Puisi “Jalan Slamet Riyadi Solo” Karya Widji Thukul

Dalam sejarah perjuangan Indonesia, nama Widji Thukul akan selalu harum dikenang. Bukan karena pengaruhnya dalam pemerintahan, tapi karena pengaruhnya dalam memerangi pemerintahan yang lalim masa itu. Dia dan sajak-sajak menantangnya, adalah sebuah teriakan yang memanaskan telinga para penguasa.

Berkebalikan dengan penguasa, puisi dari Widji Thukul justru membangkitkan semangat para kaum proletar. Puisinya menjadi penggerak dan penyemangat dalam setiap gerakan revolusioner. Thukul terus menulis puisi keberanian itu, hingga kemudian pada tahun 1998 dia secara misterius menghilang. Sampai sekarang, tak ada yang tahu di mana dirinya.

Puisi Jalan Slamet Riyadi Solo ini cukup mirip dengan puisi Thukul yang lain seperti Nyanyian Akar Rumput dan Peringatan. Dua puisi yang sarat akan kritik terhadap penguasa.

Puisi Jalan Slamet Riyadi Solo ini juga menjadi saksi bagaimana Thukul melihat daerah Solo telah menjadi korban kekuasaan asing. Dengan premis pembanding yang tepat, Thukul mengajak masyarakat untuk tidak begitu saja terima dengan perubahan yang dibuat pemerintah. Puisi menjadi kritikan kepada kaum atas yang semena-mena terhadap kaum buruh dengan kelas ekonomi menengah ke bawah.

Apakah pendapat Widji Thukul itu memang benar? Tentu semua memiliki sudut pandang masing-masing. Namun, bagi kami, sangat perlu untuk melihat perubahan dan modernisasi dari berbagai sisi. Karena itu, mari kita cermati bersama, puisi karya Widji Thukul: Jalan Slamet Riyadi Solo.

Jalan Slamet Riyadi Solo

dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah

banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi

gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus

hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat potong jalan

“hei hati hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!”

solo, mei-juni 1991

This entry was posted in Puisi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>