Penghilangan Awalan ber- Sebagai Pengaruh Bahasa Daerah

Saya ingin membicarakan kesalahan bahasa yang umum kita jumpai, baik dalam percakapan maupun dalam tulisan. Saya kutipkan di bawah ini kalimat yang tercantum di bawah gambar dalam sebuah surat kabar Ibu kota.

Sudah kumpul. Para pengunjung sudah kumpul memenuhi Gedung Kebangkitan Nasional, tapi peringatan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni Senin malam terpaksa dibatalkan karena tidak adanya rekomendasi dari Menmud Urusan Pemuda.

Dalam penjelasan gambar itu, dua kali redaksi surat kabar itu menggunakan bentuk sudah kumpul. Kata kumpul dalam bentuk baku tidak dapat dipakai sebagai predikat kalimat tanpa membubuhinya awalan: ber- atau ter-; atau jika ditambah dengan akhiran –kan (kumpulkan), maka sebagai predikat kata kerja bentuk indikatif (berita) diberi lagi awalan me- atau di- (mengumpulkan, dikumpulkan).

Perhatikan contohnya dalam kalimat berikut:

-          Murid-murid berkumpul dimuka kelas.
-          Murid-murid terkumpul di tengah-tengah lingkaran itu.
-          Murid-murid mengumpulkan sumbangan untuk membantu korban bencana alam itu.
-          Sumbangan untuk para korban dikumpulkan oleh murid-murid.

Kalimat di bawah gambar dalam surat kabar itu seharusnya ditulis sudah berkumpul. Para pengunjung sudah berkumpul …Tanpa awalan ber-, bentuk itu merupakan bentuk nonbaku. Surat kabar hendaknya menggunakan bentuk baku, bukan bentuk nonbaku.

Bentuk di atas (tanpa ber-) dipengaruhi oleh bahasa daerah, antara lain, bahasa Sunda dan bahasa jawa. Perhatikan contoh di bawah ini.

Jawa:

Yen murid-murid wis pada (baca podo) kumpul, akeh banget obrolane.

Sunda:

Lamun murid-murid geus kumpul, loba pisan obrolanana.

Indonesia:

Jika murid-murid sudah berkumpul, banyak amat obrolannya.

Terjemahan sudah kumpul merupakan terjemahan harfiah bahasa daerah, baik bahasa Jawa maupun bahasa Sunda. Kalau bahasa Jawa itu diterjemahkan kata demi kata, terjemahannya sebagai berikut: Jika murid-murid sudah pada kumpul, banyak amat obrolannya.

Kata pada seperti dalam kalimat terjemahan harfiah itu adalah kata pada yang masuk ke dalam bahasa Indonesia karena pengaruh bahasa Jawa. Umumnya kata pada dari bahasa Jawa itu dapat kita terjemahkan dengan ‘semuanya’.

Tamu-tamu sudah pada duduk. “Tamu-tamu sudah duduk semuanya”.

Penghilangan awalan ber- seperti pada kata berkumpul itu kita temukan juga pada kata-kata lain.

Contohnya:

Usahanya belum hasil.
Usahana teu acan hasil. (Sunda)

Dalam bahasa Sunda, bentukan itu memang tanpa awalan. Tidak seharusnya dalam bahasa Indonesia tanpa awalan ber- seperti pada kalimat contoh di atas. Kata hasil dalam bahasa Indonesia adalah kata benda, sedangkan kata kerjanya berhasil, menghasilkan, dihasilkan.

Kalimat di atas seharusnya: Usahanya belum berhasil, atau; Usahanya belum mencapai hasil (yang memuaskan).

Satu kata lain lagi yang sering ditanggalkan orang awalan ber-nya dewasa ini ialah kata berbeda.

Pendapat kita memang berbeda.
Pendapat Anda berbeda dengan pendapatnya.

Sering dikatan orang:

Pendapat kita memang beda.
Pendapat Anda beda dengan pendapatnya.

Bentuk-bentuk tanpa ber- seperti yang kita lihat dalam kalimat-kaliamt contoh di atas adalah bentuk-bentuk nonbaku. Jika Anda ingin menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, gunakanlah bentuk dengan awalan ber-: ber-kumpul, berhasil, berbeda.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang Benar oleh J.S. Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>