Latihan Sultan Hamengku Buwono I di Masa Remaja (Bagian 1)

Artikel ini merupakan tulisan dari WS Rendra yang termaktub di dalam buku Mempertimbangkan Tradisi. Essay beliau ini mencoba membahas tentang masa muda Sultan Hamengku Buwono I yang cukup unik dan ikonik.

Sultan Hamengku Buwono I, sebelum menjadi raja bernama Pangeran Mangkubumi, dan di masa kanak-kanaknya bernama Raden Mas Sudjono. Ia adalah saudara Sunan Paku Buwono II dari lain ibu, dan putra dari Susuhunan Amangkurat IV. Sebagai pangeran ia mengabdi pada Sunan Paku Buwono II itu, di kerajaan Surakarta, sebelum pada akhirnya ia memberontak dan menang, sehingga menjadi raja Ngayogyakarto dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1755.

Syahdan diceritakan di dalam buku Cebolek, bahwa Sultan ini di masa mudanya, ketika ia masih tinggal di Surakarta, suka sekali berjalan kaki mengarungi hutan, menuju ke telaga-telaga, mengembara sepanjang pantai, mendaki bukit-bukit kapur di pantai selatan, dan yang paling sering ialah mendaki gunung Merapi. Dalam perjalanan itu ia tidak memakai pakaian yang sesuai dengan derajatnya, melainkan ia hanya memakai pakaian sehari-hari seorang santri. Maka, apabila ia berhenti di tengah-tengah keindahan alam, selalu, sambil menghisap keindahan, ia melakukan perenungan-perenungan. Inti dari perenungannya ialah sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana seisi alam ini). Di samping itu ia renungkan juga persoalan-persoalan pribadinya yang ruwet, yang gawat, yang sulit, dan yang menggelisahkan jiwanya. Tetapi apa pun juga persoalannya, selalu direnungkan dengan dasar penyadaran akan dari mana dan akan ke mana seisi alam ini.

Dalam perbandingan dengan kebiasaan-kebiasaan dewasa ini, perjalanannya memasuki hutan, menyusuri pantai, dan mendaki gunung itu agak lain sifat serta tujuannya dengan aktivitas yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pendaki gunung dan organisasi-organisasi pencinta alam. Dewasa ini para pencinta alam lebih menekankan pada tujuan-tujuan ilmiah, olahraga, dan hiburan yang sehat. Soe Hok-gie menganggap olahraga mendaki gunung juga sebagai latihan untuk menebalkan cinta pada tanah air.

Berbeda dengan itu, perjalanan Raden Mas Sudjono ke pantai, ke hutan, dan ke gunung, lebih bersifat religius: upacara untuk berkomunikasi dengan Kang Murbeng Jagat (Yang Menguasai Alam Semesta) melewati pendekatan para ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya di atas bumi. Dengan pakaian santri biasa, ia lebih bisa menghayati pergaulan yang spontan dengan rakyat di desa-desa. Dan dengan melakukan perjalanan ke luar kota ia lebih bsa menghayati pergaulan dengan pohon-pohon, rumputan, bintang-bintang, embun, margasatwa, dan isi alam yang lain. Pendekatan pada ciptaan-ciptaan Tuhan merupakan caranya untuk mendekati Tuhan sendiri. Dengan kata lain, perjalanannya ke alam itu merupakan kebaktian agama secara individual yang tak kalah pentingnya dengan kebaktian agama secara kolektif di masjid-masjid atau gereja-gereja.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>