Mengapa H.B Jassin Tertarik pada Sastra

Bahwa masa kecil seseorang amat berpengaruh pada kehidupan orang itu di kemudian hari, tentulah tidak perlu diperdebatkan lagi. Aksioma ini pun berlaku pada H.B Jassin, sebagaimana akan kita lihat di bawah ini.

seperti halnya dengan anak-anak lain, ternyata faktor keluarga amat menentukan perkembangan dan pertumbuhan pribadi H.B Jassin. Jassin menuturkan masa kecilnya demikian: “Masa kecil saya adalah masa yang menyenangkan. Saya dilahirkan dari orangtua yang bertanggung jawab pada tanggal 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara. Ayah, Bague Mantu Jassin adalah seorang kerani di BPM yang punya penghasilan cukup untuk menghidupi kami sekeluarga secara layak. Ibu, Habibah Jau, bukanlah seorang ‘wanita kerja’ seperti yang banyak muncul dewasa ini, melainkan ibu rumah tangga seratus persen.”

Pihak ibu agaknya tidak begitu berpengaruh dalam pembentukan masa depan Jassin kecil. Sebaliknya dengan pihak ayah; sang ayah ternyata amat berpengaruh pada diri Jassin. “Ayah punya kebiasaan tertentu yang kemudian ternyata sangat mempengaruhi jalan hidup saya,” demikian Jassin. “Ia adalah seorang yang gemar membaca. Di rumah ia memiliki perpustakaan pribadi.”

Kegemaran sang ayah ternyata menular pada sang anak. Jassin kecil pun tumbuh menjadi seorang anak yang suka membaca. Dan tentang kegemaran itu, Jassin menjelaskan: “Kegairahan membaca pada diri saya berkembang pesat. Akibatnya saya selalu membaca berbagai buku ayah, walaupun sebagian besar tidak saya mengerti, karena semua buku ayah untuk konsumsi orang dewasa. Sering juga saya terpaksa membaca secara sembunyi-sembunyi karena dilarang oleh ayah. Bila tak sempat membaca, sedikitnya saya suka melihat gambar-gambar dan foto-fotonya, serta membaca keterangan gambarnya.”

Dengan kata lain, sejak kecil Jassin memang sudah “gila baca”. Benih inilah kiranya yang kian bertumbuh dalam diri Jassin, sejalan dengan pertumbuhan jiwa dan umurnya.

***

Kegemaran membaca tadi ternyata bersambut ketika Jassin sekolah di HIS Gorontalo (1927-1932). Ibarat minyak dengan api, di sekolah ini Jassin menemukan seorang guru yang baik dan mampu memukau murid-muridnya (“Seorang orator yang hebat”, komentar Jassin). Guru yang selalu dalam kenangan Jassin itu adalah seorang Belanda, M.A. Duisterhof namanya.

Ketika menerima hadian Martinus Nijhoff dari Prins Bernhard Fonds pada tahun 1973 di Den Haag (Belanda), atas jasa Jassin menerjemahkan Max Havelaar karangan Multatuli, Jassin tak lupa mengungkapkan keistimewaan cara mengajar Duisterhof, sebagai berikut: “… Tuan M.A. Duisterhof membacakan kepada kami bagian-bagian dari Max Havelaar, yakni pidato kepala-kepala Lebak dan romansa yang sedih saijah dan Adinda. Ketika itu saya sekolah di Hollands-Indlandse School dan meskipun kami sebagai anak kelas lima belum mngerti segalanya, kami merasa pidato dan cerita itu bagus sekali karena keindahan bunyi dan irama dan terutama karena pandainya kepala sekolah kami membacakannya. Nama multatuli menetap di benak kami dan saya kira Duisterhof dengan cara itu untuk pertama kalinya membawa kami ke dalam dunia kesusastraan sebelum kami mengetahui apa sebenarnya kesusastraan itu.”

Itulah perkenalan pertama Jassin dengan karya sastra. Barangkali sejak saat itu pulalah Jassin tertarik pada sastra. Dan semua itu terjadi sekitar akhir tahun 20-an, ketika Jassin belum lagi berusia 13 tahun.

***

Selain sang ayah (Bague Mantu Jassin) dan sang guru (M.A. Duisterhof), ternyata Jassin masih memiliki guru lain. Guru yang satu ini tak lain dan tak bukan adalah tokoh pujangga baru, yakni S. Takdir Alisjahbana (=STA). Secara langsung maupun tidak langsung, ternyata Jassin banyak berguru pada STA.

Menurut pengakuannya sendiri, ketika masih duduk di HBS Medan (1932-1938), Jassin sudah mulai mengarang dan karangan itu dikirimkannya ke pelbagai penerbitan yang ada pada masa itu. Sekalipun demikian, Jassin masih merasa kurang. Oleh sebab itu, ia masih ingin meningkatkan kemampuannya mengarang. “Saya ingin belajar pada beberapa pengarang yang saya kagumi waktu itu, seperti S. Takdir Alisjahbana.”

Itulah pula sebabnya, dalam perjalanan pulang ke Gorontalo pada tahun 1939 (setelah menamatkan HBS di Medan), Jassin merasa perlu bertemu-muka dengan pengarang yang dikaguminya itu di Jakarta. Dan setibanya di Jakarta, Jassin berbincang lama sekali dengan STA mengenai kesusastraan, bahasa, kebudayaan, dan sebagainya.

Sebetulnya, jauh sebelum pertemuan itu, Jassin sudah “mengenal” STA. Yakni melalui tulisan-tulisan STA yang dimuat dalam majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh STA sendiri. karena ketika masih bersekolah di Medan, Jassin sudah mengikuti Pujangga Baru secara teratur. “Saya kira minat saya pada sastra timbul dari tulisan-tulisan Takdir dalam Pujangga Baru, ” demikian pengakuan Jassin.

Sampai sejauh mana pengaruh STA atas diri Jassin dan dalam hal apa saja Jassin dipengaruhi STA, tentulah masih perlu diteliti lebih lanjut.

***

Dari paparan singkat tadi, jelaslah sudah faktor-faktor yang membuat Jassin tertarik pada sastra. Bermula dari tumbuhnya minat baca pada masa kecil (pengaruh keluarga = faktor ayah), diteruskan dengan perkenalan pertama dengan karya Multatuli (pengaruh sekolah = faktor guru), selanjutnya berkenalan secara aktif dengan karya sastra (pengaruh lingkungan = faktor bacaan).

Diambil dari buku H.B. Jassin: Paus Sastra Indonesia karangan Pamusuk Eneste diterbitkan tahun 1987 oleh penerbit DJAMBATAN.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>