Kenangan Bodoh di Bangku Taman

Cinta pertama selalu meninggalkan kesan yang dalam. Sebuah kalimat yang entah kenapa selalu membekas di dalam kepala Sam. Setelah menjalani kisah cinta pertama yang melelahkan (dan juga menyenangkan), sampai sekarang Sam masih sering memikirkan cinta pertamanya, Trisna. Sebuah pikiran yang membuat Sam gamang, karena baginya, sulit membedakan antara cinta pertama dengan cinta monyet.

Pikiran gamangnya semakin terasa, ketika hari ini dia memutuskan untuk mengajak Trisna bertemu di sebuah Kafe di kota Solo yang baru saja buka. Kafe baru dirasa aman bagi Sam, karena tidak ada kenangan masa lalu yang akan terlibat di sini. Hanya ada dia, Trisna, dan obrolan dewasa yang jauh sekali dari cinta monyet.

Sam sudah duduk-duduk santai di kafe itu selama lima belas menit, namun dia tak merasa keberatan sama sekali. Dia memang sengaja datang setengah jam lebih awal. Bukan masalah besar, dia hanya tidak mau menghabiskan waktunya untuk gelundungan gelisah di kamar menunggu datangnya waktu yang dijanjikan.

Waktu memang sudah banyak berlalu sejak mereka terakhir bertemu, namun Sam mendapati kebiasaan yang masih selalu sama dari Trisna. Dia datang lima belas menit lebih awal, dengan penampilan yang menawan (seakan-akan Trisna sudah berdandan lebih dari satu jam). Sam melihat Trisna masuk ke kafe dengan gaya seorang wanita dewasa yang sudah banyak berubah dari terakhir mereka bertemu. Trisna mengenakan one piece dress berwarna biru muda cerah yang dipadukan dengan cardigan biru tua yang membuatnya terlihat santai. Selera berpakaian yang tak jauh beda dengan Sam, yang memilih menggunakan t-shirt casual dan jeans belel yang sudah dimilikinya sejak 3 tahun yang lalu. Pakaian mereka menegaskan, bahwa pertemuan ini benar-benar hanyalah pertemuan biasa antara dua orang kawan lama yang lama tidak bertemu.

“Halo, Sam,” sapa Trisna ramah sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Hai, Tris,” Sam pun bertingkah cool dengan membalas uluran tangan Trisna dan mempersilakannya duduk di kursi.

Segalanya tampak lancar, kecuali fakta bahwa begitu mereka sama-sama duduk dan saling memandang, mereka mulai bingung ingin mengobrolkan apa. Tidak ada basa-basi yang keluar, hanya tatapan canggung dari dua orang kawan lama yang dulu pernah menghabiskan seluruh masa-masa SMAnya sebagai pasangan kekasih.

***

Sam kecil berlarian di taman alun-alun sambil mengunyah permen karet kesayangannya. Dia sedang senang-senangnya hari ini. Kali ini, untuk pertama kalinya dia tahu cara membuat gelembung permen karet. Setelah dua bulan lebih berguru pada temannya, Noval, yang merupakan juara dalam kompetisi membuat gelembung terbanyak dan tercepat di kelasnya. Sekarang, Sam siap untuk menjadi juara baru, dia hanya perlu sedikit berlatih lebih keras.

“Ohh, jadi kamu ya yang sukanya mainan permen karet?” Tiba-tiba ada suara yang mengarah ke Sam. Namun Sam kecil pura-pura tidak mendengarnya.

“Hei!” Kali ini suara itu meninggi dan terasa lebih dekat. Baru sebentar Sam menoleh, dia sudah mendapati tangannya digenggam secara kasar oleh seorang cewek yang tangannya penuh ingus. Dan dalam hitungan detik, Sam kecil sudah ditarik menuju sebuah bangku taman yang terlihat bersih. Ya, hanya terlihat, karena pada kenyataannya, di bagian bawah bangku itu, terdapat banyak sekali permen karet basi yang ditempelkan di sana.

“Kalian anak laki-laki memang jorok banget! Sukanya naruh permen karet di mana-mana, sekarang bersihin!” teriak cewek itu kepada Sam kecil.

Kenapa ada cewek ingusan bilang aku jorok? Dia gak lihat ingusnya ya? Batin Sam kecil. Namun melihat kecantikan wajah si cewek itu dibalik ingusnya, Sam kecil tidak bisa apa-apa. Entah kenapa, dia mau-mau melakukan apa yang diperintahkan si cewek ingusan. Ah, dasar, Sam kecil sudah mulai dewasa rupanya.

Setelah bangku taman bersih, si cewek ingusan senyum-senyum sendiri. Dalam hatinya, dia tidak yakin anak cowok jorok inilah yang menaruh semua permen karet di situ, tapi dia senang juga, karena si cowok jorok itu mau-mau saja disuruh bersihin permen karet dari bangku.

“Trisna!” kata si cewek ingusan sambil mengulurkan tangan kanannya.

Sam kecil senang bukan kepayang, si cewek ingusan cantik mengajak dia kenalan! “Sam!” balas Sam kecil dengan penuh percaya diri.

Tangan mereka pun saling menggenggam. Itu adalah pertama kalinya tangan mereka saling menggenggam. Dan pada saat itu Sam langsung sadar, bahwa tangan Trisna yang penuh ingus sangat menjijikkan. Begitu juga dengan Trisna kecil, merasakan genggaman tangan Sam yang tidak kalah jorok, karena baru saja banyak menyentuh permen karet yang menjijikkan.

Seandainya hal ini terjadi pada orang dewasa, pasti mereka akan diam saja dan tetap memasang senyum palsu. Sayangnya, hal ini terjadi pada Sam kecil dan Trisna kecil yang baru saja menginjak kelas 2 SD.

“Ihh, tangan kamu jorok!” pekik Sam kecil pada Trisna.

“Yee, tangan kamu juga sama aja! Dasar cowok!” Trisna kecil tak mau kalah.

Dan itulah pertemuan pertama mereka, pertemuan yang mustahil terjadi tanpa adanya bangku taman yang penuh dengan permen karet.

Setelah itu, moral Sam dan Trisna kecil yang menggebu-gebu dan banyak terinspirasi oleh tokoh idolanya, macam Sailor Moon dan Jiban, membuat mereka banyak bertemu setiap pulang sekolah untuk membersihkan bangku taman alun-alun yang banyak permen karetnya.

Trisna kecil selalu menyalahkan Sam atas banyaknya permen karet itu, dan Sam kecil selalu diam saja. Entah kenapa, bagi Sam kecil, saat ini lomba membuat gelembung permen karet sudah tidak penting lagi, dia hanya senang menghabiskan waktu bersama Trisna. Meskipun itu berarti dia harus berpura-pura menjadi tersangka penempelan permen karet secara sembarangan.

Satu bulan sudah pertemuan itu terjadi. Kini di mata Sam, Trisna bukanlah sekedar cewek manis yang penuh ingus, tapi sudah menjelma menjadi sahabat yang menarik.Begitu juga bagi Trisna, Sam kecil sudah bukan cowok dekil yang senang mengunyah permen karet, tapi juga jagoan yang bisa diandalkannya untuk mengambil permen karet, hal paling menjijikkan baginya di dunia. Jauh lebih menjijikkan ketimbang ingus tikus yang baru saja menghabiskan satu potong keju basi.

“Ini adalah permen karet keseratus yang sudah kubersihkan semenjak kamu suruh,” ujar Sam sambil mengacungkan permen karet bekas yang akan dibuangnya. Membuat Trisna kecil merinding jijik.

“Hiiih, jijik banget, buruan dibuang gih!”

“Haha, iya, tapi sebagai gantinya, Trisna harus beliin Sam marimas ya? Sam haus nih!”

“Iya, tapi Sam juga harus cuci tangan dulu!”

Sam mendapatkan hadiah atas permen karet keseratusnya, dan sekarang untuk pertama kalinya Sam dan Trisna duduk bareng tanpa mikirin permen karet.

“Sam punya rumah?” Setelah selama sebulan menahan kata-kata ini, kali ini Trisna tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.

“Punya dong, rumah Sam gede, ada lapangan basketnya!” jawab Sam, bangga.

“Haha, kapan-kapan Trisna mau dong main ke rumah Sam!”

“Boleh, tapi Trisna harus menikah dulu sama Sam.”

“Kok gitu?” Trisna kecil menatap Sam. Bingung.

“Iya, soalnya kata Mama, Sam cuma boleh serumah sama cewek yang sudah nikah sama Sam. Kecuali kalau Trisna cowok, baru deh Trisna boleh main ke rumah Sam tanpa harus nikah dulu.”

“Oh gitu ya? Hehe. Yaudah yuk, nikah sekarang. Abis itu Trisna main ke rumah Sam. Trisna pengen tahu rumah Sam kayak gimana!”

“Emang Trisna tahu cara nikah gimana?”

Trisna kecil geleng-geleng kepala.

“Sam juga gak tahu.”

Lalu keduanya menunduk. Mereka baru sadar kalau mereka sama sekali gak tahu apa-apa soal menikah.

“Ah, Trisna ada ide!” Tiba-tiba Trisna melonjak girang.

“Apaan Tris?”

“Sekarang Trisna langsung main aja ke rumah Sam. Entar kalau udah sampai rumah terus ditanyain Mama, kita bilang aja kita sebenarnya mau nikah, tapi gak tahu caranya. Nah, entar kan pasti Mama Sam ngajarin kita buat nikah, terus abis itu Trisna bisa main lagi ke rumah Sam deh!”

Sam kecil berpikir sejenak, dan nampak setuju dengan ide dari Trisna itu.

“Yaudah, ayo Trisna ikut main ke rumah Sam!”

Satu bulan setelah pertemuan pertama mereka, dan mereka sudah bersiap-siap untuk menikah.

Sesampainya di rumah Sam, tak pernah sekalipun Mama menyinggung soal pernikahan, dan itu membuat Sam dan Trisna girang bukan main. Mereka menyimpulkan, bahwa Mama mengira mereka sudah menikah.

***

 “Kamu gak sedang mikirin kenangan kita di bangku taman itu kan?” Akhirnya Trisna berhasil juga membuka suara. Mengusir rasa canggung yang dari tadi menghinggapi keduanya.

“Haha, kok tahu aja sih?” Sam berkata tanpa berpikir. Mungkin keceplosan.

“Soalnya aku juga mikirin itu, haha!” Dan begitu pula dengan Trisna.

Pada akhirnya mereka sadar, bahwa itulah tujuan mereka bertemu di sini. Bukan untuk berbicara layaknya orang dewasa, tapi mengenang masa-masa kecil yang sekarang terasa lucu bila diingat.

“Aku masih tidak percaya bahwa kita berpikir kita sudah menikah waktu itu, bagaimana mungkin aku mau menikahi seorang wanita kecil yang ingusan? Haha!” Sam tertawa lebar, seperti baru saja mengeluarkan beban berat yang ada.

“Ya, seandainya aku tahu arti menikah waktu itu, aku juga tidak akan mau menikahi seorang lelaki dekil yang hobi mengunyah permen karet dan menempelkannya di sembarang bangku taman!” Trisna berpura-pura mendengus kesal.

“Hei, FYI aja ya, sebenarnya waktu itu aku tidak pernah sama sekali menempelkan permen karet di bangku taman, itu perbuatan orang lain, haha!”

“Sammm,”

“Kenapa?”

“Kenapa baru bilang sekarang? Kita sudah pacaran dari kelas 2 SMP sampai awal kuliah, dan baru sekarang kamu bilang kalau kamu bukan pelakunya?”

“Well, kukira kamu sudah tahu.”

“Hih, bagaimana aku bisa tahu? Kalau dipikir-pikir, selama kita pacaran, kita tidak pernah membicarakan pembicaraan masa kecil kita. Aneh gak tuh?”

