Puisi “Melati” dan “Akhir Kata” Karangan J.E Tatengkeng

Kedamaian hatipun hanya ‘kan Tatengkeng jumpai dalam kesadrahan dan kesediaan menerima kasih Tuhan. Dan kesadrahan itu, ditemuinya tatkala ia melihat kembang melati yang indah suci tumbuh di tempat yang jelek di balik batu, yang memberi jawaban:

Melati

Tempat ini tida’ kucari,
Bukan olehku tempat dipilih,
Melainkan Tuhan sudah gemari,
Saya berkembang di tempat geli!

Hatiku sungguh riang senang,
Dalam tempat yang ia berikan,
Di sini saya pancarkan terang,
Seperti Ia sudah tentukan!

Kesadaran yang lebih tegas dikatakannya dalam bait terakhir sajak terakhir (Rindu Dendam : Akhir Kata), yang merupakan gagang tempat sirih pulang:

Akhir kata

O, Tuhanku,
Biarkan aku menjadi embunmu,
Memancarkan  terangmu,
Sampai aku hilang lenyap olehnya….
Soli Deo Gloria!

Diambil dari buku: Membicarakan Puisi Indonesia oleh Ajip Rosidi.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi. Bookmark the permalink.

One Response to Puisi “Melati” dan “Akhir Kata” Karangan J.E Tatengkeng

  1. iskandar says:

    tak ada kata dalam segala bahasa…
    sanggup menguak kagum ku…
    j.e tatenekeng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>