Kumpulan Puisi Chairil Anwar

Chairil Anwar. Siapa yang tak kenal dirinya? Sastra Indonesia tak akan pernah bisa menampik perannya yang begitu besar. Puisinya yang begitu kental dengan pesan sosial dan politik telah menjadi warna tersendiri yang akan selalu dibahas dalam pembelajaran sastra dalam berbagai zaman.

Chairil, meskipun meninggal di usia yang relatif muda, namun telah memenuhi janji pada lirik puisinya: Aku ingin hidup 1000 tahun lamanya.

AKU

Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih baik tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

 

Derai-Derai Cemara

Chairil Anwar

Cemara menderai sampai jauh

Terasa hari akan jadi malam

Ada beberapa dahan di tingkap merapuh

Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan

Sudah berapa waktu bukan kanak lagi

Tapi dulu memang ada suatu bahan

Yang bukan dasar perhitungan kini

Hdup hanya menunda kekalahan

Tambah terasing dari cinta sekolah rendah

Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

Sebelum pada akhirnya kita menyerah

 

 

Di Masjid

Chairil Anwar

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kamupun bermuka-muka

Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada

Segala daya memadamkannya

Bersimpah peludh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binasa membinasa

Satu menista lain gila

 

 

Diponegoro

Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali Tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

 

 

Karawang Bekasi

Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tdak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti

4-5 ribu jiwa

Kami Cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai-nilai tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,

Kemenangan dan harapan

Atau tdak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata

Kami bicara padamu dalam henng id malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

 

 

MAJU

Chairil Anwar

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti

Sudah itu mati

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Bnasa di atas ditindas

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang

 

 

Persetujuan dengan Bung Karno

Chairil Anwar

Ayo! Bung Karno kash tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tanggal 17 agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

 

 

Prajurit Jaga Malam

Chairil Anwar

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras

Bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian

Ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

 

 

Aku Berada Kembali

Chairil Anwar

Aku berada kembali. Banyak yang asing

Air mengalir tukar warna, kapal kapal, elang-elang

Serta mega yang tersadar pada khatulistiwa lain

Rasa laut telah berubah dan kupunya wajah

Juga disinari matahari lain

Hanya

Kelengangan tinggal tetap saja

Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan

Lebih lengang pula ketika berada antara

Yang mengharap dan yang melepas

Telinga kiri masih terpaling

Ditarik gelisah yang sebentar-sebentar

Seterang guruh

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>