“Bener, bener banget! Aku juga berpikiran hal yang sama, mengapa kita dulu tidak pernah membicarakan masa kecil kita?”

“Mungkin kita terlalu malu untuk membahasnya, karena kita di waktu kecil terlalu jorok?” Trisna mulai membuat hipotesis.

“Jiah, itu mah kamu aja keles. Kalau aku justru berpikir, mungkin kita terlalu ketakutan dengan fakta bahwa kita dulu pernah ‘menikah’ di waktu kecil.” Sam memberikan penekanan pada kata ‘menikah’ sambil mengangkat dua jarinya, seolah mengkutipnya.

“Yah, mungkin itu benar juga. Kita di masa remaja adalah kita yang ketakutan dengan segala hal yang berbau nikah. Kita berdua lebih senang membahas mau pergi ke mana pas malam minggu? Hehe.”

“Tepat sekali!” Sam membenarkan, sambil menyeruput hot chocolate favoritnya. “Bahkan, lebih dari itu, kita kadang berharap untuk membuat kenangan indah di masa sekolah itu,” lanjut Sam dengan mulut masih basah oleh Chocolate.

“Kok gitu?”

“Ya, simpel aja, kita pasti ingin membuat masa sekarang sebagai kenangan yang indah di masa depan, iya kan?”

“Yap, meskipun pada kenyataannya, kenangan indah ternyata tidak begitu menyenangkan untuk dikenang.” Trisna dan hipotesis barunya.

“Bener! Kenangan indah membuat kita sedih dan merindukan momen itu, tapi sebaliknya, kenangan bodoh membuat kita sama-sama tertawa saat mengingatnya. Seperti misalnya aku mengingat kejadian bodoh waktu dimarahi guru gara-gara sering telat waktu sekolah. Sekarang, saat mengingatnya, aku selalu tertawa.” Sam pun tidak mau kalah dengan hipotesisnya.

“Iyaaa, setuju!” Trisna mengangguk mantap.

Dalam perpisahan mereka, terdapat kesimpulan hidup yang sama akan kenangan. Keduanya bertatapan mantap. Tersipu dan sekaligus takjub melihat persamaan antara keduanya.

“Mungkin karena itu juga kita putus ketika kuliah ya, Sam?” Trisna mengucapkan kata yang disesalinya, dan dari tadi dihindari oleh Sam.

“Yah, bisa jadi.” Sam menurunkan nada suaranya. Semacam tanda bahwa dia tidak terlalu bersemangat dengan topik itu.

“Dan kalau dipikir-pikir, kita tidak pernah benar-benar membicarakan dengan serius mengapa kita putus ya, Sam?”

“Hadeh,” Sam menghela nafas.

“Kenapa?” Trisna bertanya kebingungan.

“Enggak sih, awalnya tadi aku berharap pertemuan kita akan biasa-biasa saja. Membicarakan basa-basi yang tidak penting. Aku bahkan sudah menyiapkan materi yang akan kita bicarakan kalau seandainya kita stuck. Tapi ketika sekarang kamu ada di depanku, rasanya memang sulit sekali ya untuk menghindari perbincangan tentang masa lalu?”

“Begitulah, mungkin masa lalu kita memang belum sepenuhnya selesai, Sam.” Trisna menunduk. Bingung dengan apa yang harus dilakukan.

“Jarak…” Sam bergumam dan membuat Trisna menatapnya penuh kebingungan. “Jaraklah yang membunuh cinta kita Tris, kita berdua tahu itu,” sambung Sam.

“Ya, aku juga berpikir itu adalah alasan yang logis waktu itu. Dari SMP sampai SMA kita selalu bersama. Dapat bertemu kapan pun kita mau. Dan ketika kuliah, kamu mendadak harus kuliah ke Bandung. Perihal jarak ini menjadi terasa menyesakkan…” Trisna menghela nafas, mencoba menahan tangisnya. “Tapi sekarang ketika kita sudah kembali berada di tempat yang dekat seperti ini, apakah jarak menjadi alasan yang logis?”

