Kumpulan Peribahasa Terkenal Indonesia (dan maknanya) Bagian 2

Artikel ini merupakan bagian dari seri kumpulan peribahasa terkenal Indonesia (dan maknanya)Karenanya, di dalam artikel ini anda akan menemukan berbagai peribahasa yang sering muncul di Indonesia, dan kadang-kadang, memiliki makna yang cukup dalam. Apa sajakah itu? Mari kita simak bersama.

Kalau kena tampar, biar dengan tangan yang bercincin

è Tidak masalah bila kena marah oleh orang yang tinggi jabatan atau bangsanya

Karam berdua, basah seorang

è Kesalahan yang dilakukan bersama, akibatnya hanya ditimpakan pada seorang saja.

Karena mulut badan binasa

è Menjadi celaka oleh tidak pandai menjaga perkataannya.

è Rahasia pribadi terbongkar oleh karena mulut sendiri.

Kemarau setahun dihapuskan hujan sehari

è Bahwa sebuah perbuatan-perbuatan baik seseorang yang berlangsung secara lama, bisa terhapuskan/dilupakan karena sebuah kesalahan atau perbuatan jahat kecil.

Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya

è Luput dari satu bahaya, jatuh kembali ke bahaya yang lain.

è Kesialan bertubi-tubi.

Lidah bercabang bagai biawak

è Orang yang tidak jujur

è Pengacara yang mengambil keuntungan dari dua belah pihak yang bersengketa.

Lidah tak bertulang

è Manusia sangat mudah untuk berbohong/mengumbar janji.

Luka di tangan karena pisau, luka di hati karena kata

è Berhati-hatilah dalam berkata-kata, karena dapat melukai perasaan orang lain.

Luka boleh sembuh, parutnya tinggal juga

è Permusuhan boleh hilang karena berdamai, namun hati yang disakiti sangat sukar mengobati/melupakannya.

Lain biduk, lain digalang

è Jawaban atau ikhtiar yang tak sesuai dengan maksud pertanyaan.

Lunak gigi daripada lidah

è Sangat lemah lembut; sangat merendahkan diri.

Lempar batu sembunyi tangan

è Orang yang tidak berani bertanggung jawab dengan perbuatannya.

Lain ladang belalang, lain lubuk lain ikannya

è Setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda.

è Satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain.

Musuh jangan dihadang, selisih jangan dicari

è Jangan sengaja mencari musuh, namun sebaliknya tidak perlu lari dari musuh

Musuh dalam selimut

è Di antara teman sendiri tanpa sepengetahuan kita ada yang sebenarnya menjadi musuh.

Sambil menyelam minum air

è Melakukan beberapa pekerjaan dalam sekali waktu.

Mencari jejak di air

è Melakukan pekerjaan yang sangat sukar, hampir sia-sia saja untuk dilakukan.

Menari di ladang orang

è Bersenang-senang dengan harta milik orang lain.

Menangguk di air keruh

è Memanfaatkan situasi/keadaan yang lagi kacau untuk mencari keuntungan pribadi.

Membasuh muka dengan air liur

è Berusaha memperbaiki kesalahan dengan perbuatan yang justru menambah kesalahan lagi.

Malu bertanya, sesat di jalan

è Segan bertanya berarti kita akan rugi sendiri karena persoalan yang dihadapi tidak ditemukan jalan keluarnya.

Menjilat air liur sendiri

è Menerima kembali sesuatu yang dahulu pernah ditolak.

Mati ikan karena umpan, mati saya karena budi

è Orang dapat saja terbujuk kata manis/rayuan hingga beroleh celaka.

Mati satu tumbuh seribu

è Jangan berputus asa, tetaplah berusaha sampai maksud dan tujuan tercapai.

Nasi sudah menjadi bubur

è Sudah terlanjur, tentang sesuatu perkataan, perbuatan atau pekerjaan yang tak dapat diulangi lagi atau diperbaiki lagi.

Nasi sama ditanak, kerak dimakan seorang

è Pekerjaan dilakukan bersama-sama, namun keuntungan hanya dinikmati oleh seorang saja.

Nasib sabut terapung, nasib batu tenggelam

è Kalau lagi nasib baik tentunya menang atau beruntung, kalau nasib jelek ya sial atau merugi.

Obat jauh penyakit hampir

è Keadaan yang dikatakan kepada wanita yang menanggung rindu karena suaminya berada di tempat yang jauh.

Ombak yang kecil jangan diabaikan

è Jangan memandang enteng atau meremehkan hal-hal yang kecil, karena sering menimbulkan bahaya atau kesukarang di belakang hari.

Orang karam di laut, awak karam di darat

è Beroleh celaka di tempat yang tidak semestinya; atau celaka oleh perbuatan keluarga sendiri.

Orang muda menanggung rindu, orang tua menanggung ragam

è Menjadi orang tua harus senantiasa sabar.

Padi ditanam tumbuh lalang

è Sial sekali, bernasib malang.

è Hasil yang diperoleh dari usaha tidak seperti yang diharapkan.

Pandai berminyak air

è Pandai mengatur dan menggunakan barang atau mematut pakaian, sehingga sesuatu yang tidak mahal tampak bagus padanya.

(Bersambung ke Kumpulan Peribahasa Terkenal Indonesia (dan maknanya) bagian 3)

This entry was posted in Sastra and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Kumpulan Peribahasa Terkenal Indonesia (dan maknanya) Bagian 2

  1. Pingback: Kumpulan Peribahasa Terkenal Indonesia (dan Maknanya) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>