Overprotektif

Dengan malas, kuambil hapeku yang dari tadi berdering tanda ada SMS masuk. Palingan dari Raka lagi, cowokku. Sepertinya, satu jam saja dia tidak menginterogasiku kepalanya bakal pecah. Dia seperti selalu khawatir akan diriku, apakah aku sendirian, bersama teman cewek, atau teman cowok. Begitu aku bilang teman cowok, dia pasti akan langsung semakin tajam dalam bertanya. Dia akan bertanya dengan tegas, “Siapa cowok itu?” atau, “Berdua aja apa sama teman lain?” atau yang paling parah, “Dia gag ngrayu kamu kan??” Jujur, aku muak dengan semua itu.

Mungkin sekilas dia terlihat sangat perhatian, sayang, dan mengasihi aku. Ya ya ya, aku setuju dengan ketiga ungkapan di atas, dia memang perhatian, sayang, dan juga mengasihi aku. Hanya saja, sifatnya itu tetaplah terlalu over. Secara pribadi, aku merasa tertekan menjalani hidup seperti ini. Seolah-olah dunia hanya boleh kulewati bersama dia dan teman cewekku. Untuk teman cowok? Aku yakin jika bisa dia pasti akan memasang rambu-rambu gambar cowok (seperti petunjuk toliet pria) yang di silang besar-besar di depan mukaku. Atau mungkin dia ingin memasang spanduk ‘AWAS COWOKNYA GALAK’ yang tergantung di leherku.

Jangan salah sangka dulu kawan, aku bukannya tak menikmati saat-saatku bersamanya. Aku menikmatinya. Aku selalu senang jika bermain berdua dengan dia. Berpacaran dan memadu kasih di tempat ramai, dan kita seakan-akan pamer kepada dunia bahwa kita adalah pasangan yang paling berbahagia di dunia. Aku suka itu. Aku benar-benar suka.

Hanya saja, kadang gadis modern dan gaul sepertiku juga butuh berjalan dengan beberapa teman lelaki. Bukan untuk selingkuh tentunya, hanya ngobrol antar teman. Sesuatu yang pastinya tak akan kudapatkan jika bermain bersama dengan pacarku atau dengan teman cewekku. Dan aku sangat butuh itu!

Sayangnya, dia memandang kebutuhan sekunder (hampir primer)ku itu sebagai sebuah bibit perselingkuhan. Dia takut, kalau-kalau aku akan silau dengan kegantengan teman cowokku itu dan kemudian langsung mempunyai niatan untuk selingkuh dengannya. Halo, memangnya aku terlihat seperti anak kecil yang melihat cowok-cowok itu seperti es krim yang selalu ingin aku makan tanpa peduli apapun rasa es krim itu? Entah itu coklat, strawberry, atau bahkan es krim rasa kurma. Aku itu cewek setia tau!

Kalian pasti mengira ini semua salahku karena tidak mengatakan kalimat terakhir tadi kepadanya. (bukan, bukan tentang es krim rasa kurma, tapi kata-kata kalau aku itu cewek setia) Sejujurnya, aku sudah mengatakan itu ribuan kali! Ralat, mungkin hanya ratusan, atau bahkan puluhan, intinya adalah, aku sudah sering bilang!

Hanya saja, tak peduli apa yang kukatakan, dia paling cuma bilang, “Mungkin otakmu merasa kamu tidak akan selingkuh, namun bisa saja hatimu berkata lain.” Kalau sudah berdebat tentang hati, cowok memang selalu merasa lebih hebat dibanding cewek. Mungkin karena ada teori yang mengatakan kalau cewek lebih memakai perasaan, sedang cowok lebih memakai logika. Aku tak peduli dengan teori itu, yang aku butuhkan cuma satu : kebebasan!

Pernah satu kali, cowokku bertindak keterlaluan dalam kebiasaan overnya ini. Saat itu dia sedang berada di Semarang, kota asalnya. Sedang aku ada di Jogja, kota asalku, yang sekaligus juga menjadi kotanya menimba ilmu. Lalu karena hampir pingsan gara-gara kebosanan, aku putuskan untuk jalan-jalan sore di daerah UGM bersama Heru.

Saat sedang menikmati pemandangan sore yang indah bersama Heru, tiba-tiba datang pesan dari Raka, cowokku.

Bebeb baru ngapain? J

Karena aku berniat jujur dan merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa, maka tentu saja kujawab dengan jujur.

Baru jalan-jalan sore sama Heru…

Baru sebentar kumasukkan Hapeku, sudah ada dering baru lagi. Tapi kali ini bukan dering SMS, melainkan telepon. Dari Raka. Langsung kuangkat.

            “Halo Beb?” kataku padanya.

            “Kamu cuma sama Heru???” kudengar ada nada-nada marah di suara seberang.

            “Iya, cuma sama Heru, abis gag ada temen yang mau ikut sih, Bebeb juga lagi gag di Jogja, hehe,” jawabku cengengesan, berharap supaya dia segera sadar.

            “Hah? Terus sekarang posisimu sama si Heru itu lagi ngapain???” alih-alih sadar, suaranya justru makin gusar.

            “Aku duduk di atasnya lah Beb, kan Heru itu…”

            Belum sempat aku selesai ngomong, dia sudah memotong, “Kamu duduk di atasnya?? Di jalan ramai?? Dan dengan entengnya kamu bilang gitu ke aku??”

            “Emang kenapa Beb? Kan Heru itu…”

            Lagi-lagi omonganku dipotong, “Kamu bener-bener tega Ayu Utami!!” dengan memanggil namaku, berarti saat itu dia sudah resmi marah besar terhadapku.

            Karena takut masalah akan membesar, (sebagai informasi, jika masalah sudah membesar dan tidak segera diselesaikan, maka akan diperlukan waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Pasalnya, dia menunggu batas waktu tiga hari kita dibolehkan untuk marahan seperti pada hadits), maka kuputuskan untuk berteriak sekuat tenaga meskipun lewat telepon.

            “BEBEB!! HERU ITU NAMA SEPEDA PIXIE KU!! BUKANNYA KAMU JUGA UDAH TAU YA???” akhirnya, dengan satu bentakan keras itu, aku berhasil memadamkan sumbu dinamit pertikaian antara kita berdua.

            Jadi kalian sekarang sudah mengerti kan, mengapa aku sangat menginginkan kebebasan? Kebebasan masih menjadi kata yang mewah bagiku.

***

            Namaku Raka, lengkapnya Muhammad Raka Al-Afghani. Jangan tanya artinya karena akan membutuhkan waktu yang begitu lama bagiku untuk menjawabnya. Bagaimanapun juga, nama pemberian orangtuaku ini adalah salah satu kebanggaanku. Aku bisa menghabiskan waktu tiga SKS untuk menerangkan arti namaku ini.

            Namun, bukan namaku yang menjadi inti dari kisahku kali ini. Aku cuma ingin bercerita tentang hal bodoh, yaitu aku dan sifat over ku.

            Jujur, aku memang sangat over protektif pada cewekku, Ayu. Jauh di dalam hatiku, aku sebenarnya tau, kalau over itu tidak baik, tidak sehat, dan bukan termasuk anjuran dokter. Namun, jika kalian  menjadi aku, kalian pasti akan tau, mengapa aku ‘terpaksa’ bersikap begitu. Ya, aku bilang ‘terpaksa’.

            Sekarang, jika kalian memiliki gadis idaman yang menjadi idola di sekolahnya, digandrungi banyak cowok cakep, mulai dari pemain basket, juara olimpiade Fisika, ketua osis, sampai pada preman tukang palak paling disegani se-Kabupaten Sleman. Belum lagi, sifat supelnya yang membuat semua cowok tidak minder bergaul dengannya, bahkan cowok culun, berkaca mata tebal, kurus, item, dan berkantong tipis sekalipun (menyindir diri sendiri). Pasti kalian ingin menjaganya dari segala ancaman yang ada. Begitupun aku.

            Sebelum mendapatkannya, pengorbananku sangat besar. Mulai dari lari-lari dikejar anjing gara-gara aku nendang kepala tuh anjing (gag ada hubungannya sih sama si Ayu) sampai jatuh di got gede samping kosku, gara-gara dikejar tuh anjing (masih gag ada hubungannya sama Ayu). Barulah aku bisa mendapatkan Ayu.

            Setelah mendapatkannya, cobaaan silih berganti datang. Awalnya Toni, anak basket yang kurus, tapi jangkung dan putih plus bermata sipit nan menawan, yang berusaha mendapatkan cinta Ayu. Begitu Toni teratasi, lalu datanglah si Edgar, cowok cakep blasteran Indonesia-Prancis (tapi Prancisnya yang imigran dari Zabubwe atau apalah nama negaranya, aku lupa). Dia menggoda habis-habisan si Ayu. Merayu dengan rayuan gombal yang norak lah, lalu menuliskan puisi cinta yang super norak lah, juga berteriak bilang I LOVE U pada Ayu yang bener-bener super norak plus-plus! Kenapa aku bilang norak? Karena itu semua sudah pernah kulakukan, jadi dia cuma ikut-ikutan saja, plagiat. Plagiat itu norak kan?

            Karena berbagai hal itulah, kuputuskan untuk menjaganya jauh-jauh dari cowok-cowok mupeng, mesum, dan keseringan onani itu. (kali ini aku bersih dari semua tuduhan itu) Kalau bisa aku ingin memasang rambu-rambu gambar cowok (seperti petunjuk toliet pria) yang di silang besar-besar di depan mukanya. Atau mungkin aku akan memasang spanduk ‘AWAS COWOKNYA GALAK’ yang tergantung di lehernya.

