Kandas

Kandas

Kandas

Malam Minggu, malam yang kutunggu-tunggu. Malam yang cerah berhias lampu-lampu kendaraan nan megah. Malam kencan dengan sang pujaan hati.
Setelah melewatkan rutinitas yang membosankan -mandi, keramas, dan menggosok gigi-, aku segera bersiap-siap. Jam tanganku menunjukkan angka delapan. Kurapikan kemeja dan celana jeans sembari mengencangkan ikat pinggang. Bergaya necis, dan tidak lupa mengecek saldo lewat SMS banking. Jangan sampai kehabisan uang, supaya tidak malu di depan kekasih. Jangan sampai saat makan di luar, si dia yang bayar. Bisa malu, kan?
Selain di malam Minggu, aku memang jarang mandi. Setiap berangkat kerja, aku hanya mencuci muka dan menggosok gigi, dengan sedikit deodoran agar badan wangi. Hanya di malam ini. Ya, hanya di malam inilah, aku tidak menjadi diriku sendiri. Kulewatkan waktu Ba’da Isya hanya demi sebuah urusan yang sifatnya fana. Urusan asmara. Apa boleh buat, pada malam seperti ini, urusan cinta lebih diutamakan. “Maafkan aku, ya, Tuhan.”
Beruntung cuaca malam ini sangat cerah. Tak ada mendung, apalagi suara guntur. Kunyalakan sepeda motorku seraya melaju dengan santai, menyusuri jalan yang ramai. Menempuh perjalanan yang tak lebih dari tiga puluh menit menuju rumah kekasihku.
Ria namanya. Tubuhnya langsing dan tinggi semampai, dengan rambut sebahu yang sering diikat. Gaya bicaranya menggoda, membuatku tertarik setengah mati. Kulit hitam manisnya melengkapi penampilan fisiknya yang nyaris sempurna, meskipun ia sedikit tomboy.
Sambil melihat kiri-kanan, kurogoh saku celana, mencoba meraih telepon genggam yang tersembunyi di sana. Kutekan nomor tujuan dengan mata yang waspada. Jangan sampai menabrak anjing, nanti kena denda. Dasar sial, sebelum berangkat, aku lupa meneleponnya. Dalam hati aku berharap, semoga dia tidak ke mana-mana.
“Dek Ria, kamu lagi di rumah, kan?” SMS terkirim.
Tak ada jawaban. Hatiku cemas. Jangan-jangan, dia sedang tidak ada di rumah. Waduh, jangan sampai dia kelayapan di jalan. Bisa hancur dunia percintaan! Lagipula, ini sudah malam keseratus aku ke rumahnya. Masa, sih, tak diterima juga? Dasar perempuan! Maunya apa, sih? Susah sekali dibujuk.
Malam Minggu memang memberikan bermacam-macam kesenangan. Karena, konon katanya, hanya di malam inilah birahi semakin menjadi-jadi. Tempat hiburan malam berjejer di sana-sini, lengkap dengan wanita-wanita murahan yang siap menghibur om-om berkumis tebal, berperut gendut yang rindu belaian istri. Tapi, apa mau dikata, usia sudah separuh baya.
Sejak lama, malam Minggu memang selalu penuh sesak dengan aneka jenis pasangan kekasih yang membawa kebahagiaan, juga kepedihan. Karena, di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Tak jarang di malam Minggu, ada pasangan yang baru meresmikan hubungan, ada pula yang mengucapkan kata perpisahan. Sudah tak terhitung jumlah perempuan yang dengan rela melepaskan keperawanannya. Kasihan. Kesucian, kok, digadaikan? Demi apa? Demi cinta? Sampah!
Tak mengherankan, jika di tempat pembuangan sampah, alat kontrasepsi berserakan di mana-mana. Penjualan kondom jadi laku keras. Ya, mau bagaimana lagi? Manusia, kan, banyak yang bejat.
Tapi, aku tak seperti itu. Karena di malam ini, aku sekadar berusaha menanggalkan kesepianku, daripada berhemat dan merayakan kerinduan ini di rumah saja. Mengenang jejak-jejak perasaan yang entah kapan akan jadi kenyataan.
