“LYSISTRATA” Cara Jitu Menghentikan Perang

Tulisan ini merupakan kritik sastra dari Robert Adhi KS dan Taufik Ikram Jamil terhadap pentas Wahyu Sulaiman Rendra, yang dimuat di KOMPAS dan masuk ke dalam buku Rendra, Ia Tak Pernah Pergi. Selamat menikmati.

***

“Kami bersumpah. Sebelum perdamaian terjadi antara Sparta dan Athena, kami tak akan berbuat anu dengan lelaki. Kalau dpaksa untuk anu, kami akan dingin seperti batu… Apabila kami melanggar sumpah ini, kami rela dihukum seberat-beratnya.”

Perempuan-perempuan Athena dan Sparta itu bersumpah, untuk menghentikan perang yang berkecamuk diantara keduanya. Dan, seperti halnya dialog lain yang diucapkan secara koor, ritmis, bersanjak dan lamban, sumpah itu pun dikatakan secara koor dalam lakon Lysistrata oleh Bengkel Teater yang disutradarai Rendra di Graha Bhakti Budaya PKJ-TIM (Pusat Kesenian Jakarta Timur-Taman Ismail Marzuki), Sabtu malam (23/3/1991).

Syahdan, komedi Yunani karya Aristhopanes ini bercerita tentang perang yang tak akan terhindar antara Athena dan Sparta. Maka, seorang bangsawan dari Athena, Lysistrata (Ken Zuraida) menggalang pertemuan wanita-wanita yang berpengaruh di seluruh Yunani. Ia imbau kaumnya baik di Athena maupun Sparta untuk mogok seks. Langkah kejut ini ditempuh sebagai ultimatum agar kaum lelaki segera menghentikan perang. Ini tentu saja setelah melewati perdebatan yang cukup alot dan main dengan Stratylis (NC Nani Nasution), Clorus (Nyai Dewi Pakis), Lampito (Clara Sinta), Mirina (Lily Suardi), dan terutama dengan Calisa (Ria Rondang Pardede).

Pada awal pertunjukan ketika lampu yang ditata Jose Rizal Manua terang, lima pemain musik sudah mangkal pada level tertinggi di latar belakang. Latar panggung berwarna hitam. Level-level yang makin rendah ditata di depannya dalam komposisi simetris. Empat rumpun bambu ditancapkan, di antaranya memberi kesan gapura tepat di depan pemusik.

Beberapa pemain secara simetris muncul dari kanan dan kiri, sementara musik tataan Sawung Jabo masih bertalu. Mereka kemudian duduk di depan pemusik, tenggelam di belakang level yang lebih rendah, memberi kesan simpingan wayang jajawan wayang kulit di kanan dan kiri gapura yang dibentuk oleh gunungan. Terlihat juga upaya pementasan ini memanfaatkan roh lenong terutama pada keluar-masuknya aktor. Musik antara lain dominan diisi kepyak, simbal, saron dan kethuk-kenong.

Musik berakhir ketika Lysistrata muncul dan mulai bicara. Ia prihatin terhadap nasib kaum wanita. Mereka hanya mau daang kalau ke pesta yang penuh gincu. Tetapi, tak demikian ketika negara dilanda kegawatan. “Di mana mereka?” kata Lysistrata. Muncullah Calisa. Lysistrata bilang bahwa kita sedang menghadapi sesuatu yang besar. “Besar dan marem?” tanya Calisa dengan geit. “Wah, benar-benar kumel fantasi kamu.” Kata Lysistrata sewot.

Plesetan-plesetan dialog ke arah fantasi yang kumal itu kemudian banyak mengisi perbincangan keduanya. Begitu pun ketika datang wanita-wanita dari Sparta. Bahkan ketika sumpah telah mereka ikrarkan dan muncul kaum laki-laki bertelanjang dada dari simpingan tadi. Kaum lelaki itu muncul beruntun berlompatan seperti katak. Mereka lalu bergandengan seperti gerbong, menari serempak mengelilingi panggung, dengan gerak pinggul yang menjurus ke arah fantasi kumal.

Semula kaum wanita masih bisa tahan terhadap godaan itu. Mereka masih menduduki gedung perbendaharaan negara. Kunci kas negara bahkan disimpan di perut bagian bawah Lysistrata. Tetapi, lama-lama pertahanan mereka runtuh. Banyak yang melanggar sumpah. Pejuang perdamaian ini bahkan telah menangkap basah selusin orang dalam seminggu.

Sama seperti laki-laki, kaum wanita menderita karena birahi tak tersalurkan. Puncak ketidaktahanan itu dilakonkan suami-istri Calisa dan Cinesias (Adi Kurdi), sampai panglima perang Athena itu merencanakan perjanjian perdamaian. Datanglah utusan Sparta yang berjalan mundur memunggungi penonton. Pemogokan seks, katanya juga telah merata di Sparta. Akhirnya perdamaian tercapai. Pertunjukan pun selesai.

Lampu baru bermain di akhir pertunjukan ketika seluruh pemain berjajar dan beberapa di antaranya mengatur salam kepada penonton. Monotonitas lampu selama pertunjukan itu masih ditambah lagi dengan monotonnya blocking dan regrouping. Juga minimalnya penguasaan timing rata-rata pemain sebagai unsur utama komedi. Kecuali, tentu saja, bagi aktor sekaliber Rendra dan Adi Kurdi. Tanpa kemampuan timing, terasa para pemain hanya mengucapkan jejak-jejak kepenyairan Rendra yang menulis ungkapan-ungkapan itu.

Memilih lakon ini, tampaknya Rendra percaya bahwa, seks berada pada posisi yang vital, tetap punya finishing sakral. Di dalam seks, totalitas kosmos itu terengkuh. Tapi mestinya hal itu bisa tampak, paling tidak, dalam adegan Calisa dan Cinesias. Pada adegan ini, sebenarnya musik apik dari Sawung Jabo cukup membangun suasananya. Tetapi, mungkin lampu yang selalau general dari awal, kurang partisipatif. Jika adegan tersebut berhasil mengantarkan seks (suami-istri) sebagai sesuatu yang sakral setidaknya ini akan mengimbangi adegan-adegan lain yang terasa hanya berupa plesetan ke arah fantasi yang kumal.

Juga, tanpa puncak itu, plesetan seks seperti ungkapan atas-bawah ke arah “fantasi sosial politik”, terasa hanya tempelan. Tanpa audio-visualisasi bahwa seks itu sakral, dengan demikian intinya kosmos, bagaimana mungkin seks begitu mudah dikaitkan dengan segala aspek, termasuk perjuangann keadilan untuk rakyat dan sebagainya. Kecuali kalau Rendra memang sejak awal berkeinginan mengangkat soal seks ini ke pentas, hanya tinggal sebagai hubungan badaniah belaka.

Robert Adhi KS, Taufik Ikram Jamil

Kompas, Minggu 24 Maret 1991

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>