Latihan Sultan Hamengku Buwono I di Masa Remaja (Bagian 2)

Artikel ini merupakan lanjutan dari Latihan Sultan Hamengku Buwono I di Masa Remaja bagian 1, yang juga adalah tulisan dari WS Rendra dan tercatat dalam buku Mempertimbangkan Tradisi.

Apabila orang mengira bahwa sikapnya pada alam itu disorong oleh romantisme yang menganggap kota itu jahat dan alam itu suci, saya tidak bisa melihat hubungannya. Menurut interpretasi saya, Raden Mas Sudjono bukannya menganggap alam itu suci, tetapi alam dianggap sebagai perumpamaan bagi dirinya di dalam ia merenungkan kedudukan dirinya di dalam hidup. Di samping itu, juga ia percaya bahwa Tuhan bisa didekati dengan melewati pendekatan pada ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya di atas bumi ini. Oleh karena itu, disiplin yang dipergunakan untuk berkomunikasi di dalam perjalanan serupa itu berbunyi: “Keutamaan manusia hidup ialah membahagiakan hati sesama makhluk, memuliakan sesama yang tumbuh, memperbanyak perbuatan baik, berlemah lembut dalam bahasa, bahasa yang penuh maksud baik, menggembirakan para pendengarnya…” (nukilah dari Babad Giyanti, pesan Raden Mas Sudjono kepada Ronggo Wirosetiko dan Demang Djojoroto).

Ternyata maksud baik, jiwa yang terbuka, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri, menjadi dasar dari disiplin komunikasinya. Inilah sebenarnya sikap dari jiwa yang sedang bercinta. Dengan kata lain, perjalanannya ke alam adalah perjalanan percintaan: dengan mencintai sesama ciptaan Tuhan di dalam semesta ini, maka akan meneruslah percintaan itu kepada Sang Pencipta sendiri. Inilah maksudnya yang utama dalam mendekati alam itu.

Adapun maksudnya mendekati rakyat desa dalam pakaian sehari-hari mereka bukan pula disebabkan sikap romantik yang menyangka bahwa “rakyat desa lebih suci dari rakyat kota”. Sebab yang utama ialah kemiskinan rakyat desa itu! Dalam upacara percintaan ini, ia menunjukan cintanya terutama pada golongan yang paling membutuhkan. Pada waktu itu orang desa adalah golongan yang terendah dan termiskin di dalam masyarakat. Dibutuhkan kemampuan mencinta yang besar untuk bisa rela mendekati orang-orang miskin ini. Mengidentifikasikan diri dengan para miskin merupakan ungkapan sikap memberikan diri kepada kemanusiaan. Sebuah takaran keikhlasan dari percintaannya kepada kemanusiaan! Itu juga berarti takaran intensitas percintaannya dengan Tuhan. Karena cinta seseorang kepada kemanusiaan adalah amal dari cintanya kepada Tuhan.

Perjalanan ke luar kota, menuju desa dan alam, juga mempunyai arti yang praktis: untuk mendapatkan suasana privat! Di kota suasana privat itu sudah tak didapatkan. Kecuali apabila orang masuk ke kamar studi. Maka, kamar studi Raden Mas Sudjono adalah alam dan desa. “Kamar studi” semacam itu lebih cocok bagi seseorang yang energinya besar dan gairah hidupnya besar pula. Pohon, burung, bulan, sungai, dan kehidupan rakyat kecil adalah perpustakaannya.

Di dalam “kamar studi” dan “perpustakaan” semacam itu, Raden Mas Sudjono harus lebih total aktivitasnya. Tidak cupu hanya bekerja dengan mata, pikiran, dan perasaan saja. Melainkan seluruh pancaindranya harus disiagakan, demikian pula seluruh badannya harus sangat mobil, pikiran dan perasaannya harus dalam keadaan mobil pula. Betapa tidak! Di sini ia tidak hanya menghadapi pemandangan dari buku yang datar, melainkan ia menghadapi pemandangan cyclorama de lux. Dan untuk pendengarannya: terpancar selalu suara-suara super stereo. Kecuali yang abstrak ia pun harus menanggapi yang aktual. Bahasa disampaikan kepadanya tanpa terbatas pada struktur sintaksis… malahan kadang-kadang ia harus menghadapi bahasa bahasa yang nonverbal. Penciumannya mengendus bau dari obyek pendengaran, penglihatan, atau perabaannya. Ah, ya, semua indranya, seluruh totalitas dirinya ikut aktif bekerja di dalam ia melakukan “studi”-nya itu. Metode belajar dengan mengerahkan totalitas itu akan lebih mendekatkan pada penghayatan akan kompleksnya hidup.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Latihan Sultan Hamengku Buwono I di Masa Remaja (Bagian 2)

  1. Pingback: Latihan Sultan Hamengku Buwono I di Masa Remaja (Bagian 3) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>