LINDAP

LINDAP

I –
Zeami, Teater Boneka, dan haiku yang tergeraikan
Mengasapkan ragu atas gelora pada lenganku
Sebentar lagi akan mekar di payudaramu –
Cempaka-Kenanga

II –
Di pojok pepunden itu banyak hal yang hilang,
Kau memotretku, lalu benang-benang melakonkan
Kita : dua yang menyeduh kantata dari acapela
Ketika hujan tersisa

III
Aku mungkin Fresco yang dipaksa mewakili hal-hal sendiri
Seperti prajurit yang terpikat pada kemegahan perang
Kemudian anak yatim dan janda, kemudian wabah
Namun, benarkah kita telah diramalkan
Jauh sebelum paceklik itu?

IV
Tapi memang mestinya pintu terbuka,
Perapian berkelebat dan biru api melelehkan dingin,
Menumpahkan anggur, melapukkan pilar kayu
Angin akan mengunggun, di tanganku
Dan jari manismu

V
Perempuanku, kita telah seerat ini
Berpeluk menjadi sepi dalam arus semeriah cinta
Namun, belum juga kita bisa berserah
Jika mayang melayung, dan kita
Tinggal layang-layang dengan benang yang terputus

VI
“inginku tak peduli jika pada akhirnya sia-sia,
Peluklah terus takutku, sayang.
bawa aku pulang”
Kau berbisik,
Dengan rindu yang samar

VII
Pada akhirnya hujan selalu hujan
Kabut dan sembunyi, teater boneka dan rapuh kertas,
Dan kita tidak menyisakan apa-apa
Namun sediakala

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: