HB Jassin Redaktur Abadi (3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari HB Jassin Redaktur Abadi (2)

Kadang-kadang, Jassin pun meluangkan waktu untuk memberikan nasihat kepada para pemula. Kepada Sjaf K. Harly misalnya, Jassin mengatakan, “kiranya Saudara masih memerlukan latihan yang banyak jika hendak mencapai kemajuan dalam karang-mengarang. Saya anjurkan supaya Saudara memperhatikan karangan-karangan yang baik yang ditulis oleh pengarang-pengarang yang telah berhasil dan memperhatikan pula pembahasan-pembahasan mengenai karangan mereka itu dengan teliti.”

Nasihat yang mirip pernah diterima Abdul Bari. “Saudara bacailah buku-buku kesusastraan yang dianggap telah memenuhi syarat dan pembicaraan-pembicaraan tentang kesusastraan,” begitu Jassin. “Pikirkan dan endapkan, laksanakan dalam penciptaan sendiri, jangan lupa dasarkan atas pengalaman pribadi pula.”

Kadang kala, dalam memberi nasihat, Jassin merasa perlu menyebutkan pengarang dan karya yang patut dibaca. “Mulailah membaca sajak-sajak Chairil Anwar, Asrul Sani, Toto Sudarto, Bachtiar, Dodong, Djiwapradja, Sitor Situmorang, Rendra, dan lain-lain”, demikian surat Jassin kepada Ny. Dewi Rais Abin. “Untuk melihat contoh-contoh perkembangan itu sejak masuknya Jepang telah saya susun dua bunga rampai yang diterbitkan Balai Pustaka, yaitu: Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang dan Gema Tanah Air. Tentang beberapa petunjuk untuk pengarang, Saudara bacalah Tifa Penyair dan Daerahnya… Selanjutnya untuk mengikuti tulisan-tulisan, cerita pendek dan sajak yang bernilai dan pembahasan-pembahasan mengenai kesusastraan, Saudara berlanggananlah Mimbar Indonesia…”

***

Sebagai redaktur, bukan tidak pernah Jassin menerima kecaman atas karangan yang dimuat atau di-acc­—nya. Pada suatu kesempatan misalnya, Yunus Mukri Adi mengecam sajak-sajak Trisno Sumardjo dan Ajip Rosidi yang dimuat oleh Jassin.

Jassin menjawab kecaman itu demikian: “Kami memuat sajak-sajak Trisno Sumardjo karena menurut pertimbangan kami ada segi-segi yang positif, terutama dalam isi. Sebagai seorang senima kreatif – disamping menyajak dia juga melukis – dalam sajaknya ‘Catatan Tahun 1960’ Sumardjo mengajak para seniman bertekun dilapangannya sendiri untuk mempertahankan nilai-nilai. Dalam seruannya ‘Kepada Warga Sejati’ dia ajak patriot sejati menumpas anasir-anasir destruktif yang berebutan kursi, supaya kita jangan jatuh ke tangan pihak ketiga, musuh-musuh yang menunggu saat kejatuhan kita untuk memetik keuntungan bagi dirinya sendiri.”

Sedangkan tentang sajak-sajak Ajip Rosidi, Jassin mengatakan: “Mengenai sajak-sajak Ajip Rosidi, sepanjang pengetahuan kami, ada yang baik dan ada juga yang jelek. Tidak semua sajak yang dikirimkannya akan kami muat begitu saja dan tidak mustahil bahwa kami kembalikan apa yang menurut ukuran kami tidak baik.”

Kata-kata terakhir ini mengisyaratkan bahwa Jassin tidak menilai seseorang dari namanya, melainkan dari karyanya. “Sebelum seseorang menjadi ternama dia tidak bernama,” kata Jassin kepada Syahril Latif. “Makanya dia jadi ternama semata-mata karena kemampuannya, bukan karena orang lain. Kalau karya Sitor Situmorang dan Toto Sudarto Bachtir pernah dimuat dalam Mimbar Indonesia, bukan atas pertimbangan keharuman nama mereka, tapi semata-mata atas pertimbangan kekuatan sajak mereka. Bahkan saya mempunyai kebiasaan, biarpun orang ternama, kalau karangan yang dikirimnya kepada saya menurut pertimbangan saya tidak baik, tentulah saya tolak. Sebab saya tahu bahwa seseorang pengarang yang baik, membuat juga karangan-karangan yang kurang baik, karena itu perlu senantiasa berhati-hati, jangan terbeo-beo.”

Dengan mengatakan begitu Jassin ingin mengatakan agar para pemula tidak segan-segan mengirimkan karangan kepadanya. “Maka janganlah saudara kuatir,” sambung Jassin, “Saudara belum punya nama. Kalau karangan saudara memang kualitasnya baik, tentu akan kami muat dengan senang hati.”

Agaknya, sikap inilah yang menjadi pegangan atau patokan Jassin menilai karangan, dalam kedudukannya sebagai redaktur sekian banyak majalah, mulai dari Panji Pustaka hingga Horison. Jassin tidak melihat nama, melainkan karya! Bukan nama, melainkan kualitas!

***

Sebagai redaktur pelbagai majalah, mau tidak mau, Jassin mempunyai banyak kenalan, terutama dari kalangan pengarang maupun calon pengarang. Mungkin inilah salah satu keuntungan Jassin. Namun di balik itu, dalam kedudukan sebagai redaktur pula, Jassin sering menerima kecaman, caci maki, bahkan umpatan.

Dan jangan lupa, justru karena menjadi redaktur (baca: penanggung jawab) majalah yakni majalah Sastra, Jassin pun terpaksa berurusan dengan pengadilan. Sebabnya: Majalah Sastra yang dipimpin Jassin memuat “Langit Makin Mendung” karangan Kipanjikusmin dalam edisi Agustus 1968. Cerpen ini dinilai menghina golongan dan agama tertenu (dalam hal ini: islam). Karena Jassin tidak mau menghadapkan Kipanjikusmin (nama samaran) ke pengadilan, maka Jassin-lah yang harus maju. Keputusan hakim: Jassin dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Diambil dari buku HB Jassin Paus Sastra Indonesia karangan Pamusuk Eneste.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>