“Tentu tidak, tapi jarak telah menciptakan alasan baru lagi Tris, yaitu waktu. Ya, waktu dan keadaanlah musuh kita sekarang. Hampir mustahil bagi kita untuk melawannya.”

Keduanya tertunduk. Keheningan memasuki relung hati keduanya. Dalam beberapa menit, hanya suara orang-orang di sekitar yang terdengar, dengan pikiran mereka masing-masing yang tidak tahu ada di mana.

“Persiapan pernikahanmu bulan depan gimana? Udah beres semua?” Sam mencoba mengusir keheningan dengan pertanyaan yang paling dihindarinya.

“Eh? Udah siap kok. Aku dan mas Wicky sudah mengatur segalanya. Hanya tinggal beberapa detail lagi.”

“Oh,” Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Sam.

“Kalau istrimu gimana kabarnya? Aku masih merasa bersalah tidak bisa mendatangi pesta pernikahan kalian tahun lalu, hehe.” Sebuah tawa yang dipaksakan. Trisna tahu dirinya tidak benar-benar ingin tahu kabar dari istri Sam.

“Oh, maksudmu Kartika ya? Dia baik kok,” balas Sam. Datar.

“Oh.”

“Hanya saja,” Sam menundukkan kepala. “Hanya saja, sekarang kita sudah bercerai.”

“HAH?” Mendadak ada perasaan aneh di dada Trisna. Dia tidak tahu dia sedih atau senang mendengar kabar itu. “Kenapa gitu, Sam?”

“Entahlah, kita menikah karena dijodohkan. Dan aku sudah berusaha untuk mencintainya, namun semakin aku mencoba mencintainya, semakin aku teringat pada…” Mulut Sam tercekat, terasa ada keraguan di dalamnya. Sedang Trisna menahan nafas, bersiap untuk mendengar kata selanjutnya dari Sam. “…mu.”

Hening.

“Maksudmu?”

“Mungkin aku tidak pernah bisa benar-benar melupakanmu. Mungkin aku masih terlalu mencintaimu. Mungkin kamu dan segala kenanganmu adalah hal terbaik yang selalu kuharapkan. Mungkin… tidak, kali ini bukan sekedar mungkin lagi, tapi PASTI, aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. Membangun kenangan-kenangan bodoh bersamamu, untuk kita tertawakan bersama di hari tua nanti.” Kali ini Sam tidak lagi tertunduk. Dia mengatakannya dengan jelas, dengan tatapan mata yang yakin.

Sebaliknya, pernyataan dari Sam tadi telah membuat Trisna kehilangan kata-kata. Dia tidak tahu, apa yang sedang bergejolak dalam hatinya.

“Tapi tenang saja, mungkin setelah melihatmu berada di pelaminan, aku akan merasa lebih siap untuk hidup tanpa kamu.” Sam menyambung kata-katanya, tidak enak jika perkataannya menyinggung Trisna.

“Sam,”

“Ya?”

“Ketika kamu pertama kali kusuruh membersihkan permen karet di bangku taman, kenapa kamu tidak menolak dan mengatakan yang sebenarnya?”

“Hmm, aku tidak tahu, hanya saja aku merasa ingin ngobrol denganmu. Sejujurnya, aku sudah mengagumi dirimu semenjak kita pertama kali bertemu, hehe,” Selalu saja, setiap mengingat kejadian itu, Sam selalu tertawa kecil, bahkan di saat seperti ini.

“Sam,”

“Ya?”

“Menurutmu, pertemuan pertama itu kenangan indah atau kenangan bodoh?”

“Tentu saja kenangan bodoh, aku tidak bisa berhenti tertawa memikirkannya, hehe,”

“Sam,”

“Ya?”

“Mari kita sekali lagi membuat kenangan bodoh yang akan kita tertawakan di masa depan.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Menggagalkan pernikahan sempurnaku untuk kembali lagi padamu, kenangan bodohku…”

Jogja, 16 Juni 2014

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>