama Arif Budiman), dan D.S Moeljanto. HB Jassin duduk sebagai redakturnya. Dan hingga kini, Jassin masih tetap menjadi redaktur Horison (1987).

Selain menjadi redaktur majalah Sastra dan Horison, tahun 60-an Jassin masih meredakturi majalah Medan Ilmu Pengetahuan dan Buku Kita.

Tahun 1975 (di samping sebagai redaktur Horison) Jassin duduk dalam redaksi majalah Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

***

Pada garis besarnya, tugas Jassin sebagai redaktur mencakup beberapa hal: (1) menolak karangan, (2) menyetujui atau meng-acc karangan, (3) mengusulkan agar sesuatu karangan diperbaiki atau direvisi, dan (4) memberi nasihat dalam karang-mengarang, terutama bagi para pemula.

Pekerjaan yang tidak mengenakkan bagi seorang redaktur adalah menolak karangan yang belum memenuhi syarat. Jassin pun pastilah tidak luput dari hal ini. Namun ada satu keistimewaan Jassin. Dalam menolak pelbagai karangan yang belum memenuhi syarat, Jassin selalu menyertakan atau menyebutkan alasan penolakan, sebagaimana kita baca dalam surat-surat Jassin.

Ketika menolak karangan M. Husseyn Umar misalnya, Jassin menulis: “Sayang terpaksa karangan saudara dikembalikan lagi bersama ini. Percakapan dilakukan selama berak tidak terasa sebagai suatu kemestian. Percakapan-percakapan tidak memberikan suatu gambaran jiwa dan pengalaman penderitaan yang menulang sumsum. Tapi hanya percakapan omong-omong saja. Saya rasa pengalaman pribadi mesti diperdalam dulu, baru bisa menulis tentang penderitaan kaum protelar ini lebih erschutternd. Tendens terlalu mau dikemukakan, tapi dengan cara yang tidak meyakinkan. Lagi pula gaya bahasa saudara sangat sembrono. Saudara masih terlalu jauh dari penghidupan untuk dapat memberikan sesuatu yang dialami dari tengah-tengah penghidupan.”

Alasan yang mirip dikemukakan Jassin kepada Tati Sulastri. “Dua cerita Saudara ‘Perhitungan’ dan ‘Sangga Buana’ nampaknya masih berupa romantik yang belum diuji pengalaman (…) Kekurangan karena Saudara saya kira terletak dalam ketiadaan observasi yang meresapi keadaan, keberanian menghadapi atau memecahkan persoalan secara kongkret dan konsekuen menghadapi akibat-akibatnya. Barulah akan tercapai pengungkapan yang matang.”

Penggunaan bahasa pun menjadi salah satu tolak ukur bagi Jassin untuk menilai karangan. “Sajak-sajak Saudara untuk Sastra belum ada yang memenuhi syarat,” tulis Jassin kepada Asmas Tatang Amara. “Kekurangan yang paling besar ialah penggunaan kiasan-kiasan yang tidak jalan, hingga sukar menangkap pikiran dan gambaran yang terkandung di dalamnya. Padahal maksud penyair menggunakan kiasan ialah supaya gambaran lebih hidup dan isi yang mau diungkapkan cepat bisa tertangkap. Tanpa memperhatikan ini dan tanpa pengertian ini, sajak Saudara akan senantiasa gagal.”

Dan di atas segalanya itu, agaknya kesungguhan pengarang amat penting di mata Jassin. “Sajak-sajak yang Saudara kirimkan memang barulah hasil main-main dan coba-coba tanpa dasar pemikiran yang sungguh-sungguh,” demikian Jassin kepada seorang pendatang baru. Dan sajak-sajak atau cerpen-cerpen yang tidak sungguh-sungguh, pastilah ditolak oleh Jassin.

Diambil dari Buku: HB Jassin Paus Sastra Indonesia oleh Pamusuk Eneste.

Berlanjut ke HB Jassin Redaktur Abadi (2)

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>