HB Jassin Redaktur Abadi (2)

Merupakan Lanjutan dari HB Jassin Redaktur Abadi (1)

Dalam membacai karangan yang masuk ke meja redaksi, Jassin adalah seorang pencari. Jassin akan sedih dan kesal jika yang dia cari tidak ditemukannya. Sebaliknya, Jassin akan ikut senang bila diantara tumpukan karangan yang masuk terselip sebutir mutiara. “Dari empat sajak yang saudara kirim, saya dengan senang hati akan dapat memuat dua daripadanya dalam Mimbar Indonesia”, tulis Jassin kepada Sirullah Kaelani. Tidak hanya itu, Jassin tidak segan-segan memberikan pujian kepada karangan yang bagus (menurut ukuran Jassin tentu saja). Demikianlah Jassin memberitahu Bur Rasuanto bahwa cerpennya akan dimuat: “Cerita ‘Pertunjukan’ sangat baik, kejadiannya mencengangkan, idenya menarik. Sebagai pembuka tahun baru baik dimuat dalam Sastra bulan Januari tahun depan.”

Meskipun demikian dalam hal “nilai sastra” –boleh dikatakan- Jassin tidaklah terlalu ketat. Hal ini terbukti pada sebuah cerpen Satyagraha Hoerip. “Meskipun cerita ‘Pengarang’ agak lemah dipandang dari sudut psikologi dan moral, cerita itu telah saya loloskan untuk menunggu giliran dimuat dalam Sastra, karena pelukisannya yang cukup baik. Tapi pelukisan saja tidak cukup, bukan? Orang pun mengharapkan lebih dari itu. Saya pun menilainya tidak lebih dari satu angka enam yang kecil, dengan harapan Saudara akan menulis cerita yang lebih baik di masa depan. Jadi dengan pertimbangan padagogis sebenarnya.”

Di pihak lain, Jassin pun bisa entusias kepada pengarang tertenu, sebagaimana terjadi pada Rendra. “Kirimlah lagi yang lain,” kata Jassin kepada Rendra, “juga cerita-cerita.”

***

Dalam mempertimbangkan sebuah karangan (baik sajak maupun cerpen), kadang-kadang Jassin tidak menolak mentah-mentah, melainkan masih memberi kesempatan kepada pengarangnya untuk memperbaiki atau merevisinya. Cerpen “Empat Belas Tahun” karangan Boejoeng Saleh misalnya, tidak disetujui Jassin. Kemudian Jassin mengembalikannya disertai pertanyaan: “Bisakah diperbaiki?”

Terhadap sebuah sajak Sirullah Kaelani, Jassin pun pernah mengusul demikian: “’Dukacarita Mama Tercinta’ mengandung keharuan yang dalam dan kiasan-kiasan yang bagus, tapi sebagai keseluruhan rusak oleh seruan pada ‘Mama’. Dengan menghilangkan nama dan seruan itu, sajak akan terangkat ke tingkat universal saya kira, dan akan lebih padat.”

Sajak Sjamsul Arifin pun pernah mengalami hal serupa tadi. “Sungguh sayang sekali saja ini dirusakkan oleh kiasan yang membingungkan demikian. Bisakah diperbaiki? Mengenai ritme, pengungkapan suasana, dan ide, saya rasa sudah bagus,” kata Jassin. Dan setelah Sjamsul Arifin memperbaikinya, Jassin menulis kepada pengarangnya begini: “Sajak Saudra ‘Datanglah Ia’ saya rasa berhasil sesuda diperbaiki. (..) ‘Datanglah Ia’ saya rasa cukup baik untuk Mimbar Indonesia.

Akan tetapi, tidak selamanya karangan yang masuk bisa diperbaiki atau direvisi. Dan jika menghadapi karangan seperti ini, Jassin tidak akan sungkan-sungkan mengatakan kepada pengarangnya: “Karangan Saudara masih jauh di bawah nilai untuk bisa dimuat…”

Diambil dari buku HB Jassin Paus Sastra Indonesia oleh Pamusuk Eneste

Bersambung ke HB Jassin Redaktur Abadi (3)

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>