Kisah Klasik Brazil: Pelaku Bisnis dan Nelayan

Paulo Coelho, seorang sastrawan Internasional yang cukup berpengaruh di abad ini, menuliskan sebuah kisah menarik di dalam blognya. Tulisan itu beliau tulis dalam bahasa Inggris di sini. Coelho menuliskan sebuah kisah klasik Brazil yang cukup dalam maknanya. Dan sekarang, sastranesia mencoba memberikan parafrasenya dalam bahasa Indonesia kepada sahabat sastra sekalian.

Dan inilah, kisah klasik Brazil: pelaku bisnis dan nelayan.

Seorang pelaku bisnis sedang duduk santai di pinggir pantai di sebuah desa Brazil. Saat kemudian dia melihat seorang nelayan pulang menaiki perahu kecil pulang dari laut dengan beberapa ikan hasil tangkapan yang cukup besar.

Si pelaku bisnis yang terkesan dengan kegiatan nelayan itupun menghampirinya. Dia melihat ikan hasil tangkapan itu beberapa saat. Lalu dia melontarkan pertanyaan untuk si nelayan, “Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menangkap ikan-ikan itu?”

“Oh, hanya beberapa saat.” Balas si nelayan.

“Lalu mengapa kamu tidak mencari ikan-ikan itu lebih banyak, dan berada lebih lama di laut?” Tanya si pelaku bisnis lagi.

“Hasil ini sudah cukup untuk memberi makan seluruh keluargaku.” Si nelayan menjawab.

Pelaku bisnis tampak semakin penasaran dengan si nelayan. Diapun bertanya lagi, “Lalu apa yang kamu lakukan setelah menangkap ikan-ikan ini?”

“Hmm, aku biasa bangun di pagi hari, pergi mencari ikan sebentar, lalu pulang, bermain bersama anak-anakku. Pada siang harinya, aku beristirahat dan makan bersama istri dan keluargaku. Lalu di malam hari, aku berkumpul bersama kawan-kawan di desa, bermain musik, minum, dan bersenang-senang.”

Mendengar jawaban dari nelayan itu, si pelaku bisnis merasa ada yang salah pada nelayan. Sehingga dia memutuskan untuk memberikan saran kepada si nelayan.

“Saya seorang Profesor di bidang manajemen. Mulai dari sekarang, kamu sebaiknya menghabiskan lebih banyak waktu di laut, mencari ikan sebanyak-banyaknya, dan menabung pendapatan dari itu. Setelah itu, lama-lama kamu akan mampu membeli kapal yang lebih besar, sehingga mampu menangkap lebih banyak ikan dan menambah penghasilan. Lalu kamu akan mampu membeli beberapa kapal tambahan untuk kemudian membuatmu mampu membuat perusahaanmu sendiri, membuat gudang bahan makanan, dan bahkan kamu bisa mendistribusikan barang jualanmu sendiri. Keuntunganmu akan meningkat, dan kamu bisa pindah ke Sao Paulo untuk semakin memantapkan bisnismu. Membangun kantor sendiri, dan bahkan membuat brand untuk perusahaanmu.”

Si nelayan melanjutkan, “Lalu?”

“Lalu kamu akan mampu hidup seperti raja di rumahmu sendiri. Bahkan kamu bisa mulai melempar saham ke pasaran dan menjadi semakin kaya!”

“Lalu?”

“Lalu kamu bisa mendapatkan pensiun. Kamu bisa bermain dengan anak-anakmu di pagi hari, beristirahat bersama istri di siang hari, dan di malam harinya, kamu dapat bersenang-senang dengan teman-temanmu, minum, bermain gitar, menyanyi, menari, dan berpesta setiap harinya!”

Nelayan merasa bingung, “Bukankah itu yang sedang kulakukan saat ini?”

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Kisah Klasik Brazil: Pelaku Bisnis dan Nelayan

  1. Saya juga suka dengan cerita ini.
    Tapi saya cerita ini dari buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” oleh Ajahn Brahm, pemuka Buddhisme.

    Jadi, aslinya ini karya Paolo Coelho ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>