Merah dan Putih Selalu Beda

Siang ini panas sekali. Matahari tak main-main dalam menyebar sinarnya. Mungkin dia sedang bahagia. Mungkin saja cintanya baru saja diterima, dan dia resmi pacaran, makanya matahari jadi semakin bersemangat.

Sayangnya, semangat matahari yang menggebu-gebu kadang membuat manusia di bumi menjadi malas. Dengan hawa sepanas ini, daripada bekerja dan berkarya, makan semangka sambil baca komik dengan ditemani kipas angin yang menyala maksimal terasa lebih menggiurkan. Setidaknya, begitulah menurut Ipul dan Kipli. Dua sahabat sekamar yang sering bertukar celana dalam.

Ipul dan Kipli adalah sahabat sejoli yang sangat kompak. Kekompakan yang tidak muncul karena kesamaan, tapi justru karena perbedaan. Ipul adalah anak orang kaya yang malasnya minta ampun. Gara-gara sifat malasnya itu, dia sudah 5 tahun kuliah dan teorinya tidak kunjung selesai. Dia terancam di-DO. Sedang Kipli? Dia adalah anak orang miskin yang sebenarnya cukup rajin. Tapi karena terlalu sibuk mencari uang untuk membayar kuliah, dia jadi sering bolos. Gara-gara bolos itu, dia sudah 5 tahun kuliah dan teorinya masih juga belum selesai. Kipli juga terancam di-DO.

Kini, di siang hari yang super panas ini, keduanya sepakat untuk membaca komik, telanjang dada, dan bersantai di kamar. Toh, dengan cuaca seperti ini, tidak ada hal produktif yang bisa dilakukan. Setidaknya menurut mereka.

Namun, kelamaan membaca komik-yang sebenarnya sudah 3 kali dibacanya berulang-ulang- membuat Kipli bosan juga. Tubuhnya yang sehat menginginkan lebih dari sekedar membaca komik yang sudah kehilangan efek kejutannya itu. Tidak ada hal mengejutkan yang bisa terjadi ketika kita sudah membaca sebuah komik berulang-ulang, bukan? Demi mengusir rasa bosannya, Kipli memutuskan untuk mengajak ngobrol Ipul. Sahabatnya yang secara aneh tetap dapat tertawa saat membaca komik Kungfu Komang yang sudah dibacanya 5 kali.

“Lo gak bosen ya, baca komik mulu, Pul?” Kipli memulai percakapan. Mencoba memancing perasaan dari Ipul.

“Enggak lah, Pli. Kalau bacanya komik serial cantik kayak elo mah, mungkin bosen. Tapi ini Kungfu Komang, Pli, Kungfu Komang!” jawab Ipul sambil mengepalkan tangan ke depan. Semangatnya selalu membuncah kalau disuruh membahas komik favoritnya sejak zaman SMP itu.

“Yaelah, selera orang kan beda-beda nyet. Gue sukanya sama serial cantik, elo sukanya sama Kungfu Komang. Itu bukan alasan buat elo ngejek gue.” Kipli sok serius.

“Yaelah, gitu aja marah lo Pli. Iye maaf,” ujar Ipul melas. Dia gak menyangka Kipli bakal seserius itu ngobrolin soal komik. Mungkin dia abis diputus pacarnya, batin Ipul. Eh, tapi kan dia gak punya pacar? Batin Ipul yang satunya protes.

“Haha, sante aja kali Pul, gue kagak marah kok. Cuman rasanya aneh aja sih, kenapa orang di dunia ini fobia banget sama yang namanya perbedaan ya?”

“Hm?” Ipul menaruh komiknya. Mencoba mendengarkan Kipli yang sepertinya mendadak galau. Ah, aku tau sekarang, Kipli bukannya galau diputusin pacar, tapi dia galau ditolak sama gebetannya gara-gara punya prinsip yang berbeda. Batin Ipul masih mencari-cari alasan tingkah aneh Kipli.

“Elo tau kan, beberapa waktu lalu ada peristiwa pembakaran Gereja oleh para aktivis berjenggot?”

“Iya, terus kenapa?”

“Enggak sih, gue ngerasa aneh aja. Terlepas dari apapun alasan yang digunakan, tetap saja hal seperti itu sangat memprihatinkan.”

“Ah, kayak presiden aja lo ngomong memprihatinkan.”

“Yee, maksud gue bukan prihatin yang seperti itu. Tapi yaa, memprihatinkan… pokoknya gitu deh!” Kipli sewot.

“Haha, ya mungkin aja itu cara para aktivis berjenggot itu mengekspresikan rasa cintanya pada saudaranya di Eropa, Pli!”

“Maksud lo?”

“Maksud gue, mungkin aja mereka merasa bahwa saudara mereka sesama muslim di Eropa mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan. Terus mereka mencoba memberikan pelajaran pada orang-orang kristen itu untuk merasakan apa yang dirasakan orang muslim di sana. Gitu aja gak paham elo!”

Kipli bengong melihat Ipul.

“Kampret, kenapa malah bengong lo?”

“Ini beneran elo Pul yang ngomong? Kagak biasanya elo bisa ngomong serius gitu.”

“Kampreeeet! Tapi bener kan omongan gue?”

“Gak juga. Kalau teori elo yang dipake, berarti mereka goblok.”

“Kok gitu?”

“Simpel aja. Menghukum orang-orang kristiani di Indonesia dengan alasan membela saudara muslim di Eropa atau tempat manapun di dunia adalah kebodohan besar.”

“Kok gitu?”

“Ya gitu. Itu tu sama aja elo ngeliat temen cowok elo diselingkuhin ceweknya, terus elo bales dendam ke ceweknya dengan cara nyelingkuhin cewek lo. Dengan kata lain, gak nyambung dan tolol.”

“Haisss. Kenapa mesti gitu sih analoginya? Tapi bener juga ya. Jadi mungkin bener apa kata elo barusan ya, apapun alasannya, pengrusakan rumah ibadah adalah hal bodoh dan tidak bisa dimaafkan?”

“Ya bener dong!”

“Ohh, jadi gara-gara ini toh.” Ipul nyengir lebar.

“Gara-gara ini kenapa? Maksud lo apaan, tong?” tanya Kipli kebingungan.

“Ternyata elo tiba-tiba ngajak ngobrol gak jelas tu karena elo lagi gusar sama berita pengrusakan rumah ibadah ya? Gue kirain gara-gara elo ditolak sama gebetan elo, haha!”

Eh, kok si Ipul bisa tau kalau gue abis ditolak lagi sama Sindy? Sialan! “Haha, ya jelas dong, gue kan peduli banget sama isu-isu sosial, Pul!”

“Haha, iya deh iya. Elo emang beda banget sama gue Pli. Gue sama sekali gak peduli yang begituan. Gue lebih seneng ngomongin Bola daripada isu-isu sosial elo itu, haha!”

“Haha, iya Pul, kita emang beda, tapi tetep bisa jadi temen baik kan? Sama seperti Bendera Indonesia, terbentuk dari dua warna yang sama sekali berbeda, merah dan putih, tapi tetap dapat bersatu tanpa harus disama-samakan, haha!”

“Haha, iya, mirip seperti kata Gus Dur, ‘jangan menyama-nyamakan yang beda dan membeda-bedakan yang sama,’ simpel dan mengena, haha!”

“Hahahahaha!”

“HAHAHAHAHAHA!”

Akhirnya Ipul dan Kipli melanjutkan tertawa, membaca komik dengan telanjang dada, dan hidup bahagia selamanya…

Yogyakarta, 4 Juni 2014

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>