Masalah Persesuaian (Concord) dalam Bahasa Indonesia

Perhatikan kedua kalimat di bawa ini:

1). Banyak persoalan-persoalan lain yang mungkin luput dari pikiran kita. (bahasa seorang pengarang)

2). Malam ini kami mengundang beberapa tokoh-tokoh masyarakat untuk berwawancara. (bahasa seorang pewawancara di TVRI)

Ada satu hal yang perlu kita perhatikan dalam kedua kalimat di atas. Yang saya maksudkan ialah pengulangan kata benda dibelakang kata keterangan yang menyatakan jumlah lebih dari satu (jamak). Dalam kalimat di atas, Anda lihat frase banyak persoalan-persoalan (1) dan beberapa tokoh-tokoh (2).

Dalam bahasa Indonesia, sudah umum orang mengulang kata benda untuk meyakatan jamak: rumah-rumah, buku-buku, murid-murid. Bentuk perulangan itu sejajar dengan bentuk frase banyak rumah, semua rumah, beberapa rumah; banyak buku, semua buku, beberapa buku; banyak murid, semua murid, beberapa murid.

Dalam bahasa Melayu, bahasa asal bahasa Indonesia, perulangan kata benda tidak dimaksudkan untuk menyatakan jamak, melainkan untuk menyatakan 1) bermacam-macam, dan 2) menyerupai. Misalnya, buah-buahan ‘bermacam-macam buah’; daun-daunan ‘bermacam-macam daun’; orang-orangan ‘benda yang menyerupai orang’ (dipancangkan di tengah sawah atau ladang); lidah-lidah sepatu ‘bagian sepatu yang menyerupai lidah’. Dalam bahasa Indonesia dewasa ini, perulangan kata benda tidak lagi hanya menyatakan makna bermacam-macam atau menyerupai, tetapi juga menyatakan makna jamak., banyak. Oleh karena itu, bentuk banyak persoalan-persoalan dan beberapa tokoh-tokoh seperti yang Anda lihat dalam dua kalimat contoh di atas bukanlah bentuk yang tepat. Pernyataan jamak dinyatakan dua kali dalam frase itu; pertama, dinyatakan oleh kata banyak, beberapa; kedua, dinyatakan oleh bentuk perulangan persoalan-persoalan, tokoh-tokoh. Dalam ilmu bahasa, pernyataan berlebih-lebihan seperti itu disebut ‘pleonastis’.

Struktur seperti yang kita lihat pada contoh itu sebenarnya dipengaruhi oleh struktur bahasa asing; misalnya, struktur bahasa Belanda, Inggris, atau Arab. Dalam ketiga bahasa itu, berlaku aturan yang disebut concord, atau agreement yang dapat kita terjemahkan dengan ‘persesuaian’. Aturan seperti itu tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Bandingkan bentuk-bentuk berikut:

Bahasa Belanda: een boek; vijf boeken

Bahasa Inggris: one book; five books

Bahasa Indonesia: sebuah buku; lima buku

Dalam bahasa Belanda dan Inggris, bentuk benda tunggal dan jamak tidak sama. Karena kata bilangannya lima (vijf, five) maka kata bendanya harus disesuaikan menjadi kata bilangan itu menjadi boeken dan books. Tidak boleh vijf boek, five book. Bahasa Indonesia tidak demikian. Bentuk jamaknya dinyatakan oleh kata bilangan itu, tidak perlu lagi dinyatakan oleh pengulangan kata benda. Jadi tidak perlu kita mengatakan lima buku-buku. Kita katakan ‘Pak Anwar memiliki tiga buah mobil’, bukan ‘tiga buah mobil-mobil’. ‘Pelukis Z memamerkan 200 buah lukisan’, bukan ‘200 buah lukisan-lukisan’.

Kesalahan lain yang kita lihat dalam pemakaian bahasa dewasa ini ialah penggunaan kata para yang diikuti oleh kata benda yang diulang: para guru-guru, para menteri-menteri, para orang-orang tua murid, dan sebagainya. Kata para menunjuk kepada makna jamak. Oleh sebab itu, kata itu tidak usah diikuti oleh kata-ulang kata benda. Para Guru = guru-guru; para menteri = menteri-menteri; para orang tua murid = orang-orang tua murid. Pemakaian sekaligus kata para dengan bentuk ulang kata benda merupakan pemakaian yang berlebih-lebihan (gejala pleonasme).

Gejala pleonasme lain akan kita bicarakan pada kesempatan berikut.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar oleh JS Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>