PUISI “Metafora Awal Kembara” dari Olga Koswanurfan Dianka

Metafora Awal Kembara

(Sepilihan Larik dari Puisi-Puisi Penyair Indonesia Eksil)
 
Melempar pandang, dan tangan menggapai,
aku ayunkan langkah menuju utara.
Burung melayang bebas tiada gundah,
dan musim gugur menghias wajah tanah rendah.
Aku tertegun pada bumi ini,
aku menengadah menatap jauh,
senja terdampar di langit biru,
padaku permulaan dari yang baru.
 
Kutinggalkan kau
ketika embun menentang matahari pagi,
kugenggam segumpal harapan
di balik kenangan tahun-tahun yang silam,
perjalanan ini adalah keharusan
atas rentetan waktu yang sudah aku tinggalkan,
sedang kenangan
menggores setiap batu yang berjejer di jalan-jalan.
Meliuk dedaunan bukan karena hembusan angin,
dan dengan wajah sayu kaulambaikan tangan
padaku, aku mencari makna di balik kesayuan pesan,
atau sesuatu yang kausimpan?
Ibakah, atau sesuatu yang tak bisa kaukatakan?
Seperempat abad aku tenggelam
dalam sejarah persahabatan yang panjang
karena sejarah itulah aku kenal padamu,
dan karena sejarah itu pun aku meninggalkanmu.
Pagi ini langit berdandan pelangi musim panas,
suatu kehadiran menguak kebekuan malam panjang,
suatu kehadiran dari wajah-wajah yang dirindukan,
suatu kehadiran dari hati, dan perasaan yang diharapkan,
suatu kehadiran untuk pertemuan
segala isi hati dicurahkan.
Di pagi ini ada yang berdendang lirik pagi,
ada kata-kata yang berapi tapi juga juga yang menyayat hati,
ada yang menegaskan diri
untuk apa dicoretkan pena,
ada yang diam
tapi di dalam menyala bagaikan bara.
Biarlah berbagai warna saling bercengkrama,
dan darinya meletakkan diri di warna apa.
Bulan tiada bercahaya seperti biasa,
seolah mendengarkan degup jantungku,
degup kita sesenandung,
jauh menusuk ke relung-relung.
Setiap detik menanti,
kau, dan aku menyelam ke dasar pencarian,
di bumi dimana kaki injakkan
tekad padat, dan hati nyalang.
Sekali setia,
tak seorang pun dari kita mengelak,
kehormatan pasti kita bela,
walau mati menyalak.
 
Ada mimpi menyelinap,
kuraba kemudian kutangkap,
aku mendengar kata-kata,
menyibak pikiran, dan mengetuk benak.
Aku gali kembali waktu, sayang sulit kutemukan api,
ada kehidupan yang tidak disadari,
berlayar kemudian menepi, terasa warna sudah berganti.
Mengapa kaucoreng mukamu, kawan,
untuk membadut di tengah hari demi sesuap nasi,
atau sepotong roti?
Kemarin mukamu bersih, dan kita saling berkasih
tapi hari ini kita berselisih,
setia walau mati memburu,
bagaimana pikiran bisa bertemu?
Mengapa kaucoreng mukamu, kawan,
untuk membadut di tengah hari demi ketenangan diri,
sesuap nasi, atau sepotong roti?
Terlalu cepat
bila kusebut mentari telah memancar di timur,
tapi kepak burung yang dambakan kenikmatan pagi
menandakan fajar tak jauh kan hadir di bumi.
Angin berembus menggugah keheningan,
menampar bergumul dengan awan berkepul,
jutaan hati merintih, biar walau lirih angin ini berembus,
menguak, dan menerjang
rengat, dan rayap lenyap
dalam amukan ini.
Bumiku butuh prahara, dan taufan
yang pasti datang!
Aku yang terpental di sudut bumi ini,
beku dalam pencarian,
kuraba waktu, dia menantang aku berpacu.
Gema suaraku ditelan debu,
pelangi “persahabatan” menyumbat mulut, dan menutup mataku,
berdiri manusia buta, pekak, dan bisu,
dan itu adalah aku.
Sudah kembali laki-laki itu dari daerah luka, dan siksa,
ditanyanya percik air yang mendampar pasir,
dia mendapat jawab,
bahwa angin yang mengembus masih segar menepis senja,
bahwa lumpur, dan air masih semerbak wangi,
bahwa hati masih memarak pagi merekah,
bahwa bintang di langit masih berkedip,
sepotong bulan menggantung di langit.
Di sini batu-batu pun remuk oleh keteguhan hatinya,
tiada sesuatu pun kuasa membekukan matahari di hatinya,
degup jantungnya adalah degup semula,
sekali melangkah
enggan berbalik apalagi menyerah.
Di sini tapaknya jauh merasuk ke perut bumi,
dan bayangan menggantung di langit biru,
diteteskannya dari pena itu apa-apa dari kehidupan,
dan diajarkannya bahwa hidup adalah perlawanan.
Ketika angin mengembus menanya
adalah darah berubah warna,
dan pedoman bertukar arah,
dijawabnya: “aku adalah aku”
saat itu cahaya membias ke seribu penjuru.
Tak akan mati, dia adalah dia,
walau rambutnya memerak, namun tambah remaja,
dan membaja,
tambah jernih seperti air telaga!
Hati remaja bergetar menggoncang bumi,
Menukik ribuan garuda dari angkasa.
(Minggu, 26 Februari, 01.09)
Kelapa Gading, Jakarta Utara
Penulis: Olga Koswanurfan Dianka
Alamat: Perumahan Kelapa Puan Timur 2, Blok N/B 2, No. 2.
Nomor telepon: 08179818708, & E-mail: hierroolga@yahoo.com
Instagram: @olgakdid
Path: olgakd ID
Line: olgakd
This entry was posted in Puisi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>