Kumpulan Prosa Fathi Aidiya Farisa

Kumpulan Prosa Fathi Aidiya Farisa

Rumah untuk Pulang

“Nak, kapan kamu pulang pada Mama?”

Sudah cukup. Sudah cukup satu kalimat berakhir tanya itu membuat lisanku bungkam. Dan ketika lisanku bungkam tak sanggup menelurkan satu katapun, sudut mataku mulai terasa panas, dan berakhir meneteskan bulir air mata. Sungguh aku bersyukur pembicaraan kali ini dilakukan via telepon. Mama tak akan bisa melihat mata berairku yang dengan segenap kesanggupan kutahan sedemikian rupa agar tak tumpah menjadi tangis.

Aku menelan ludah, “Belum tau, Ma. Belum bisa dalam waktu dekat – sepertinya.” Kutambahkan satu kata di akhir dengan ragu-ragu.

Tapi ibu tetaplah ibu. Sehandal apapun menipu hamba, semahir apapun memburamkan kata, ibu selalu tahu bedanya antara nyata dan dusta. Tubuh yang kini telah nyaris lebih besar dari sosok yang melahirkannya ini pun dulu bermula dari rahimnya. Berawal dari darah dan dagingnya. Ia selalu memahami kebenaran di antara dusta yang kita cipta.

Bahkan mengerti pula saat suara hendak berubah wujud menjadi tangis, “Kamu menangis?”

Selesai sudah. Pertahanan yang kubangun bagai benteng kota Troya dua tahun terakhir runtuh berkat dua kata berujung tanya itu. Dua tahun terakhir yang kuhabiskan dengan membentuk kekuatan dalam diriku agar sanggup bertahan tanpa adanya kasih sayang keluarga kini tak berbekas, hanya dalam kurun waktu kurang dari lima menit. Suara sendunya bak sihir yang jauh lebih kuat dan perkasa dari semua prajurit di seluruh negeri. Hanya dalam waktu sesingkat itu, aku telah tahu kemana harus melangkah pulang.

Dia

Ini terlalu berat.

Pernahkah kau mengalami suatu perasaan dimana seolah punggungmu ditimpa ribuan batu? Atau mungkin kau bisa coba bayangkan jika dua tangan fanamu diminta menyangga beban ribuan kilogram.

Sebentar. Analogi itu rasanya terlalu rumit untuk otak manusia yang rapuh. Begini saja, bayangkan sebuah gelombang laut raksasa – atau sebut saja itu tsunami – melaju mendekat padamu, namun kakimu terasa lumpuh di saat yang amat tidak tepat, sehingga yang kau lakukan hanyalah menatap gelombang itu menghampirimu dengan bibir membulat dan tanpa kau sadari tercipta ekspresi melongo di wajahmu. Ah, rasanya tak ada yang sebanding mengerikannya dengan ini.

Ya, aku memang payah. Aku manusia paling payah sejagat raya. Berulang kali badai dengan seringai manisnya menghampiriku, jutaan kali aku harus  melalui lembah penuh duri, bertubi-tubi belati legam mengkilat tertancap tepat di jantungku, puluhan kali kakiku harus tersandung bebatuan cadas dan kejam hingga tiba di titik ini. Tapi tetap saja, aku masih payah. Terlalu payah dan lemah untuk menghadapi semua ini sendirian.

Lalu aku sadar inilah titik kedunguan terbesarku.

Aku selalu melalui semua ini sendirian. Tanpa pernah menyadari bahwa Ia dekat. Bahwa Dia selalu sedekat nadi. Bahkan aku tak perlu mencari, Dia-lah yang menghampiriku. Terkadang Ia sampai harus memanggilku berulang-ulang agar menoleh pada-Nya. Berteriak juga, mungkin. Saking tulinya dua makhluk yang menempel di kedua sisi kepalaku ini. Saking bebalnya otakku ini. Saking kerasnya hati ini, yang kubangun dinding tebal di sisi luarnya agar tak seorangpun bisa memasukinya. Kupikir, itu bentuk pertahanan diri agar tak mudah rapuh. Aku tak mengerti ketika yang terjadi adalah aku justru semakin tampak rapuh dengan menutup hati dengan bebatuan cadas itu.

Dan Dia membuatku mengerti.

Bahwa aku tak perlu menjadi setegar itu. Bahwa aku boleh menangis kapanpun aku mau. Bukan pada hamba sesama fana, namun dengan leluasa pada pundak-Nya yang seluas langit digabung samudera. Bahwa Dia selalu ada untukku, saat semua makhluk sampai yang terkecil mencibir padaku. Bahwa Dia selalu memahamiku melebihi siapapun di alam tak nyata ini.

Aku hanya perlu menangis, dan Dia mengerti. Selalu.

Gak kuliah lu?”

Kenapa wafer ini lembek sekali, sih? Sial. “Nggak.” Sungguh wafer yang menyebalkan. “Males gua.”

“Ck.” Dia mendecak. “Parah lu.”

Rasanya tidak satupun kejadian di hari ini yang berjalan dengan baik. “Alah sok iyes aja lu. Lu juga kupu-kupu, kan? Pake belagu segala.” Ujarku mencibir.

Dia tertawa, “At least, gua masih rajin masuk lah, coy.

 

 

Fathi Aidiya Farisa, seorang mahasiswa yang tersesat dan mencari jati diri melalui tulisan. Lahir 20 tahun silam di kota Malang yang dingin, dan dari tangan dinginnya banyak menghasilkan tulisan berbau sastra. Menulis adalah jiwa, katanya. 

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: