Kata Ulang dan Masalahnya

Kita akan meninjau kata ulang dengan beberapa masalah yang berhubungan dengan kata ulang itu.

Kata ulang menurut bentuknya ada beberapa macam:

  1. Kata ulang dengan mengulang sebuah morfem: kuda-kuda, sakit-sakit, berapa-berapa, perubahan-perubahan.
  2. Kata ulang berimbuhan: berjalan-jalan, gigi-geligi, anak-anakan.
  3. Kata ulang yang mengalami perubahan bunyi: bolak-balik, serta-merta, serba-serbi.
  4. Kata ulang dwipurwa: lelaki, tetamu, leluhur, tetanaman.

Yang menjadi masalah ialah cara menulisnya. Dalam buku pedoman EYD, dikatakan bahwa kata ulang ditulis lengkap, maksudnya tidak ditulis dengan menggunakan angka 2 seperti menurut ejaan Soewandi. Jadi, dalam penulisan resmi kita tuliskan kata ulang itu seperti contoh di atas. Jangan menulis kata ulang: ­ber-jalan2, anak2an, rumah2, dan sebagainya. Penulisan seperti itu hanya dibolehkan untuk keperluan sendiri, misalnya membuat catatan kuliah. Atau bila kita harus menulis cepat, misalnya bila kita menulis notula.

Masalah kedua yang perlu diperhatikan juga ialah bahwa kata yang diulang itu haruslah selalu dihubungkan dengan garis tanda hubung. Jangan menulis kata ulang seperti ini: rumah rumah, berjalan jalan.

Masalah lain yang sering ditanyakan oleh orang juga ialah bagaimana cara menuliskan kata ulang kata majemuk atau kata gabung. Apakah kata majemuk atau kata gabung itu diulang seluruhnya atau hanya sebagian? Pada umumnya, hanya kata pertama yang diulang apabila kata pertama itu benda. Kata kedua yang memberi keterangan kepada kata pertama itu tidak diulang karena keterangan itu sama saja kedudukannya baik menerangkan benda tunggal ataupun jamak.

Misalnya, rumah sakit, rumah makan, rumah baru bila diulang, menjad rumah-rumah sakit, rumah-rumah makan, rumah-rumah baru. Hal ini akan mempermudah kita mengulang kata berketerangan yang merupakan sebuah frase yang panjang. Misalnya, kereta api cepat malam jika akan kita ulang seluruhnya akan menjadi panjang sekali, sedangkan bila kita ulang menjadi kereta-kereta api cepat malam makna jamak yang akita kemukakan sudah terungkapkan.

Kecuali bila bentuk majemuk atau bentuk gabung sudah merupakan sebuah istilah dan mengandung makna yang padu, maka pengulangannya dapat seluruh bentuk gabung itu. Misalnya, segitiga-segitiga sama sisi. Kata segitiga itu pun dituliskan serangkai karena sudah dianggap senyawa.

Masalah lain yang ditanyakan orang juga ialah bagaimana kita menulis kata ulang berawalan meng-; mengambil-ambil, atau mengambil-ngambil; mengulur-ulur atau mengulur-ngulur?

Dalam hal seperti itu, jangan dikacaukan tulisan dan ucapan atau lafal. Karena bentuk dasarnya ambil dan ulur,bentuk ulangnya ditulis mengambil-ambil dan mengulur-ulur. Berbeda halnya dengan ulang berawalan meng- yang bentuk dasarnya berfonem awal /k/. Fonem awal /k/ itu luluh pada bunyi ng sehingga mengacau-ngacaukan tidak dituliskan mengkacau-kacaukan; mengumpul-ngumpulkan tidak ditulis mengkumpul-kumpulkan.

Dalam bahasa Indonesia yang kita gunakan dewasa ini, ada bentuk ulang yang terdesak oleh bentuk dengan dengan akhiran yaitu kata ulang kata bilangan. Bentuk beribu-ribu, berjuta-juta walaupun masih juga dipakai orang, disaingi oleh bentuk ribuan, jutaan.

-          Beribu-ribu orang yang mati di Tanah Suci ada musim haji tahun 1981 ini.

-          Ribuan orang yang mati di Tanah Suci pada musim haji tahun 1981 ini.

Masalah yang lain lagi ialah bahwa kata benda yang didahului oleh kata-kata yang menyatakan jamak tidak usah lagi diulang karena dengan demikian pengertian jamaknya menjadi dua kali. Kata-kata pendahulu yang dimaksud: segala, semua, banyak, beberapa, para.

Bentuk yang betul ialah segala perbuatannya, semua orang, banyak negara, beberapa pendapat, para menteri, bukan segala perbuatan-perbuatannya, semua orang-orang, banyak negara-negara, beberapa pendapat-pendapat, para menteri-menteri.

Diambil dari Buku Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar oleh J.S. Badudu

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Kata Ulang dan Masalahnya

  1. safri naldi says:

    bagaimana jika kata ulang dituliskan seperti contoh di bawah ini ;

    berlarilari
    harihari
    ke manamana

    dan bagaimana ketika kata ulang tersebut dijadikan sebagai alasan ber-licentia poetica dalam penulisan sebuah karya tulis, seperti puisi, prosa dll?

    • Pengembara Mimpi says:

      Pada prinsipnya aturan penulisan kata ulang yang disampaikan di atas peruntukannya adalah sebagai standar penulisan dari kacamata bahasa. Namun, ketika kita mengambil kacamata sastra, maka pada dasarnya penulis memiliki hak tersendiri untuk menggunakan gaya bahasa seperti yang disukai. Hanya saja, memang yang lebih diutamakan adalah penulisan kata ulang sesuai EYD.

  2. Elmha Sampewai says:

    Dimana bisa mendapatkan buku ini ? apakah ada di perpustakaan daerah masing-masing atau dimana ?

    • Pengembara Mimpi says:

      Saudara Elmha, buku ini merupakan buku lama yang mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Mungkin saudara bisa mencarinya di tempat penjualan buku bekas yang ada di kota saudara. :)

  3. Elmha Sampewai says:

    Dimana bisa mendapatkan buku ini ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>