Kepala Berita yang Menyesatkan

Surat kabar sudah merupakan satu kebutuhan primer di dalam masyarakat modern. Apabila satu hari saja kita tidak membaca surat kabar, kita merasa seolah-olah ketinggalan, ketinggalan dalam mengikuti berita-berita, baik berita dalam negeri maupun berita dalam negeri. Surat kabar kita dewasa ini, terutama surat-surat kabar Ibu kota, kebanyakan terdiri atas dua belas halaman dengan isi yang beraneka ragam. Rasanya tidak mungkin kita membaca yang tertulis di dalamnya satu persatu secara teliti karena selain kita tidak punya waktu cukup untuk melakukannya, tidak semua yang dituliskan di dalam surat kabar itu menarik perhatian kita, apalagi bila hal-hal itu tidak bersangkut paut langsung dengan kepentingan kita. Di samping itu, ada orang yang berlangganan bukan hanya satu surat kabar, melainkan beberapa. Tentu saja ia tidak dapat membaca semua satu demi satu secara teliti.

Dalam hubungan inilah saya ingin berbicara kali ini. Karena waktu kita yang terbatas untuk membaca surat kabar (koran), biasanya mata kita langsung secara cepat membaca kepala-kepala berita yang tertulis dengna huruf yang besar. Yang menarik perhatian kita langsung kita baca. Tetapi sering kita tertipu oleh kepala berita itu karena yang tertulis di sana tidak sama maksudnya dengan isi berita di bawahnya. Memang menyusun bahasa untuk kepala berita memerlukan keahlian sendiri. Karena ditulis dengan huruf-huruf yang besar ukurannya, hendaklah kepala berita itu dibuat sesingkat-singkatnya. Harus pula sekali baca dapat menarik perhatian pembaca. Namun membuatnya singkat tidak berarti bahwa kita harus memperkosa aturan aturan atau kaidah bahasa secara sewenang-wenang. Dalam hal ini, kita tidak dapat bersemboyan “untuk dapat mencapai tujuan semua cara dihalalkan”. Bahasa merupakan alat komunikasi. Bila salah digunakan besar kemungkinannya komunkasi terganggu. Marilah saya tunjukan kepada Anda contoh sebuah kepala berita yang menyesatkan:Pinjaman $ 200 juta Diberikan Indonesia

Orang yang dapat memahami susunan bahasa Indonesia yang baik sudah pasti akan segera mengambil kesimpulan bahwa yang dinyatakan oleh kepala berita di atas ialah “bahwa pinjaman sebesar dua ratus juta dolar telah diberikan oleh Pemerintah Indonesia”. Kepada siapa diberikan atau siapa yang menerima pinjaman itu belum diketahui karena tercakup dalam berita singkat di atas. Tetapi setelah Anda baca beberan berita sebenarnya yang tertulis di bawah kepala berita itu. Anda mungkin akan kecewa karena ternyata yang tertulis itu justru yang sebaliknya daripada yang dinyatakan dalam kepala berita itu. Bukan Indonesia yang memberikan pinjaman, malahan Indonesialah yang beroleh pinjaman dari luar negeri. Mengapa saya katakan anda kecewa? Karena setelah Anda membaca kepala berita itu, Anda sebagai orang Indonesia langsung merasa bangga. Ha, sekarang kita memberikan pinjaman kepada negara lain, tidak lagi seperti biasa kita yang meminjam.

Apa yang salah di dalam kepala berita itu? Redaksi telah menghilangkan sepatah kata penting yang seharusnya tidak boleh dihilangkan yaitu kata depan kepada antara kata diberikan dan Indonesia sepatah kata yang di dalam kalimat tidak boleh dihilangkan karena akan mengganggu makna. Yang dapat dihilangkan hanyalah kata depan oleh yang terletak di belakang kata kerja berawalan di- sekaligus di depan keterangan pelaku.

Itulah sedikit analisa mengenai Kepala berita yang menyesatkan.

Semoga bermanfaat!

Disadur dari bukuĀ Inilah Bahasa Indonesia yang Benar oleh J.S. Badudu diterbitkan tahun 1983 oleh PT Gramedia, Jakarta.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>