Puisi ‘Kastil’ Karya Arind Reza

Puisi yang bebas.

Itulah kesan kami terhadap tulisan Arind Reza ini. Silahkan menikmati, sahabat.

Kastil

Beginilah ritual kau merumuskan selamat datang. Setelah menggelar senyum pura-pura di depan gerbang setengah rela, kau merebahkan bahu pada kesalahpahaman paling baku : menampar silsilah sampai ke anak cucu. Piring-piring berjalan-jalan, menghidangkan aneka rupa kebohongan yang kau kemas setelah tertawa sehari-semalam. Gelas-gelas mengaduk sendiri, setengah rasa menyumpal diri dengan nyali. Menerka sebisanya bahwa perjamuan kali ini tak semudah satu ditambah satu dipahami selalu dua.

Ketika para tamu lupa membaca doa sebelum tidur, akan kau sediakan mantra paling manjur bagi mata-mata para pelupa. Cara terpejam bagaimanapun juga menjadi niscaya tak seketika bisa dimaklumkan satu-dua keping logam mulia. Bahkan ketika kesepian mulai mencekik, berjabat tangan bukan lagi alasan yang mampu menyamarkan kesedihan selihai musik klasik. Semuanya hanya menjadi nanar, bertebaran di lantai kamar, untuk kemudian satu persatu kau pungut sebagai sarapan menjelang batas pemutusan hari penting yang mendorongmu untuk berbaris di garda terdepan.

Tentu tak ada lagi keresahan berendam lama-lama di cekungan matamu. Segalanya telah terpeta, menunggu eksekusi di sela-sela dansa dan pesta, lantas berakhir dengan euforia :  aneka kebutuhan rumah tangga dan lagu dangdut seksi yang begitu piawai memancing atraksi.  Kau mengaminkannya sebagai doa menjelang berbuka puasa di bulan-bulan siasat yang menyuguhkan pementasan drama berduet mesra dengan telenovela. Membuat semesta lupa pada waktu yang menua, membiasakan waktu tak sabar masuk daftar tunggu setiap hari, minggu,bulan, dan windu.

Pada suatu dini hari kau akan bangun dengan kesenyapan melebihi biasa. Lantas kembali lelap untuk bangun di keriuhan luar biasa, dimana kau adalah kebutuhan rumah tangga yang dibakar beramai-ramai lantaran sudah kadaluarsa. Pesta yang kau janjikan hanya riuh-rendah amin di gua-gua, untuk janji-janji yang dibatalkan buka puasa pada bedug yang disaksikan mata para pelupa. Tak ada lagi yang sudi menunggu, kau telah dibuatkan jembatan sedemikian jauh dari bantaran waktu. Kau telah diberi jatah buka puasa bahkan sebelum siapa saja tahu mengapa harus betah menjaga kerongkongan kering selama meta berkedip dan merasakan nyeri dan lupa sedemikian mirip.

Tak berapa lama kau akan jatuh terlelap, lagi, untuk pementasan drama dan telenovela dunia, dengan satu sutradara, tanpa jeda dan layar bertepuktangan di dalamnya.

 

Semarang, 8 Maret 2016

 

 

Nama saya Reza Gharini, tapi teman-teman saya lebih mengenal nama pena saya, Arind Reza. Saat ini sedang menempuh studi akhir di salah satu universitas di Semarang. Saya sedang belajar menulis puisi, mencoba rajin mengirimkan puisi, dan suka membaca beragam puisi sebagai sumber inspirasi. Aktivitas saya bisa dilihat di akun FB Arind Reza, atau di arindreza27@gmail.com dan 549A13B4 jika ingin ngobrol atau ngopi cerdas.

This entry was posted in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Puisi ‘Kastil’ Karya Arind Reza

  1. Teringat Afrizal Malna soal gaya menulisnya….Lanjutkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>