Kematian si Pendongeng

Wajah si pendongeng itu kaku. Bibirnya menutup, tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Kata-kata yang dulu banyak membangkitkan imaji para pendengarnya. Mulut itu kini sudah tak berdaya.

Dalam kematiannya, tak terlihat orang-orang yang dulu kerap bersamanya. Orang-orang yang dulu dengan senang hati menatapnya saat berdiri di depan. Orang-orang yang dulu mengangguk mantap, setiap kali si pendongeng bertanya dengan nada lantang. Si Pendongeng itu kini sendiri, teronggok pasrah di atas tanah tak bertuan.

Orang-orang bukannya tidak mengetahui akan kematian si Pendongeng. Dia adalah idola di desa ini. Bahkan, bagi sebagian orang, dia adalah Tuhan. Kata-katanya laksana wahyu, ceritanya laksana konfirmasi sejarah, dan perintahnya, laksana titah sang Tuhan itu sendiri.

Mungkin, itulah masalahnya. Orang-orang terlalu takut pada si Pendongeng. Mereka takut, bila mereka menyentuh jasad si Pendongeng, mereka akan dikutuk. Entah muncul darimana kepercayaan itu, semua sepakat, bahwa jasad si Pendongeng harus dibiarkan. Biarkan Tuhan menemukan sendiri jalannya. Para manusia lemah seperti kita, hanya akan menjadi pengganggu. Begitu kira-kira gumaman para penduduk Desa.

***

“Mau sampai kapan mayatnya kita diamkan seperti Pak?” Tanya Darto, pemimpin pemuda Desa yang sejak awal tidak percaya dengan anggapan bahwa si Pendongeng adalah Tuhan. “Mayatnya semakin lama semakin bau, kita harus segera menyingkirkannya. Mau dikubur kek, dibakar kek, dilarung ke laut kek, terserah! Yang penting mayatnya harus segera disingkirkan dari Desa. Itu sangat mengganggu!”

Kepala Desa yang diajak bicara oleh Darto diam saja. Di dalam perkumpulan para pemuka Desa seperti ini, dia sama sekali tidak menyangka, justru Darto, anak muda itu yang berani dengan lantang menentang keputusan rapat Desa sebulan yang lalu. “Kamu itu tidak paham juga ya. Kita membiarkan jasad-Nya itu tetap berada di tempatnya, semua demi kebaikan Desa kita. Jangan sampai kita membuat-Nya murka karena kenaifan kita. Kamu masih terlalu muda untuk mengerti!” Bentak Kepala Desa. Bagaimanapun juga, dia terpilih sebagai kepala Desa, bukannya tanpa alasan. Dia adalah orang yang paling tegas di Desa. Bahkan Darto yang lebih kekar dan berotot pun, hanya mampu menunduk lemah saat mendengar gertakan dahsyat dari si Kepala Desa itu.

***

Si Pendongeng tidak dianggap Tuhan secara tiba-tiba. Ada banyak proses yang membuat si Pendongeng dianggap sebagai ikon utama di Desa. Selain karena kata-katanya yang kuat dan menggungah semangat, juga karena perjuangannya untuk Desa yang tidak bisa disepelekan.

Dia memang hanya bisa mendongeng, namun lewat dongeng dan kepemimpinannya lah, dia berhasil membuat Desa ini menjadi Desa yang maju.

Dulu, di awal kedatangannya, dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seorang anak muda yang bahkan tidak tahu siapa nenek moyang yang paling terkenal di Desanya. Yang dia tahu hanyalah, cerita tentang ibunya yang pelacur. Wanita adalah satu-satunya objek yang membuat dia tertarik.

Dia pun jatuh cinta pada Saras, wanita kesayangan kepala Desa saat itu. Cintanya diarahkan pada hal yang positif. Demi mendapatkan hati Saras, si Pendongeng mempelajari sejarah dan asal muasal Desanya.

Dia bertanya kesana-kemari tanpa rasa lelah. Setiap malam dia berkunjung ke rumah orang-orang tua di Desa, hanya untuk sekedar mendengarkan cerita mereka. Cerita datar yang nantinya akan dijadikan sebuah maha karya oleh si Pendongeng.

Akhirnya, jadilah ia sebagai orang yang paling mengetahui sejarah di Desanya. Dia adalah yang paling memahami daerahnya, orang-orang disekitarnya, dan tentu saja potensinya.

Akhirnya, dengan pengetahuan itu, si Pendongeng berhasil mendapatkan hati Saras. Dia mempersuntingnya dengan mahar seekor sapi yang dibesarkannya sendiri. Mereka menikah dan bahagia. Seharusnya, kisah kepahlawanan si Pendongeng berakhir di sana.

Namun, takdir membawanya pada jalan yang lain.

Si Pendongeng yang mengetahui hampir semua cerita di masa lalu desanya, menjadi seorang yang tidak puas dengan keadaan desanya. Dia merasa, desa yang tandus ini seharusnya dapat berkembang lagi.

Akhirnya, muncullah kisah heroik si Pendongeng. Dia bersama para murid-muridnya yang waktu itu masih sedikit, membuat revolusi di bidang pertanian. Dia memberikan cara lama bertani yang sudah dilupakan oleh petani masa kini. Dia bangkitkan lagi semangat bertani. Hingga akhirnya, jadilah si Pendongeng sebagai pembangkit pertanian di Desanya.

Desa ini kini sudah menjadi Desa yang subur. Namun, si Pendongeng tidak puas.

Dia banyak bercerita tentang apa saja yang seharusnya dapat diraih oleh desanya. Dan orang-orang yang mendengarkan ceritanya pun terkesima. Semua orang tergerak untuk membangun Desa ini menjadi semakin maju.

Si Pendongeng semakin terobsesi dengan tujuannya untuk Desa ini. Pun begitu, dia tetap menolak untuk menjadi kepala Desa. Dia tidak suka dengan tanggung jawab yang tidak perlu. Dia memilih untuk menjadi seorang penggerak daripada seorang atasan.

Obsesinya terus berkembang, hingga dia semakin tidak mempedulikan Saras, pujaan hatinya yang dulu merupakan pusat dari kehidupannya. Akhirnya, demi menghilangkan rasa bersalahnya karena terus-terusan tidak memedulikan Saras, si Pendongeng memutuskan untuk membunuh Saras dengan cara dikorbankan. Ya, Saras pada akhirnya hanya menjadi mahar bagi pernikahan si Pendongeng dan pengkultusannya.

Orang-orang bukannya takut dengan tindakan si Pendongeng, mereka justru semakin mengelu-elukan si Pendongeng. Mereka menganggap si Pendongeng adalah Messiah yang mengorbankan orang tercintanya untuk urusan yang lebih penting. Sekarang, si Pendongeng adalah Yang Maha Benar.

***

“Persetan dengan pendapat orang-orang Desa! Aku harus segera berbuat sesuatu! Semakin lama bangkai itu berada di atas tanah Desa ini, semakin banyak kesialan yang akan terjadi!” Darto marah-marah sendiri kepada Marni, istrinya. Dia memang sudah memendam kekesalan sejak pulang dari balai desa tadi. Dia merasa warga Desa ini sudah kehilangan akal sehatnya.

“Memangnya kesialan apa yang sudah terjadi selama ini Mas? Bukankah Desa ini baik-baik saja dengan adanya bangkai-Nya? Justru kalau Mas berbuat yang tidak-tidak, aku takut akan terjadi hal yang mengerikan bagi Desa ini.” Marni mencoba menasehati.

Sebuah perkataan yang membuat Darto kaget setengah mati. Dia melihat keseriusan dari ucapan Marni barusan. Dan hal itu membuat Darto sadar, bahwa Marni sudah masuk ke dalam golongan yang hilang akal sehatnya.

Ini harus segera dihentikan. Bisik Darto dalam hati.

Malamnya, Darto memutuskan untuk menyingkirkan mayat si Pendongeng yang sudah tidak utuh lagi. Dia mempersiapkan segalanya dan berangkat dini hari. Tidak akan ada orang yang melihatnya melakukan hal itu.

***

“AAAAAAAHHH!!!” Darto menjerit sekencang-kencangnya ketika melihat vagina dari Marni. Vagina Marni mengeluarkan set-set busuk yang menjijikkan. Darto ketakutan. Bayangan kenikmatan yang dinantikannya datang malam ini, berubah menjadi bencana yang mengerikan baginya.

Namun, setelah dia melihat lebih dekat lagi, dia sadar bahwa set-set busuk itu bukan keluar dari kelamin Marni. Mereka justru masuk ke dalamnya. Dan saat dia melihat ke arah selangkangannya…

Jogja, 23 Oktober 2013

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>