Puisi Cinta Sapardi Djoko Damono

Kita semua tentu mengenal Sapardi Djoko Damono. Salah satu sastrawan yang terkenal karena puisi-puisinya yang dalam dan meneduhkan. Berbagai karyanya telah menyentuh sanubari kita, membentuk kepribadian baru bagi beberapa orang, dan memberikan jalan cerita yang berbeda dalam masa depan. Sapardi dan puisinya, adalah anugerah dari Tuhan untuk Rakyat Indonesia. Keberadaannya adalah berkah bagi dunia sastra dan bahasa Indonesia.

Dan sekarang, apa salahnya kita menikmati beberapa bait puisinya tentang cinta? Mungkin, kita akan semakin paham akan cinta setelah membaca puisi dari Sapardi. Atau, bisa jadi justru semakin tak paham dengan cinta. Tak apalah, yang penting kita sudah menikmati keindahannya bukan?

Oh iya, puisi ini diambil dari manuskripnya dalam buku puisi Hujan Bulan Juni. Anda dapat mendownload buku Hujan Bulan Juni itu secara langsung pada link yang telah kami sediakan.

KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKA

ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa: betapa sengit
cinta Kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit.

menyisih awan hari ini: di bumi
meriap sepi yang purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
disayap kupu-kupu, di sayap warna

swara burung di ranting-ranting cuaca,
bulu-bulu cahaya: betapa parah
cinta Kita
mabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah

1968

NARCISSUS

seperti juga aku: namamu siapa, bukan?
pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam
tetapi jangan saja kita bercinta
jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma

atau tunggu sampai angina melepaskan selembar daun
dan jatuh di telaga: pandangmu  berpendar, bukan?
cemaskah aku kalau nanti air bening kembali?
cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi?

1971

SEPASANG SEPATU TUA

sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang berdebu,
yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat jalan berlumpur sehabis hujan – keduanya telah jatuh cinta kepada sepasang telapak kaki itu
yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang kanan mengira mungkin besok mereka diangkut truk sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk bersama makanan sisa
sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya bisa mereka pahami berdua

1973

BUNGA, 2

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik taman memetiknya hari ini; tak ada alas an kenapa ia ingin berkata jangan sebab toh wanita wanita itu tak mengenal isyaratnya – tak ada alas an untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya selembar demi selembar dan membiarkan berjatuhan menjelma pendar-pendar di permukaan kolam.

1975

AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

1989

DALAM DOAKU

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang bersalaman
tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam
doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara hijau
senantiasa, yang tak henti-henti mengajukan
pertanyaan muskil kepada angina yang mendesau entah
dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang
hinggap di ranting dan mengugurkan bulu-bulu bunga
jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap
di dahan mangga itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angina yang turun
sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang
entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi
rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi
kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu

1989

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Puisi Cinta Sapardi Djoko Damono

  1. Pingback: SEPASANG SEPATU TUA | Hayuno Sakura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>