            Dan mungkin, karena sudah terbiasa terlalu menjaga, aku malah menjadi over. Akibatnya, aku bisa merasakannya, dia merasa risih. Aku takut, suatu saat dia akan pergi dari sisiku gara-gara sikapku ini.

            Ketakutanku bukannya tanpa sebab. Tapi berdasarkan hasil penelitian dan risetku terhadap beberapa teman cewekku. Berikut beberapa hasil risetku.

Sampel 1

Aku                 : Kalau cowok kamu overprotektif, gimana perasaanmu?

Seseorang        : Gue cowok, bego!

Aku                 : Abis nama lu Nana sih…

Cowok 1         : Lu nya aja yang bego, ini bukan ‘a’ , tapi ‘o’. Jadi bacanya NANO! Nama artis keren gini bisa salah.

Aku                 : (ngacir, pura-pura gag tau)

Sampel 2

Aku                 : Kalau cowok kamu overprotektif, gimana perasaanmu?

Cewek 1          : (kali ini beneran cewek, gag salah lagi, keliatan dari rambutnya yang dikepang dua) Emm, gag tau sih Mas…

Aku                 : Kok gag tau?

Cewek 1          : Soalnya Aku gag pernah punya cowok…

Aku                 : Ohh, belum laku ya?

Cewek 1          : (tanpa banyak berkata-kata lagi langsung mengambil sepatunya dan… aku tidak ingat apa-apa lagi, gelap)

Sampel 3

Aku                 : Kalau cowok kamu overprotektif, gimana perasaanmu?

Cewek 2          : Si cewek tu pasti akan merasa terkekang. Soalnya cewek itu kayak pasir, kalau digenggam dengan terlalu keras, dia justru akan makin jatuh dari genggaman.

Aku                 : (manggut-manggut sok mudeng)

            Nah, keliatan bukan dari ketiga sampel itu? Betapa mengerikannya efek overprotektif? Jawaban sampel ketiga masih tergolong biasa. Nah, buat sampel pertama aku sampai dikatain ‘bego’. Untuk sampel kedua justru lebih ekstrim, aku dipukul hingga pingsan.

            Dari risetku itu, kuputuskan bahwa overportektif memang sangat berbahaya. Aku harus menghentikannya sekarang juga! Ayu, mulai sekarang, kamu kubebaskan! TOK TOK! (suara palu sidang tanda keputusanku sudah bulat dan disahkan oleh hakim hatiku)

***

            Waaa! Benar-benar kejutan dipagi hari. Baru membuka mataku sejenak, tiba-tiba aku sudah melihat pesan singkat dari pacarku, Raka. Dia bilang, dia bakal berusaha buat gag over lagi padaku dan gag bakal mengecek hidupku setiap jam! Senangnya hatiku.

            Aku langsung merayakan hari bahagia ini dengan mengajak sahabat-sahabatku, seperti Edgar, Toni, Pulung, Bangun, Bangkit, dan cowok-cowok lain untuk maen bareng di Mall. Sudah lama banget rasanya aku gag merasakan hidupku sebebas ini. Kaki terasa lebih ringan melangkah, tangan terasa lebih leluasan bergerak, dan mata lebih leluasa melirik cowok-cowok ganteng, ahihi!

            “Kenapa cowok lu tiba-tiba berubah Yu?” tanya Toni padaku saat jalan-jalan.

            “Gag tau, dia dapet panggilan hati kali Ton.” Balasku singkat sambil senyam-senyum gag jelas.

            “Ck, palingan dia cuma berubah bentar, abis itu jadi lintah penjaga lu lagi.” Tiba-tiba Bangkit dan Bangun menimpali. Dasar kembar identik, ngomong aja ampe bareng, sama lagi kata-katanya!

***

            Sudah tiga bulan sejak Raka bilang dia bakal ngebebasin aku. Dan ternyata tebakan Bangkit dan Bangun salah. Selama tiga bulan ini, Raka tetap kekeh memberiku kebebasan. Asiknya!

            Asiknya…

            Sebenarnya, kata asiknya itu cuma bertahan dua bulan. Karena pada bulan ketiga, aku mulai kangen dia. Kangen SMSnya yang setiap jam itu. Kangen sama kepanikannya kalau tau aku sama cowok (atau sesuatu yang bernama cowok). Kangen sama kecerewetannya, pokoknya semua deh!

            Memang sih, kita masih sering SMSan setiap hari, atau dua hari, atau tiga hari, sekali. Tapi rasanya beda gitu. Entah kenapa sekarang rasanya sepi sekali tanpa dia. Tanpa kecerewetannya. Ya Tuhan, apakah aku mengharapkan dia kembali Overprotektif? Mungkin iya. Aku mau dia jadi overprotektif lagi.

            Baru sebentar aku melamun, tiba-tiba datang SMS. Dari Raka.

Bebeb, aku mau jadi cowok over lagi ah… Gag enak rasanya gini mulu. Hatiku sakiiiit…

            Mendadak perutku mulas.

            Ya Tuhan, kenapa doaku cepet banget dikabulinnya?

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>