Menginap di Dalam Kotak Pensil Warna Isi Sebelas

Angkasa, saya selalu takut mengurut abjad untuk sepupu saya yang masih kecil. Saya selalu berhenti di abjad pertama. Saya juga selalu takut kala mengajarinya menggambar bentuk, saya selalu cuma bisa membuat segitiga sama kaki. Terakhir, saya hanya bias berharap ia tumbuh besar tanpa mengenal warna. Karena saya takut kelak ia menanyakan warna kesukaan saya. Saya takut menjawabnya dengan namamu.

Celakanya, suatu kali ia minta dibelikan sekotak pensil warna. Ibunya berjanji akan membelikannya pada akhir pekan. Sepupu saya melompat gembira.

***

Sudah beberapa hari terakhir ini, saya menginap di dalam kotak pensil warna isi sebelas. Bagaimana bisa? Ada satu kamar kosong yang seharusnya diisi Angkasa, tapi Angkasa sudah cukup lama tidak ada di sana. Ia terbang terlalu jauh, sampai dilupakan oleh warna-warna lain. Namun, bagi saya, kamar ini selalu jadi milik Angkasa, meski sebenarnya ia sudah memiliki banyak hal lain, termasuk sepotong jiwa saya dan mata kanan saya yang ia tumpuk bersama dengan barang-barang pemberian lain yang bukan main banyaknya.

Kamar Angkasa selalu sepi. Hanya ada saya sendiri setiap hari. Warna-warna lain enggan berkunjung karena mereka lupa bahwa biru muda Angkasa merupakan bagian dari mereka. Kamar ini kosong, Angkasa tidak meninggalkan apa pun di sini sejak kepergiannya. Namun saya tetap terpenjara di sini, bersama suaranya dan berlampu sorot matanya, serta seberkas rindu di sudut kamar yang enggan saya sapu, sampai jadi sarang penyakit. Sudut kamar itu memang sudah kotor sejak Angkasa masih ada di sini, namun ia tidak pernah menyadarinya.

Saya menikmati terlelap di kamar Angkasa. Saya menikmati bermimpi di sini. Meski saya tidak pernah lagi melihat keberadaan Angkasa di sini mau pun di atas awan, namun aroma Angkasa selalu melekat di selimutnya.

“Sampai kapan kamu berdiam di sini, Luana?” Tanya Pensil Warna Hijau suatu hari.

“Sampai Angkasa kembali untuk menyapu kamarnya sendiri. Kemudian biar saya bawa pulang rindu yang kelak ia singkirkan,” ujar saya.

Kemudian saya merasakan kamar Angkasa dan seluruh kotak pensil warna ini berguncang.

***

“Ibu, terimakasih untuk sekotak pensil warna yang ibu belikan tadi siang. Saya suka, saya suka warna merah, kuning, ungu, dan juga warna Luana. Tapi sayang, pensil berwarna Luana ini bagian dalamnya patah, jadi tidak bias saya pakai, terpaksa saya buang ke Angkasa. Sekarang pensil warna saya tinggal sebelas, tapi untungnya semuanya kuat, tidak ada lagi yang patah!”

“Dibuang ke Angkasa?”

“Iya, lihat! Angkasa sudah kembali ke atas awan! Tak lama lagi mereka akan mencipta pensil warna yang warnanya serupa warna Angkasa!”

25 Januari 2016, Livia Halim

Saya Livia Halim, lahir di Bandung tanggal 21 Januari 1996. Saya adalah mahasiswi fakultas hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Saya menulis fiksi-fiksi bergenre surealisme dan aktif menulis di www.kompasiana.com/livi,

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>