Puisi Mikhael Wora

Puisi Mikhael Wora

SAJADAH

Adalah sebuah ibadah panjang
terbentang di atas sajadah hijau
hingga kaki-kaki lemah menekuk doa
bibir-bibir getar mengucap ampun
tengkuk-tengkuk kaku merunduk sujud
sajadah basah dibanjiri peluh
dibanjiri jemu tanpa jawab

rabana
di atas sajadah-Mu
kuhidangkan teriak tanpa suara
tangis tanpa air mata

sebuah sembah nan basi
sebentar lagi dikerumuni lalat
bila tak lekas Kau santap
sebagai sarapan pagi-Mu nan lezat
-Ende, 2017

MARYAM binti IMRAN

Ya namamu, maryam
sejauh hari sukmaku mengapung di permukaan cinta: lautan embun
tatapmu hawa sejuk membelai gerah tak berujung
meski kadang kulalai menjamu jumpamu

Maryam,
apalah makna sebait soneta tanpa sepasang mata
apalah arti sebuah rindu tanpa selembut jamah
apalah daya seorang pujangga tanpa sebatang pena

duhai kau, manisku
tahukah engkau, memendam kecupmu dari bibir mimpi
adalah nikmatnya zamzam di tengah gersang sahara?

cintaku tak jauh dari dadamu, maryam
kau balut ia di balik selendang langit malam
di mana bulan, bintang dan doa bertengger dalam senyap
-Maumere, 31/5/2017

*Mikhael W. Mahasiswa STFK Ledalero. Tukang kebun yang rajin menanam puisi. Tinggal di Gere-Maumere. Penulis buku puisi “Surat Cinta Untuk Adonai” ini sedang mengerami buku puisi keduanya.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: