Opini Rendra: Mempertimbangkan Tradisi

*Catatan Editor: Tulisan di bawah merupakan opini dari seorang perihal karya-karyanya yang sering dianggap pengamat sebagai sebuah pembaruan. Lewat tulisan ini, Rendra menjabarkan bagaimana proses kreatif karya-karyanya yang masyhur itu dan apa hubungannya dengan tradisi. Di dalamnya, terselip pula kritikan dari Rendra kepada pelaku budaya Jawa yang dianggapnya kurang paham dengan budaya Jawa itu sendiri. Simak tulisannya secara lengkap untuk semakin memahami apa yang coba diungkapkan Rendra di sini.

Mempertimbangkan Tradisi

Tradisi ialah kebiasaan yang turun-temurun dalam sebuah masyarakat. Ia merupakan kesadaran kolektif sebuah  masyarakat. Sifatnya luas sekali, meliputi segala kompleks kehidupan, sehingga sukar disisih-sisihkan dengan pemerincian yang tetap dan pasti. Terutama sulit sekali diperlakukan serupa itu karena tradisi itu bukan obyek yang mati, melainkan alat yang hidup untuk melayani manusia yang hidup pula. Ia bisa disederhanakan, tetapi kenyataannya tidak sederhana.

Sebagai kebiasaan kolektif dan kesadaran kolektif, tradisi merupakan mekanisme yang bisa membantu memperlancar pertumbuhan pribadi anggota masyarakat, seumpama seorang  ayah yang membimbing anak menuju kedewasaan. Sangat penting pula kedudukan tradisi sebagai pembimbing pergaulan bersama di dalam masyarakat. Tanpa tradisi pergaulan bersama akan menjadi kacau, dan hidup manusia akan bersifat biadab.

Namun demikian, nilainya sebagai pembimbing akan merosot apabila tradisi mulai bersifat absolut. Dalam keadaan serupa itu ia tidak lagi menjadi pembimbing, melainkan menjadi penghalang bagi pertumbuhan pribadi dan pergaulan bersama yang kreatif. Hanya kelahiran, kematian, takdir, dan menunggu Godot yang menjadi batas absolut bagi kemampuan manusia. Tradisi dan sebangsanya hanyalah batas-batas yang relatif saja. Apabila ia mulai membeku (atau dibekukan), maka ia menjadi merugikan pertumbuhan pribadi dan kemanusiaan, oleh karena itu harus diberontak, dicairkan, dan diberi perkembangan baru.

Fitrat hidup itu bertumbuh dan berkembang. Tradisi yang tidak mampu berkembang adalah tradisi yang menyalahi fitrat hidup. Fanatisme yang menghalangi perkembangan tradisi adalah sikap yang menghalangi hidup dan memihak kepada kematian.

Sebaliknya sikap yang dengan fanatik antitradisi dan menuntut kebebasan yang mutlak, bisa dinilai sebagai ketiadaan pengertian akan hidup bersama. Banyak orang yang merasa kecewa terhadap tradisi yang mulai membeku dan mengekang, lalu sama sekali antitradisi. Sikap ini, meskipun semua didorong oleh gairah hidup, pada akhirnya akan menjauhkan dari hidup. Sebab sikap semacam itu akan membawanya ke arah anarki yang akhirnya akan memisahkannya dari kebersamaan dengan orang lain. Padahal hanya di liang kubur orang bisa lepas dari kebersamaan.

Dalam pekerjaan saya sebagai seniman, sangat penting saya mengadakan eksperimen-eksperimen yang menyalahi tradisi kesenian yang sudah ada. Tetapi ini terjadi bukan karena saya antitradisi, melainkan karena tradisi yang sudah ada tidak bisa lagi menampung perkembangan yang baru dari gairah hidup saya, sehingga oleh karenanya saya merasa perlu untuk memberontak keterbatasannya dan memberikannya kemungkinan untuk perkembangan baru. Saya muak sekali apabila mendengar orang mengatakan bahwa saya selalu mengutamakan kebaruan di dalam ciptaan-ciptaan saya. Saya tidak pernah dengan sadar mencari sesuatu yang baru. Kalau yang sudah ada sudah cukup baik dan lapang, maka tak perlu saya merintis satu pembaruan. Dalam berkarya, tidak pernah saya mengkonsentrasikan diri terhadap orisinalitas atau kebaruan, tetapi konsentrasi saya kerahkan untuk setia pada hati nurani saya dan kepada hidup. Dan dalam hubungannya dengan tradisi, saya lebih tertarik terhadap kemampuan tradisi untuk berkembang, karena saya juga cukup percaya pada kemampuan diri saya untuk berkembang pula. Tidak ada alasan orang untuk anti pada tradisi selama ia yakin pada kemampuan berdialog pada dirinya.

Malahan menurut pengalaman pribadi saya dalam berkarya di bidang seni itu, saya banyak mendapat pertolongan yang bermanfaat dari tradisi kesenian yang sudah ada. Kumpulan sajak saya yang pertama, yang berjudul Balada Orang-orang Tercinta banyak dibimbing dan dipengaruhi oleh tradisi permainan imajinasi di dalam tembang dolanan anak-anak Jawa. Saya sangat malu waktu para resensen menyebutkan bahwa saya telah membawakan suasana baru dalam dunia persajakan di Indonesia. Mungkin apabila saya bulat-bulat meng-copy tradisi, barulah orang bisa melihat hubungan antara Balada Orang-orang Tercinta dengan tradisi. Tetapi setelah menghayati tradisi itu, dalam pergaulan yang erat, setelah berdialog dan saling memberi dengannya, bagaimana mungkin saya hanya sekedar meng-copy-nya saja? Konsekuensi dari pergaulan yang penuh penghayatan ialah: saya memperkembangkan tradisi dan tradisi memperkembangkan saya.

Demikianlah, setelah merenungkan dan mengingat kembali, terkenanglah saya bagaimana tradisi telah banyak membimbing saya dalam hampir semua karya saya yang disebut oleh resensen sebagai karya-karya eksperimental, yang mengajukan pembaruan-pembaruan. Kakawin Kawin dibimbing oleh tradisi romantik tembang-tembang palaran orang Jawa. Sajak-sajak Sepatu Tua dan sajak-sajak saya yang terbaru dibimbing oleh tradisi bahasa koran. Kumpulan saja Masmur Mawar dan pementasan Kasidah Barzanji dibimbing oleh tradisi spiritual mitologi Dewa Ruci dari orang-orang Jawa. Pementasan Oidipus Rex dibimbing oleh tradisi teater rakyat Bali. Gaya pementasan Macbeth diilhami dari gaya folklore masyarakat desa di Jawa Tengah. Dan Teater Mini Kata saya tu bukankah sangat erat hubungannya dengan tradisi permainan image dalam tembang dolanan anak-anak Jawa? Pendidikan dasar bagi imajinasi saya, saya dapatkan dari tembang-tembang dolanan itu.

Tradisi Jawa sebenarnya sangat kaya, tetapi sayang masyarakatnya tidak bisa bergaul baik-baik dengan tradisi itu, sehingga mereka merupakan benalu bagi tradisi. Mereka hanya bisa menempel dan mengekploitir saja dan tak mampu memperkembangkannya. Akibatnya: tradisi Jawa menjadi pohon yang meranggas. Di samping itu orang-orang Jawa, hampir semuanya, termasuk yang ahli-ahli juga, hanya mengetahui sedikit saja tentang tradisi Jawa. Mereka hanya paham akan tradisi Jawa Baru, yaitu tradisi kebudayaan raja-raja boneka dan bupati-bupati angkatan yang berjiwa feodal tetapi tidak punya darah aristrokat itu. Mereka anggap tradisi kebudayaan Jawa Baru itu pusaka leluhur, padahal paling jauh kebudayaan dari permulaan abad delapan belas. Jadi kurang lebih hanya sama tua dengan kebudayaan Amerika Serikat, dan kalah tua dengan kebudayaan Eropa. Sedangkan tentang kebudayaan Jawa Kuno: kebudayaan Borobudur, Prambanan, Mojopahit, kebudayaan abad ke-17, sastra kawi, tembang gede, tak ada ahlinya. Dan masyarakat Jawa Baru sendiri tidak pernah merasa perlu untuk mempelajari pusaka leluhur di jaman tembang gede dan candi-candi itu. Diperlukan orang-orang Eropa untuk mengajar mereka memelihara dan menyelidiki candi-candi serta keropak-keropak kuno pusaka leluhur mereka. Kecintaan mereka pada tradisi hanyalah timbul dari perasaan mekanis melulu, mereka tidak mau bersikap kreatif terhadap tradisi itu.

Demikianlah, pekerjaan-pekerjaan kebudayaan di Indonesia akan menemui kesulitan apabila masyarakatnya tidak bersikap kreatif terhadap tradisi, sebab contoh di Jawa tadi juga berlaku untuk daerah-daerah lainnya di Indonesia. Tradisi bukanlah sesuatu benda mati. Seharusnya ia adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehidupan. Tradisi diciptakan oleh manusia untuk kepentingan hidup dan bekerja. Tetapi tradisi yang populer dewasa ini adalah tradisi yang kaku untuk dipakai bekerja, tradisi yang diperlakukan oleh masyarakatnya sebagai kasur tua untuk tidur-tidur saja, bermalas-malas menempuh gaya hidup cendawan.

Pernah dimuat dalam BASIS, Mei 1971, hal. 237-9

Disadur dari buku “Mempertimbangkan Tradisi” oleh Rendra terbitan Gramedia 1983 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>