Nona yang Di Seberang

Sajak ini untukmu nona, yang sedang bersila di seberang
Menaruh senyum manis untuk dinikmati bersama
Mengenakan sandang bernuansa cerah, meski masih kalah cerah oleh senyummu

Sajak ini untukmu nona, yang sedang memandang penuh harap di seberang
Membuka sepasang mata mungil itu
Memberikan keyakinan pada siapa saja yang memandangnya
Ya, bahkan memandangmu adalah sumber kekuatan tersendiri

Sajak ini untukmu nona, yang sedang bahagia di seberang
Persetan dengan cinta, katamu
Aku muak dihianati, katamu
Aku berdiri sendiri sekarang dan aku tetap bahagia,
katamu

Sajak ini untukmu nona, yang sudah kebas akan cinta di seberang
Sembilu yang sempat menusukmu tajam di masa lalu,
perlahan sudah hilang, tercabut dengan sempurna
Tak lagi menyisakan cinta untuk bekas kekasihmu di seberang

Sajak ini untukmu nona, yang mungkin tengah menunggu cinta baru,
Entah di seberang, entah di samping, atau bahkan…
Di dalam hatimu sendiri

Duhai nona dengan senyum menawan dan tatapan penuh harap,
Ingin rasanya aku membasuh lukamu dengan air wudhu para nabi
Sayang, kenyataannya aku sama saja
Aku hanyalah debu di seberang, yang mencoba untuk mencintamu
Sama sekali tidak berbeda dengan bekas pacarmu (kecuali fakta aku lebih tampan dari dia)
Apa yang bisa hamba janjikan?

Duhai nona yang di seberang,
Aku mencintaimu,
Kemarin, hari ini, besok, lusa, entah sampai kapan
Yang aku tahu,
Aku mencintaimu,
Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali dalam sehari,
Entah apa alasannya
Karena yang aku mau
Aku mencintaimu selamanya…

Solo, 25 Mei 2014 

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>