Kumpulan Puisi Muhammad Fathurridho, Februari 2017

Sahabat, berikut adalah beberapa puisi kiriman Muhammad Fathurridho. Mari menikmatinya bersama secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Jangan lupa sesekali menengok ke samping, siapa tahu pujaan hati anda sudah datang.

Tujuh musim hujan lalu

 

Menelusup indah tiap jengkal suara alam.

Membisik ketenangan di telinga yang dalam.

Serta apa yang kupandangi kini tak mampu kuraih sepenuh hati.

Dulu.

Disungai ini, disegala batas kering sepi.

Hadir wajahmu bercermin di air yang bertepi.

Kita bersapa, berbincang tanpa nestapa.

Berbasah wajah dengan segala cipratan ria.

Menggaris namamu ditepi batu.

Memunculkan siluet rasa baru.

Kemudian tanpa yang kutahu.

Tujuh musim hujan kulalu, tanpa segala kabarmu.

Dimana dan bagaimana segalamu, ditiap nama yang kita panggil dulu.

Menjadi segelintir ditiap rasa yang menjadi air.

Jatuh dan mengukir melintasi pipi dengan bulir.

Menamakan pertemuan sudah berakhir.

————————————————————————

Muara

 

Bertemu adalah satu kejemuan dalam kata rindu yang sudah memuakkan.

Aku benci ketika dada yang berdegup mekakkan telinga dan hati yang gugup.

Beribu sunyi yang kumiliki ialah bukan tandingan gelisah perasaan ini.

Dalam jauh.

Aku menuntun do’a yg kuantar dalam lantun agar sampai ke altar.

Bergemuruh.

Layaknya rindu yang terkutuk dalam hati yang terus diketuk.

Menggedor tiap jengakal logika yang berselisih dengan rasa.

Berpacu dalam malam yang kau tinggal.

Aku sendiri dalam kecemasan resah tunggal.

Kau.

Menjarah tiap inci detak yang penuh dengan ngerti.

Serta pada peduli yang tidak mau pergi.

Seharusnya aku mengerti dalam hati yg selalu tak bisa menjadi.

Hanya inginku didepan mata indahmu ku ingin mekar.

Tapi terkadang membuat janji ini selalu ingkar.

Bagaimana aku mendekap jika hanya membuatmu tersekap.

Bagaimana aku mencium bilamana kau dapati bauku bukan harum.

Bagaimana aku menggenggammu jika tangan ini selalu menyakitimu.

Bagaimana aku mencarimu jika hadirku tak ada untukmu.

Bagaimana aku melangakah jika sejengkal saja aku selalu buat luka.

Bagaimana aku berlari sedang hati selalu terbayang perih.

Bagaimana aku bisa tidak nestapa jika hanya yang kau dapati luka.

Bagaimana aku tak gelisah jika kau alasan perasaanku berbanjir airmata.

Bagaimana?

Bagaimana?

Bagaimana?

Dalam kecemasan yang tak bermuara.

————————————————————————

Dalam lukamu

 

Malam ini kau tiada dan hadir memaksa.

Dalam segala ingat dan luka ku yang kau sayat sengaja.

Ya, sebaiknya pergimu jangan kembali.

Dalam kata dulu yang kau bilang cinta hanya menyisa perih.

Dijalan segala lampu kota dan kerlip indah wajahmu.

Kau tamparkan duri mawar diwajahku.

Kau siramkan seciprat raksa hingga pekat tak berasa.

Bergelut kopi malam disegala duka mendesak hilang.

Hujan dan gerimis dikenangan segala yang manis kehilangan.

Basah,

Basah, dan wajahmu begitu terasa.

Sakit,

Sakit, dan senyummu begitu pahit.

Ingat dan nanti akan ada waktu.

Dititik dimana purnama berhenti pukul tujuh.

Namamu berderet dengan duka serta luka bekasku.

Pasang wajahmu, dan taruh topeng dibibirmu.

Sebab waktu memaksamu, berkaca ditengah senyummu.

Dalam lukamu.

 

Nama : Muhammad Fathurridho

Tempat tanggal lahir : Mojokerto, 29 Desember 1996

Mahasiswa di Universitas islam negeri di surabaya.

Aktif menulis puisi. Menyukai dunia sastra.

Email : fathurridhomuhammad@gmail.com

 

This entry was posted in Puisi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>