Kumpulan Peribahasa Terkenal Indonesia (dan maknanya) Bagian 3

Sekali lagi, ini adalah bagian dari seri kumpulan peribahasa terkenal Indonesia (dan maknanya) yang terdiri dari bagian 1 dan bagian 2. Peribahasa di bawah melanjutkan beberapa peribahasa yang sudah kita tulis sebelumnya. Harapan kami, semoga anda dapat menemukan peribahasa yang anda cari dari 3 artikel tentang peribahasa kami.

Dan inilah lanjutan kumpulan peribahasa terkenal di Indonesia (dan maknanya):

Parang gabus menjadi parang besi

è Orang biasa/kecil menjadi orang yang berkuasa

Patah tumbuh hilang berganti

è Bila seorang pemimpin tiada/meninggal dunia pasti ada orang lain yang akan menggantikannya

Pecah menanti sebab, retak menanti belah

è Hubungan yang semakin renggang atau perselisihan yang semakin dalam, yang sebentar lagi akan akan putus hubungan/pecah perang.

Pikir itu pelita hati

è Orang yang menggunakan otaknya untuk berpikir akan selalu dapat mengatasi kesukaran yang dihadapinya

Pucuk dicinta ulam tiba

è Mendapatkan sesuatu yang lebih daripada apa yang diharapkan/dicita-citakan.

Sedia payung sebelum hujan

è Mengantisipasi masalah sebelum masalah tersebut itu terjadi. Terutama yang dimaksud adalah menabung dahulu selama bisa, atau selama hari muda. Nanti jika ada musibah sudah lebih mudah ditanggulangi.

Seperti pinang dibelah dua

è Dua orang atau dua hal yang sangat mirip satu sama lain. Bisa merujuk pada sepasang kembar.

Setajam-tajam pisau, masih lebih tajam lidah

è Ucapan komentar (atau fitnah) seseorang bisa lebih menyakitkan daripada sebuah benda tajam sekalipun. Ibaratnya, sebuah luka masih bisa sembuh, tetapi luka di hati sangat sulit sembuh.

Seperti telur diujung tanduk

è Suatu keadaan yang sangat berbahay, salah sedikit bisa celaka.

Sepandai-pandai tupai meloncat, jatuh juga

è Sepintar-pintarnya seseorang pada suatu hari pasti akan mengalami kegagalan juga.

è Tak ada orang yang sempurna.

Seperti anjing berebut tulang

è Orang yang memperebutkan harta/kedudukan dengan rakus, sehingga rasa kemanusiaannya sampai hilang.

Silap mata, pecah kepala

è Kalau tidak waspada maka bahaya akan selalu mengancam.

Siapa yang menabur angin, akan menuai badai

è Dia yang berbuat, dia pula yang terkena akibat.

Seperti ayam mengarang telur

è Dikatakan kepada perempuan yang elok rupanya dan bersikap mengajak-ajak.

Seperti bunga kembang setaman

è Pengantin yang dikelilingi oleh pagar ayu

Seperti cacing kepanasan

è Sangat resah gelisah, tidak tenang

Seperti harimau menyembunyikan kuku

è Orang yang tak mau menyombongkan kelebihannya (kepandaiannya, kekayaannya, dsb).

Seperti ikan di dalam air

è Merasa sangat senang sekali.

Seperti kerbau dicucuk hidungnya

è Menurut saja kehendak orang lain tanpa membantah karena bodoh atau karena tidak berdaya melawan.

Seperti meniup api di atas air

è Mengerjakan pekerjaan yang hampir tak ada harapan untuk selesai.

Seperti orang buta kehilangan tongkat

è Sangat bingung, kehilangan akal.

Setinggi-tinggi bola melambung, jatuhnya ke tanah jua

è Sejauh-jauhnya merantau, akhirnya kembali ke kampung halaman juga.

è Setinggi-tingginya pangkat/kedudukan bila sudah pensiun/berhenti kerja kembali jadi rakyat biasa.

Sejengkal jadi sehasta

è Perkara kecil dibesar-besarkan akhirnya jadi besar.

Takkan harimau makan anaknya

è Orang besar itu biasanya tidak akan mencelakakan keluarganya sendiri.

Tidur bertilam pasir

è Sangat miskin, tidak mempunyai rumah dan harta benda.

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi

è Lupa umur.

è Orang tua yang ingin meniru gaya hidup anak muda.

Tuak terbeli, tunjang hilang

è Mendapat kecelakaan.

è Beroleh kekecewaan.

Tercabut lidah mati

è Orang yang jahat tak akan lagi menghiraukan/tidak peduli dengan cemoohan orang lain.

Sakit menimpa, sesal terlambat

è Tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi.

Seayun bagai berbuai

è Seia berkata; Sepenanggungan sependeritaan; Senasib.

Padam menyala, tarik puntung

è Sesudah tidak berbahaya lagi baru mau mencampuri sesuatu perkara.

Pepat di luar, rancung di dalam

è Lahirnya seperti sahabat, tetapi batinnya musuh.

Pilin jaring hendak berisi

è Timbanglah sendiri karena setiap perbuatan orang itu ada maksudnya, ada yang bermaksud baik, ada juga yang bermaksud jahat.

Orang terpegang pada hulunya, kita terpegang pada matanya

è Dikatakan pada keadaan yang lebih lemah daripada keadaan musuh; berada pada kondisi yang tidak menguntungkan.

Mati takkan menyesal, luka takkan menyiuk

è Sudah berketetapan hati untuk melakukan pekerjaan tersebut, apapun yang terjadi di belakang hari tidak akan menyesal lagi.

Memagar kelapa condong

è Kita yang memelihara, orang lain yang memetik hasilnya.

è Yang mendapat nama bukan orang yang berjasa.

Masak di luar, mentah di dalam

è Kelihatan dari tampak luar seperti orang baik-baik, padahal kenyataannya tidak demikian.

Menaikkan air ke gurun

è Melakukan pekerjaan yang sukar sekali, seperti mengajari orang dungu.

Tidak ada rotan akar pun jadi

è Jika tidak ada barang yang baik/bagus, barang yang kurang baik pun dimanfaatkan.

Tong kosong nyaring bunyinya

è Orang yang banyak bicara biasanya bodoh.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>