Sejak dulu, aku memang sudah menaruh hati pada Ria, meskipun dia tak suka. Aku akan terus mencoba. Namanya juga usaha. Cinta itu butuh perjuangan. Apalah arti harapan, jika hanya menjadi asa? Tak beralasan dan tak juga diperhitungkan. Bagiku, ini bukan lagi soal urusan dompet tebal, tapi kesetiaan. Kesetiaan yang dipupuk sepanjang jalan dan di sepanjang tahun yang menyisakan rasa penasaran. Rasa ini harus kupastikan. Harus!
Selang tiga puluh menit perjalanan, kini aku telah berada di halaman depan rumahnya. Kuparkir sepeda motor di seberang jalan, merapikan rambutku yang berantakan, kemudian bergegas ke pintu depan. Kuatur langkahku sembari menarik napas dalam-dalam, mengetuk pintu dengan irama yang pelan. Kusapukan selembar tisu basah ke arah wajahku, yang masih tampak awut-awutan. Ia tak juga keluar. Setan! Dia sedang pergi atau sedang bersantai di kamar? Jangan bilang sedang bersama selingkuhan. Sungguh, tak akan kuikhlaskan!
Lebih baik, aku bersabar saja dulu, siapa tahu Ria masih berdandan. Toh, gerimis yang tiba-tiba turun tidak terlalu menantang. Siapa tahu, dia mau diajak keluar. Waktu kutelepon, orang tuanya juga masih di luar, sedang berada di acara selamatan. Katanya, sunatan. Tapi, kok, kemalaman? Wah, ini namanya kesempatan dalam kesempitan. Ya, hitung-hitung mumpung cuaca dingin. Kembali kuketuk pintu. Dadaku semakin memburu. Ia tak juga menghampiriku, dan aku hanya bisa terpaku di balik pintu, terdiam dan membisu.
Tak berapa lama, suara langkah kaki pun terdengar, berderap, terseret-seret, dan seolah terburu-buru. Perlahan pintu terbuka, dan kusaksikan sesosok pria asing yang menyambutku dengan tatapan ragu. Bukan saudara laki-lakinya, bukan pula kakak iparnya.
“Ada perlu apa, Mas?” tanyanya. Bicaranya tinggi. Agak dipaksakan dan kurang sopan.
“Saya mencari Ria,” kujelaskan maksudku dengan tergagap.
“Ria sudah tidur!” Ia membentak. “Anda ini siapa? Ada perlu apa dengan istri saya?”
Setan alas! Sejak kapan dia menikah? Kok, tidak ada undangannya? Atau, jangan-jangan hamil di luar nikah? Kurang ajar! Setan! Setan! Jadi malu aku dibuatnya. Mau ditaruh di mana muka ini?
Dengan rasa masygul beserta hati yang porak-poranda, kusalami tangannya. Kuremas-remas dengan erat, seolah ingin kupatahkan lalu memekik sekuat tenaga; “Aku pacarnya, Anjing! Di mana dia? Suruh dia keluar, sekarang!”
Seketika suasana terasa hening. Ria tak juga keluar. Sorot mata pria itu semakin lama semakin tajam, seolah mengancam. Aku sudah tahu, bahwa dalam beberapa detik saja, sebuah tinju mengepal akan segera mendarat di pipiku. Bukan ucapan selamat datang, dan bukan pula ciuman sayang. “Dasar perempuan sialan!”
Selama ini, ternyata aku cuma dijadikan selingkuhan. Dimanfaatkan sebagai pengisi hidupnya yang kesepian. Miskin belaian. Pantas saja telepon dariku jarang diangkatnya. SMS juga tidak pernah dibalas. Instagram-ku di-unfollow, pertemanan di Facebook juga sudah lama dihapus.
Malam Mingguku kali ini benar-benar terasa membosankan. Malam yang hanya diisi dengan sumpah-serapah. Sialan! Dianggapnya, aku ini laki-laki macam apa? Sangat disayangkan, bukan? Cinta tulus begini, kok, disepelekan? Malah mencari laki-laki pengangguran. Begitulah informasi yang kuterima kemudian.
Dasar perempuan, di mana-mana semuanya sama. Bisanya hanya mengikuti perasaan, tak peduli logika. Tega sekali membuat aku penasaran, tapi tak dijadikan pilihan.Ya, sudahlah! Kurasa, aku hanya lelah. Lebih baik, aku buru-buru pulang. Toh, kekasihku yang lain masih menunggu di rumahnya. Mungkin saja, dia sedang menungguku di dalam kamar, dengan pose menantang sembari berpantun,
“Malam Minggu, malam yang panjang. Menunggu kekasih yang tak kunjung datang.”

-Selesai-

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: