Puisi ‘Arjuna’ dan ‘Kembang Melati’ Karangan Sanusi Pane

Maka sekali lagi Sanusi Pane merasa dirinya sebagai Arjuna yang mendapat petua Krisyna:

Arjuna

Kepada R.P.Mr.Singgih

Aku merasa tenaga baru
Memenuhi jiwa dan tubuhku
Hatiku rindu ke padang Kuru,
Tempat berjuang, perang selalu.

Aku merasa bagai Pamadi,
Setelah mendengar sabda Guru,
Narendra Krisyna, diksetra Kuru:
Bernyala kedewan dalam hati.

Tidak ada yang dapat melintang
Pada jalan menuju maksudku:
Menang berjuang bagi Ratuku

Mahkota nanti di balik bintang
Laksmi letakkan di atas kepala,
Sedang bernyanyi segala dewa

Sekali ini, bahkan kesadaran itu demikian kerasnya, sehingga ia rindu ke padang Kuru (tempat Pandawa dan Kurawa berperang), merasakan “kedewan bernyala dalam hati.” Dan ia yakin benar, bahwa “Tidak ada yang dapat melintang” menghalangi “jalan menuju maksudku: Memang berjuang bagi Ratuku.”

Tetapi keraguan bukan hal yang tidak pernah dialaminya pula. Keyakinan saja belum membikin apa-apa, dan belum menerakan apa yang akan dan harus dibikin, maka kadang-kadang ia menyalahkan dirinya yang lalai:

Kembang Melati

O, Jiwa yang menanti Hari
Sudah Hari datang bernyala,
Engkau bermimpi, termenung lalai.

Dan selagi ia berjalan di tepi sungai Jamuna, tatkala ia mengembara di India, ia bertanya-tanya: Bergunakah mimpi dan cita-citaku?” karena ia merasa “Hari datang dan pergi dan aku tinggal berangan-angan” belaka (Di tepi Jamuna).

Diambil dari buku Membicarakan Puisi Indonesia karya Ajip Rosidi.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>