Kumpulan Puisi Leonardo Marbun dan Farid Amasuba

Sahabat, selamat menikmati kumpulan puisi dari Leonardo Marbun dan Farid Amasuba ini.

Sajak Karya Farid Amasuba

MENJELANG MALAM

Senjaku tiba dengan sepotong jiwa
Hujan membingkainya pada langkit yang kelabu
rintiknya membajakan dedaunan yang kering
Lalu aku dan pelangi terpisah jauh, tak tahu ada dimana

Pelan-pelan malam mengintai dari batas waktu
Dengan diamnya,ia menjaring sepi mambalut pelan pada jiwa yang merindu
Sebelum membantai pada sepi yang menganga.
Runtuh……..
Tak ada cahaya di alam ini
Malam telah tiba.

CAHAYA

Malamku membatu lalu tak mau pergi
Tetesan air mata menyeka debu pada wadas nurani
Membasuh pelan berharap menjadi mata air
Mengalir pelan rintihan mengikis malam
Berharap cahaya terpancar dari butiran embun

Lilinku habis membakar diri
Cahayaku padam di terowongan malam
Aku tersekap sebelum subuh
Impianku pupus di tengah jalan
Luluh hati memohon peristiwa
Habis hari tak juga datang

SUBUH

Engkau tahu riak air akan tenang di kesunyiaan ini,
Tapi hatiku memberontak sebab kesunyiaan itu
Aku tahu engkau menenangkan jiwa
Tapi kamu badai di bola mataku

Kamu butiran jatuh di retaknya di kegersangan pipiku
inginku menangis hingga habisnya suara yang menggelegar
Lalu kamu terbantai pada kemarau yang menanti
Hingga aku tenang karena subuh telah tiba dan mentari bersandar di pelupuk mataku

Ledalero, 06 Februari 2017
Mahasiswa Ledalero
Tinggal di unit Gabriel

Sajak karya Leonardo Marbun

KEBENCIAN

Hati tidaklah dibalut kemurnian

Hati diantara ambang  cinta dan kebencian

Kebencian mengotori kehidupan

Kecintaan  berselubung kepentingan

Wajah kebencian ada dalam niat

Terpasang dari pikiran menjelma tindakan

 

Acap kebencian beralaskan doa  menyebut Tuhan

Kebencian musuh kemanusiaan sekaligus disukai

Manusia patut bersyukur pada kebencian

Benci kesombongan, keserakahan, kemunafikan

Tanpa benci manusia tak kenal cinta

Manusia bukan malaikat tapi terikat

Manusia melebur dalam kehidupan

Hati mencari pilihan cinta,benci,dan kepalsuan

Benci merindukan cinta dan harapan

 

Kebencian adalah senjata menyingkirkan manusia

Kecintaan menjadi barang mahal tanpa nilai

Kebencian di Ibu Kota menumpuk di dunia maya

Kehidupan terusik oleh  warna kulit dan agama

 

Kebencian senjata politik kekuasaan

Kata-katalembut tak berarti damai

Kata-kata kasar tak juga berarti benci

Cinta dan benci adalah sahabat kehidupan

Manusia memilih merawat cinta atau kebencian

 Leonardo Marbun:

Aktifis Komunitas Sajjana Sumatera Utara

Alumni Fisip Universitas Sumatera Utara

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>