Hening Malam

Hening malam seakan terpecah, saat suaramu mungilmu menyelinap masuk ke dalam mimpiku

Hening malam seakan terpinggirkan, saat indahnya tanganmu menyentuh pipiku

Membuatnya merona kemerahan, terkembang dalam rajutan bahagia, terkulai dalam balutan sayang

Hening malam pun menyerah, saat kau ungkapkan perasaanmu padaku, dalam suara yang masih mungil, tak berubah satu apapun,

Dalam pelarian kita, dalam pencarian kita, dalam kesendirian kita,

Kau selalu tersenyum, di balik topeng manis buatanmu, menyembunyikann keanggunan wajah yang berada dibaliknya

Keangkuhan malam terabaikan, gelapnya tak terasa, dan sunyinya terusaikan,semua karena eloknya…

Eloknya cinta kita, yang terpantulkan cahayanya oleh bulan purnama, bulan penuh kebahagiaan,

Hening malam terus mengendap, berharap akan mampu memisahkan kuatnya rasa ini,

Rasa yang dulu sempat terabaikan, terpenjara dalam gelapnya benci, tertutup dalam pekatnya dunia, dunia yang kita ciptakan

Awan malam bergumpal, memusat, dan pergi lagi, meninggalkan ribuan bintang bersinar diangkasa,

Entahlah, mungkin hanya ratusan bintang, toh, otak kita tak akan sanggup menghitungnya, hanya menikmati keindahannya…

Keindahan itu, keheningan itu, romantika itu, untuk sesaat menjadi milik kita,

Untuk sesaat…

Yogykarta, 4 Juni 2011

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>