Latihan Sultan Hamengku Buwono I di Masa Remaja (Bagian 3)

Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan Latihan Sultan Hamengku Buwono I bagian 1 dan 2. Kali ini, kita akan memahami lebih dalam tentang bagaimana WS. Rendra memaknai penggemblengan yang dilakukan oleh HB I sebelum dia berhasil menjadi raja yang dihormati rakyatnya.

Selanjutnya, kelas tempat ia berdiskusi dan berseminar adalah pesantren-pesantren yang banyak ia kenal dan ia kunjungi.

Semua renungannya, baik yang mengenai masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, atau asmara, selalu ia dasarkan pada kesadaran religius. Bukannya dalam arti bahwa renungannya itu dicocok-cocokkan dengan hukum agama, melainkan bahwa renungannya itu ia dasarkan kesadaran akan sangkan paraning damadi (dari mana dan akan ke mana seluruh isi alam ini). Dengan kata lain ia pulangkan semua kejadian pada Sumber Kejadian. Di dalam Babad Giyanti tersebutlah pesannya kepada Ronggo Wirosetiko dan Demang Djojoroto sebagai berikut: “Dan hendaknya dicamkan jangan sampai lupa, untuk selalu tekun menilik sukma, sadarilah akhirnya, akhir dari segala yang tumbuh, agar supaya tahu menjaga keselamatan, keselamatan yang sempurna, kesempurnaan pengetahuan, pengetahuan akan akhir dari segala yang hidup, rekatkanlah pada penglihatan yang sejati, kesejatian yang satu-satunya…”

Seorang dengan metode berlatih dan belajar serupa itu, yang mengerahkan totalitas dan cinta kasihnya kepada Tuhan di dalam perenungannya, apabila ia bertindak dan bersikap, maka ia akan lebih memancarkan integritas dan sifat otentik. Apalagi apabila dasar dari action atau tindakan (setelah perenungan) itu menurut Raden Mas Sudjono adalah: “Apabila telah menyatu apa yang tadinya masih dua, ialah Pangeran dan abdinya, batin dan lahirnya, begitulah perumpamaannya, apabila sudah bertemu batin dengan lahir, bagaikan pohon cendana, baunya mmancar dengan sendirinya, harum di luarnya karena dari dalam menguap, menguapkan ketulusan menyebarkan bahasa yang bagus, bumbu dari dunia”.

Demikianlah perbuatan itu bisa berwibawa dan mengandung bobot, bukan karena backing otoritas atau teror, melainkan apabila ia mengandung integritas dan goodwill dari sang pelaku. Di dalam kursus kader dari partai-partai politik, organisasi-organisasi mahasiswa, gerakan-gerakan pemuda, sangat ditekankan pelajaran taktik, strategi, agitasi, propaganda, dan ilmu menekan orang lain. Dan ternyata hasilnya, sampai sekarang, dari kursus kader-kader semacam itu belum pernah muncul seorang pemimpin yang mempunyai perbawa dan karisma. Andaikata diambil perumpamaan dari dunia wayang, maka mereka baru mengesan dan berguna sebagai rampogan saja, tetapi belum ada yang mampu memberi kesan sebagai “tokoh”. Sementara mereka menentang militerisme, mereka sendiri melatih diri dengan metode kaum militer, dan memanjakan diri dengan kekasaran-kekasaran yang militeristik. Perbawa dari aksi mereka terhadap rakyat sama dengan perbawa kasi dari golongan militer, yaitu perbawa mimpi buruk…. Berlainan betul dengan latihan wibawa dan karisma yang dilakukan oleh Raden Mas Sudjono. Tidak ada latihan strategi, atau taktik, dan ilmu menekan orang dengan keangkuhan atau kekuasaan atau teror. Melainkan latihan menyatukan hati, pikiran dan perbuatan… menyatukan lahir dengna batin… mengutamakan cinta kasih dan goodwill. Pada akhirnya, ketika ia berhasil mendirikan kerajaan dan menjadi Sultan Hamengku Buwono I, ia bukan menjadi pembesar berwajah “serem”, melainkan ia terkenal sebagai pemimpin yang wibawanya darang dari karisma, goodwill, dan keramahan.

Menurut metode latihan Raden Mas Sudjono dalam studinya untuk menjadi orang dewasa, termasuk juga latihan menguasai jasmani untuk kepentingan batin, pikiran, dan perasaan. Ini penting untuk mencapai tingkatan menyatunya lahir dengan batin. Adapun caranya: dengan cara praktis sebagaimana orang melatih kuda agar bisa menyatu dengan penungganggnya, yaitu dengan tali kendali. Dalam hal ini kendali untuk jasmani diserahkan ke tangan batin. Adapun tali kendalinya berupa disiplin kerja keras, disiplin kesederhanaan hidup, berpuasa, dan kesetiaan pada rite agama. Di samping itu ia juga mengutamakan latihan untuk “kemauan keras”. Karena kemauan keras adalah energi dari cinta kasih dan goodwill. Sering kali ia menguji jasmaninya dengan tuntutan-tuntutan berat dari kemauan kerasnya…. Tersebutlah dalam kitab Cebolek, bahwa setiap hari Jumat Raden Mas Sudjono suka melepaskan kedua cincin berliannya yang mahal, yang bernama Pepe dan Telawong, lalu dilemparkan ke dalam suatu sungai, di malam hari, kemudian ia terjun ke dalam sungai itu untuk mencari kedua cincin berlian sampai ketemu kembali. Sering kali terjadi, bahwa kedua cincin itu dilemparkan pada jam sembilan malam, dan baru bisa ditemukan lagi di dasar kali pada waktu menjelang fajar. Itulah antara lain metodenya untuk melatih kemauan kerasnya.

Latihan-latihan Raden Mas Sudjono, seorang kader masa depan dari jamannya, dikemukakan di sini sebagai pembanding dari latihan kader-kader masa depan dari jaman kita. Ternyata perbedaannya bukan karena yang satu kuno dan yang satu lagi modern. Sebab metode kader-kader dewasa ini sudah lama dikenal oleh Machiavelli di Eropa di sekitar tahun 1500, dan juga telah dikenal oleh Durno di dalam dunia wayang di abad dongeng-dongeng.

Saya kira perbedaannya terletak di sini: metode latihan kader-kader dewasa ini orientasinya lebih materialistis, dan terhadap hidup lebih bersikap memanipulir, sedangkan metode-metode latihan Sultan Hamengku Buwono I di masa remajanya lebih bersifat spiritual, dan terhadap hidup lebih bersikap mengembangkan.

1971

Diambil dari Buku Rendra Mempertimbangkan Tradisi

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>