Puisi “Di Lingkung Adat Lembaga” Karya Sanusi Pane

Ada nada-nada murung yang menonjol dalam beberapa buah sajak, bagaikan seorang yang direnggut orang dari kebahagiaan berdua dengan kekasihnya. Tidak jelas bagi saya, apakah sebab yang sesungguhnya yang menyebabkan hal itu, tetapi dalam beberapa sajak terbuka juga keterangan yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Sajak Sanusi Pane, “Senja” melukiskan hari yang menjelang malam, yang membuat penyair terkenang akan kekasihnya yang ‘diikat adat.’ Dalam sajaknya ‘kenangan’ iapun meratapi nasibnya yang malang “Mengapa aku baharu muda dapat petaka, Habis harapan berbagai di sisi tunangan?” lantaran “tidak diberi menjadi satu.” Agaknya pengalaman pahit itu pula yang menyebabkan ia menulis sajak yang mengutuk “lingkungan adat lembaga” dalam sajaknya ‘Di lingkung Adat Lembaga’. Sajak ini melukiskan keburukan kongkongan adat bagi pertumbuhan jiwa yang hendak merdeka:

Di lingkung Adat Lembaga

Seperti balam dalam sangkar tidak merdeka
Engkau dipagar adat lembaga, dara kesuma,
Betapa hati tidak masgul, sedang sengketa
Melihat engkau dipandang benda tidak bersukma

 Dari dahulu aku selalu menyangka terbit
Bintang kejora gilang-gemilang pada langitmu
Aduh, jalan merdeka kepadamu rasa sempit,
Tidak berani melintang pair, berjuang maju.

Dalam lingkungan adat lembaga jiwamu layu
Tidak tumbuh menurut pikiran badan sendiri.
Tidak boleh menurut hajat, ditimbulkan cinta.

 O, balam tawanan lihat burung di puncak kayu.
Bernyanyi riang, berlompat-lompat, bersuka diri.
Kebebasan jiwa, kelepasa badan, itulah cinta.

Dalam sajak ini penyair mengajak “dara kesuma” untuk keluar dari sangkar, karena lingkungan adat lembaga akan membikin “jiwamu layu, tidak tumbuh menurut pikiran badan sendiri, tidak boleh menurut hajat, ditimbulkan cinta. “Hidup yang benar adalah hidup burung di puncak kayu yang “Bernyanyi riang, berlompat-lompat, bersuka diri. “Dan karena itu cinta baginya adalah “Kebebasan jiwa, kelepasan badan.”

Persoalan kongkongan adat yang membekukan kebebasan jiwa ini, adalah motif yang sangat disukai oleh para pengarang roman Indonesia sekitar tahun tigapuluh, tetapi heran sekali tidak berapa banyak kita jumpai dalam puisi.

Diambil dari buku Membicarakan Puisi Indonesia oleh Ajip Rosidi.

 

 

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Puisi “Di Lingkung Adat Lembaga” Karya Sanusi Pane

  1. Pingback: Arti kata Balam | SastraNesia

  2. Pingback: Arti kata Kesuma dan Kusuma | SastraNesia

  3. Pingback: Arti kata Sukma | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>