Kata Bentukan yang tidak Tepat

Kali ini saya ingin membahas penggunaan kata yang salah bentukannya, kesalahan yang mungkin tidak disadari oleh pemakainya karena seringnya bentuk itu muncul sebagai bentukan salah kaprah. Perhatikan kalimat berikut:

  1. Pasien itu haruslah dibaringkan dalam posisi terlentang.

Bentuk terlentang dalam kalimat di atas tidak tepat. Melihat bentuk itu Anda mungkin menyangka bahwa kata itu dibentuk dari bentuk dasar lentang yang diberi awalan ter-. Padahal tidak demikian halnya. Jika Anda buka Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta akan Anda temukan entri lentang sebagai berikut:

Lentang I, terlentang – telentang

Artinya, bentuk dasar lentang kita jumpai dipakai orang dalam bentuk terlentang. Kemudian dari bentuk ini diberikan anak panah menunjuk kata telentang (artinya, lihat telentang). Itu berarti bahwa bentuk terlentang bukanlah bentuk baku. Bentuk bakunya ialah telentang yang kalau diteliti lebih jauh, bentuk itu bukanlah bentuk dasar melainkan bentuk kata dengan sisipan –el-. Bentuk dasarnya tentang diberi sisipan –el- menjadi telentang. Di sini jelas bagi Anda bahwa bentuk terlentang suatu bentuk salah kaprah. Bentuk lawannya telungkup, juga kata bentukan dengan bentuk dasar tungkup yang diberi sisipan –el-.

Perhatikan pemakaiannya dalam kalimat-kalimat berikut:

-Anak itu jatuh terlentang. (wajah menghadap ke atas)

-Dia dari tadi tidur menelungkup. (bagian depan tubuh menghadap ke lantai)

-Sesudah perkara itu ditelentang-telungkupkan, diambillah suatu keputusan. (ditimbang masak-masak dengan meninjaunya dari segala segi)

Dalam sebuah tulisan dalam sebuah majalah, saya temukan kalimat sebagai berikut:

  1. Akan tetapi suami saya akhirnya tidak dapat menghalangi keinginan saya untuk turut berpetualang  ke sana.

Bentuk berpetualang dalam kalimat di atas tidak tepat. Bentuk dasar kata bentukan itu ialah tualang dan bentuk kata yang sesuai dengan maksud kalimat di atas seharusnya bertualang.

Bertualang dapat berarti: 1) mengembara ke mana-mana tak tentu tujuan; juga diartikan mengembara dengan maksud mencari pengalaman yang hebat-hebat (seperti dalam kalimat di atas); 2) melakukan pekerjaan secara tidak jujur, menyeleweng dalam pekerjaan misalnya. Orang yang melakukan pekerjaan itu disebut petualang.

Oleh karena itu, bentuk berpetualang dalam kalimat di atas tidak tepat.

Kata memperingati dan memperingatkan sering dikacaukan orang pemakaiannya, padahal kedua bentukan itu mengandung arti yang berbeda. Di samping kedua bentuk itu, ada juga bentuk mengingatkan yang mengandung arti yang lain lagi.

Dalam salah satu surat kabar Ibu kota ditulis “… ia diperingati oleh wasit karena bermain kasar”. Jelas bahwa bentuk diperingati salah. Seharusnya dikatakan diperingatkan atau diberi peringatan oleh wasit. Kata memperingati kini dipakai dalam arti ‘merayakan dalam arti selalu ingat akan …, tidak melupakannya’. Misalnya, memperingati hari ulang tahun seorang pahlawan yang berjasa kepada tanah air, yaitu memperingati suatu peristiwa bersejarah.

Salah satu bentuk kata yang masih banyak salah digunakan orang dewasa ini adalah mengetrapkan dan pengetrapan. Bentuk dasarnya ialah terap dan bukan trap. Dalam KUBI susunan Poerwadarminta, tidak Anda temukan entri trap. Yang ada hanyalah terap. Kalau bentuk dasarnya terap, maka bentukan me-kan menjadi menerapkan dan hal, hasil cara menerapkan ialah penerapan.

Mudah-mudahan Anda tidak lagi menggunakan bentuk-bentuk yang salah karena kini Anda sudah mengetahui mana bentuk yang tepat dan mana yang salah, serta tahu pula mengapa bentuk itu salah.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, karya J.S. Badudu.

This entry was posted in Bahasa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>