Proses Kreatif Saya (Rendra) Sebagai Penyair (Bagian 2)

Artikel ini merupakan lanjutan dari bagian 1 yang membahas mengenai berbagai proses kreatif yang menyertai Rendra dalam menelurkan karya-karya fenomenalnya. Tulisan ini dapat anda baca di Buku Mempertimbangkan Tradisi.

Pengalaman mengajarkan bahwa penonton dan pembaca tidak bodoh, dan lebih peka daripada kritikus. Mereka lebih cepat menerima karya-karya saya yang tergolong “sulit” seperti – Teater Mini Kata, Kasidah Berzanzi, yang keduanya sangat eksperimental. Dan mereka juga lebih hangat dan spontan dalam menanggapi sajak-sajak saya yang eksperimental, seperti “Khotbah”, dan lain-lain. Tetapi mereka memang tidak akan bisa menerangkan kenapa mereka suka atau tidak suka dengan bahasa kritik seni. Bahasa mereka adalah bahasa kehidupan sehari-hari. Ya, saya menghargai penonton dan pembaca lebih tinggi daripada kritikus.

Kritikus adalah jembatan antara para penonton dan pembaca dengan seniman? Omong kosong! Kritikus adalah jembatan antara seniman dengan kemungkinan-kemungkinan spekulatif dalam dunia seni.

Jembatan yang benar-benar bisa diandalkan antara seniman dengan penonton atau pembacanya adalah kekuatan “bentuk seni”-nya. Seniman yang menghiba-hiba dan memohon agar kritikus suka menjadi jembatan bagi karyanya, sebenarnya kalau diteliti ternyata karyanya itu memang punya “bentuk seni” yang lemah, atau yang tidak otentik timbul dari penghayatan terhadap kehidupan, tetapi timbul dari prasangka-prasangka yang eksentrik dan dari tingkah genit yang dibikin-bikin. Jadi memang serba artifisial.

Ya, kekuatan “bentuk seni”-lah yang bisa menjadi jembatan antara seniman dan publiknya. Tetapi setelah publik menyeberangi jembatan itu, kekuatan yang bisa memuaskan publik dalam hal mutu adalah “isi seni” itu.

Dalam hal ini saya sependapat dengan ucapan penyair warga negara Inggris kelahiran Amerika, T.S Eliot, yang dikutip oleh Mochtar Lubis: “Kesusastraan diukur dengan kriteria estetis, sedang kebesaran karya sastra diukur dengan kriteria di luar estetika”.

Memang betul. Karya-karya sastra yang dianggap besar di dunia dan banyak dibaca oleh orang adalah karya-karya yang yangsetelah bisa menawan rasa-sen pembacanya (bukan kritikusnya), lalu masih bisa pula memberikan pemikiran-pemikiran penting yang menyangkut kebutuhan dasar manusia dalam hidupnya yang aktual ataupun yang spekulatif, yang rohani ataupun yang jasmani, yang filosofis ataupun yang sosial-politik-ekonomi, yang mistis ataupun yang logis, yang puitis ataupun yang prosais; pendeknya yang menyangkut kebutuhan dasar manusia sebagai totalitas. Dan yang saya maksud dengan yang “dasar” adalah tak terhindarkan secara nasib dan kebudayaan. – Karya sastra yang besar selalu mengandung gagasan yang menyangkut kebutuhan dasar tersebut. Gagasan yang disebut sebagai “gagasan besar” sebenarnya lebih tepat disebut “gagasan penting” karena sifatnya yang mendasar itu. Dan itulah pula sebabnya kenapa “gagasan besar” itu rumusannya sederhana, tidak di-kompleks-kan atau di-muluk-kan.

Lalu masih ada tempatkah untuk gagasan kecil dalam kesenian? Pertanyaan semacam ini sebetulnya tidak relevan. Tentu saja ada. Dalam kehidupan kita toh juga membutuhkan hiburan hati atau klangenan, melihat yang aneh-aneh atau yang manis-manis untuk selingan dan melewatkan waktu senggang kita. Kerajinan tangan pun ada gunanya dalam hidup ini. Meskipun semuanya itu tidak bersifat dasar. Karena manusia memang tidak hanya sekadar bersifat dasar. Tetapi untuk yang kecil dan yang besar masing-masing kan ada proporsi dan harganya yang sesuai.

Kalau yang dipersoalkan apakah ada faedahnya seniman menggarap peristiwa-peristiwa kecil, lain lagi relevansinya. Sebab gagasan besar sering justru suka meminjam peristiwa kecil. Tidak semua gagasan besar harus punya wadah peristiwa besar seperti dalam Arjuna Wiwaha, Dewa Ruci, Bhagawad Gita, Oidipus Rex, Hamlet, dan seterusnya. Anton Chekov justru sengaja memakai peristiwa yang kecil dan datar untuk mengutarakan gagasannya mengenai hubungan jalan hidup manusia yang konyol dan mancet dengan keterbatasan kebudayaan kota kecil di daerah yang jauh dari Ibu Kota dan masih bersifat borjuis-feodal. Contoh lain serupa itu masih banyak lagi.

Ironinya justru gagasan-gagasan remehlah yang sering meminjam peristiwa-peristiwa yang dramatis atau eksentrik. Ironis pula bahwa seniman yang “sok seni” hanya sampai pada “tipu seni” dan bukan “daya seni”.

Sekarang, kembali kepada persoalan kegelisahan saya waktu akan menulis sajak-sajak yang terlibat di dalam masalah sosial-politik-ekonomi. Jelas saya tidak bisa mengulang sukses sajak “Khotbah” atau “Nyanyian Angsa” yang banyak disenangi pembaca/penonton, diterjemahkan ke beberapa bahasa, dan dipuji oleh banyak kritikus.

Dasar keterlibatan kedua sajak itu adalah moral dan akal-sehat, sehingga lahir sifat yang menggugat pada konvensi. Sarana di luar estetika yang saya pakai adalah filsafat kemanusiaan dan pengalaman mistis. Di situ mungkin bagi saya untuk memberikan kontur misteri ambiguity kepada sifat brutal dari sajak-sajak itu.

Tetapi untuk menulis sajak yang terlibat di dalam masalah sosial-ekonomi-politik, di luar sarana estetika, saya tidak bisa hanya memakai filsafat semata. Saya harus memakai terutama ilmu sosial-politik-ekonomi, termasuk juga riset akan data dan fakta. Jadi bukan sekadar sarana yang spekulatif tetapi sarana yang kongkret dan lugas. – Astaga! Maka sadarlah saya, bahwa saya akan kehilangan isi yang mempunyai nuansa misteri. Ya, saya harus mengikhlaskan diri untuk tidak memakai pesona misteri dan ambiguity yang menjadi kekuatan “Nyanyian Angsa” dan “Khotbah”. Kebutuhan isi rohani dan pikiran saya tidak mengizinkan saya untuk bimbang lagi. Kalau perlu saya harus ikhlas kehilangan penggemar-penggemar yang lama. Sebab dari dulu saya tidak mencari penggemar, meskipun saya gemar penggemar. Wawancara dan persetubuhan dengan hidup lebih utama bagi saya.

Makin lama saya makin mantap. Misteri dan ambiguity saya ganti dengan pengertian analisa struktural. Tanpa itu sajak sosial tidak punya relevansi politis. Dan inilah yang saya ingin dan maksudkan di dalam menulis sajak-sajak sosial-politis: relevansi politis. Bukan relevansi moral seperti dalam sajak-sajak saya “Khotbah” dan “Nyanyian Angsa”.

Dan isi gagasan saya tersebut di atas membutuhkan “bentuk seni” yang lain. Metafora surealistis dari “Khotbah” dan “Nyanyian Angsa” tidak bisa dipakai di sini secara pokok. Melainkan saya harus menggantinya dengan struktur sajak yang mengandung skema dan metafora yang mempunyai kekuatan grafis.

Saya bersyukur pada bakat artistik saya yang membuat saya dengan gampang bisa mengganti metafora yang simbolistis dan surealistis dengan metafora yang mempunyai plastisitas yang grafis itu. Rupa-rupanya persoalan estetika dalam menulis sajak sosial-politik-ekonomi bukanlah kesukaran praktis begitu ide “bentuk seni”-nya sudah saya temukan.

Tinggal selanjutnya menguji perkembangan kesenian saya itu dalam komunikasi yang nyata.

Di depan gelora massa mahasiswa di kampus-kampus UI, ITB, UNPAD, IPB, dan UII, dan juga di depan para penonton dari beragam lapangan kehidupan yang memenuhi Teater Terbuka di TIM dan Gedung Olahraga di Yogyakarta, ternyata kekuatan “bentuk seni” saya yang strukturnya skematis dan metaforanya plastis-grafis itu berhasil mencekam penonton. Sedangkan waktu sajak-sajak itu diterbitkan sebagai buku yang berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi, dalam tempo sebentar sudah mencapai cetak ulang. Selanjutnya buku itu sudah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Inggris. Sebentar lagi akan muncul pula terjemahannya dalam bahasa Jepang.

Ya, faktor estetika sudah saya pecahkan. Saya tidak lagi pusing dengan pendapat para kritisi yang terkurung oleh alam pikiran yang meskipun sudah beragam tetapi tidak punya pengertian politis, dan oleh karenanya saya anggap tidak mengerti persoalan dalam hal ini.

Orang-orang Lekra dulu tidak bisa mencapai publik besar karena mereka tidak mau berpikir serius mengenai “bentuk seni” dari gagasan mereka.

Saya akhiri makalah pesanan DKJ ini di sini. Selesailah tugas pesanan saya untuk menguraikan proses kreatif saya sebagai penyair. Gambaran periode-periode proses kreatif itu tidak terlalu mutlak batasnya. Sebenarnya batasnya bukan dalam gambaran tahun atau masa (meskipun ada unsur tahun dan masa itu), tetapi dalam gambaran “momentum”.

O, ya baru-baru ini saya pergi ke Tana Toraja dan Tana Bugis. Saya mengalami cultural shock. Latar belakang kebudayaan Jawa Mataram Baru saya diguncang-guncang oleh dinamisme kebudayaan di sana dan saya merasa mengkeret. Saya merasa bahwa sajak-sajak yang sudah saya tulis perlu saya per…. Ah, saya sungguh belum siap bicara mengenai proses yang sekarang ini sedang terjadi dalam diri saya.

1982

This entry was posted in Sastra and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Proses Kreatif Saya (Rendra) Sebagai Penyair (Bagian 2)

  1. Pingback: Proses Kreatif Saya (Rendra) Sebagai Penyair (Bagian 1) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>