Pikiran Nakal

Pikiran Nakal

Di suatu malam yang dingin di bulan oktober, di atas meja sembari menikmati segelas kopi, di sebuah café di kota Malang dengan suasana romantis dan minimalis, aku bertemu kembali dengan seorang gadis yang dulu pernah membuatku tergila-gila setengah mati. Terasa dadaku seperti akan meledak, saat kami beradu pandang. Tapi dia melengos dan segera pergi tanpa permisi. Tak ada jabat tangan dan tak pula saling tukar kabar. Yang ada hanya tatapan kosong dan seringai penuh kebencian.
Dia memang sangat menarik. Tubuhnya padat berisi. Dia nampak anggun dengan pakaian apa saja. Dan rambutnya masih keriting seperti dulu. Dia juga sudah dewasa – kupikir sekarang dia sudah berumur dua puluh delapan tahun, dan perihal apakah masih gadis atau tidak, aku tak pernah tahu.
Mungkin saja dia sudah menikah. Tapi siapa yang peduli. Dalam hidup, aku memang tidak pernah begitu yakin dengan beberapa hal, dan tak mengherankan jika selama tiga puluh tahun masa kehidupanku, aku sudah terlalu sering melakukan kesalahan. Khususnya dalam urusan percintaan. Dan kulihat dari tatapan mata dan seringainya, dapat kurasakan ukuran cintanya mulai menipis.
Mungkin dia tipe favoritku, karena ukuran dadanya yang lumayan besar, atau kulitnya yang putih, atau sepasang matanya yang tajam, meski tak terlalu tinggi. Aku ingin sekali menghabiskan waktu yang lama bersamanya, di café ini atau di atas ranjang kamar hotel. Yang mana saja tak jadi soal selama aku bisa bersamanya, Itu saja sudah cukup. Entah kenapa, aku memang suka dengan gadis yang memiliki bentuk tubuh yang menggoda.
Akan tetapi untuk laki-laki yang sudah terpesona, maka gadis mana pun akan selalu nampak sempurna di matanya. Walau aku memang suka memperhatikan lekuk tubuh perempuan., tapi jika tidak merasa nyaman, ya percuma saja.
“Kemarin, di café, aku ketemu lagi sama dia,” ujarku pada seseorang.
“Serius?” sahut orang itu.”Masih cantik seperti dulu.”
“Tidak juga, Tapi tambah montok.”
“Kamu sempat minta nomor handphone-nya?.”
“Entahlah, Kami cuma saling pandang selama beberapa detik – setelah itu dia langsung pergi.”
“Dasar goblok! Kenapa tidak kamu kejar?”
“Aku malu.”
“Tapi kamu kejar, dia kan?.”
“Tidak, Aku cuma memandanginya dari kejauhan.”
Setiap malam, Aku selalu membayangkan ketika Ia sedang berbaring sendiri di sunyinya malam. Ditemani sinar lampu yang temaram. Majalah edisi lama yang selesai dibaca telah raib berpuluh-puluh halaman akibat sepasang mata yang tak sabaran. Walau tak menghilangkan rasa kebosanan. Apalagi kesepian dan kedinginan. Saat itu, mungkin saja dia sedang butuh kehangatan. Bukan persenggamaan tapi pelukan.
Ya, pelukan. Pelukan tulus dan mesra dari seseorang yang bisa Ia banggakan. Bukan pelukan penuh birahi yang menjurus kepada hal yang bukan-bukan, dari suami orang atau laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal.
Ganteng atau jelek tak jadi soal. Karena sesungguhnya, aku tahu bahwa dia hanya ingin dicintai dan dirindui. Bukan ditiduri apalagi dipukuli. Sayangnya, semua khayalan itu cuma bayang semu.
Setelah sekian lamanya, kurasa, aku sudah bisa melupakannya. Setidaknya dengan kecupan selamat tinggal atau sekadar saling melambaikan tangan sembari menyapu air mata yang tak tertahan. Semua yang terlintas di dalam pikiranku, isinya memang seperti adegan drama percintaan.
Dan begitulah. Jika saja bisa kumulai cerita ini dengan kalimat “Pada suatu hari” dan diakhiri dengan “Dan mereka bahagia untuk selama-lamanya.”
Nyatanya, saat ini dia pasti sedang bersama kekasihnya, saling berpegangan tangan dan berpelukan. Dia bukan lagi seorang “Gadis” yang kesepian yang menunggu kepastian dariku. Dia telah menemukan pasangan hidupnya.
Dia di timur, aku di barat. Kami menjelajahi jalan kehidupan yang berbeda. Dengan ekspresi bahagia dan saling bertegur sapa dengan pasangan yang berbeda.
Singkat cerita…
Dan dengan seisi hati yang hancur ketika melihatmu bersamanya, kulantunkan kata-kata dalam hati yang bergema dalam ingatan yang tak tersamar tentang segala hal yang akan kulakukan, jika saja kau terbaring bersamaku pada saat ini.
“Oh, I was just so sure of everything…”
“Ooh, that’s what you get for dreaming aloud…”
“Oh, the day that words are clearer to me…”

“Selesai”

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: