Opini Rendra: Melawan Mesin (Bagian 2)

*Catatan editor: Opini dari WS Rendra yang ter-kliping dalam buku mempertimbangkan tradisi ini, merupakan lanjutan dari Bagian 1 yang sudah kami tuliskan sebelumnya. 

Demikianlah sebenarnya tradisi kebudayaan alam kita itu antikepribadian. Dan juga anti-pertumbuhan-spiritual. Secara tradisional yang dimaksud dengan “kepribadian” itu adalah kebiasaan-kebiasaan kolektif. Jadi mekanis, tidak spiritual. Satu per satu manusia tak perlu berkepribadian, cukup apabila mereka setia dan patuh kepada alam, setia dan patuh pada kedudukannya yang sudah digariskan di dalam aturan alam semesta bagaikan sekrup, gir, atau gotri dari sebuah mesin yang besar, yang bernama alam.

Tidak mengherankan apabila di dalam tradisi kebudayaan alam yang mekanis itu kata sukma atau jiwa tidak dikenal. Kata sukma dan jiwa masuk dalam kebudayaan kita sebagai pengaruh dari kebudayaan asing: Sanskerta. Kata roh dan rohani datang dari kebudayaan asing pula: Arab.

Untunglah bahwa kata-kata sukma, jiwa dan roh itu diimpor dalam hubungannya dengan dogma-dogma, jadi tidak dalam hubungan pertumbuhan dinamis kepribadian orang per orang sebagai gejala kebudayaan, maka karena itu gampang pula kata itu diimpor. Semua yang statis dan dogmatis disukai di dalam kebudayaan alam. Tapi cobalah memasukkan kata sukma dalam pengertian sebagai sesuatu yang hidup, sesuatu yang berhubungan dengan pertumbuhan kepribadian orang per orang. Hal ini akan sulit diterima, lalu akan segera dicap sebagai “benar-benar” asing.

Demikianlah, di dalam pendidikan kita, kepribadian tetap tidak diperkembangkan. Di rumah atau di sekolah anak-anak diajarkan bahwa kebajikan tertinggi itu: kepatuhan. Kesangsian kreatif yang mungkin berakibat perombakan dianggap sebagai kemunafikan. Diajarkan pula pegangan yang tertinggi, yaitu: kebiasaan kolektif. Ekspresi pribadi tidak perlu. Orang cukup mempertanggungjawabkan perbuatannya menurut ukuran kebiasaan kolektif, persisi seperti sekrup terhadap mesin. Orang tidak dibiasakan mempunyai ukuran-ukuran dan tanggung jawab pribadi. Sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan menerima bahwa kepribadian itu sama dengan kebiasaan. Alangkah sempurnanya pendidikan kita dalam menciptakan robot-robot yang konservatif.

Tidak mngherankan apabila sulit sekali untuk memperjuangkan demokrasi dan hak-hak asasi manusia di tengah masyarakat robot. Sesuai dengan sifat-sifatnya, robot-robot takut akan suasana kemerdekaan, karena tidak tahu bagaimana berbicara merdeka. Sangat perlu bagi mereka untuk mempunyai mesin besar di mana pusat tombol yang menggerakkan mereka berada: mereka perlu tiran. Jadi tidak tepat apabila kesalahan tirani Orde Lama ditimpakan pada seorang pemimpin dan satu-dua partai saja. Sebab dorongan yang terbesar dalam pembentukan tirani Orde Lama datangnya dari masyarakat sendiri. Tirani Orde Lama sangat cocok sekali dan sejalan betul dengan pendidikan robot-robot. Demokrasi terpimpin, dogma-dogma, pengekangan hak perseorangan agar sesuai dengan dengan “kedudukan”-nya: inilah nilai yang mulia di dalam pendidikan kita. Apabila sampai sekarang masih ada hakim-hakim dan jaksa-jaksa yang menginjak-injak hak asasi manusia dengan sinis menunjukan kedudukannya yang masih didefinisi oleh peraturan-peraturan kuno, itu wajar sekali. Hakim batu, jaksa kasar, lumrah. Semua sesuai dengan kedudukannya. Saya tidak setuju apabila mereka dituduh berjiwa jahat, sebab mereka tidak mempunyai jiwa. Mereka itu robot, hasil didikan orang tua mereka, sekolah mereka, dan masyarakat mereka.

Apabila kita menganggap bahwa hal-hal di atas sesuatu bencana, maka bencana itu hanya bisa dihindarkan dengan mengubah sistem pendidikan di rumah tangga dan di sekolah kita. Usaha menumbuhkan kepribadian orang per orang harus lebih ditekankan. Setiap pendidik harus mengakui bahwa jiwa orang per orang itu khas atau unik. Jiwa orang-orang tidak sama dan sebangun, sebagaimana barang hasil cetakan satu pabrik, yang lalu punya cap: made in Indonesia. Keunikan jiwa orang per orang ini harus diindahkan dan harus dirangsang untuk berkembang.

Pendidikan kesenian di sekolah-sekolah pun harus ditekankan kepada ekspresi kepribadian dan bukannya pada ekspresi tradisional. Menentang tirani Orde Lama, tapi mempertahankan sistem pendidikan lama adalah suatu hal yang menunjukan keruwetan berpikir.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Opini Rendra: Melawan Mesin (Bagian 2)

  1. Pingback: Opini WS Rendra: Melawan Mesin (Bagian 1) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>