Puisi Pecundang

Hidupku sempurna!
Kataku pada bayangan di cermin yang sedari tadi menatapku
Namun dia tak bergeming dan terus menatapku
Lalu aku melihat mulutnya bergerak dan mengucapkan
“Tolong, tuan”

Persetan dengannya

Aku memilih keluar dan berbicara pada tissue bekas yang teronggok di lantai kamar
“Bagaimana rasanya…” tanyaku padanya
Dia menatapku penuh kebingungan
Membuatku berpikir untuk menemukan kata yang cocok
Tapi tetap saja aku tak bisa menemukan kata yang cocok
Maka kuputuskan untuk bertanya terus terang
“Bagaimana rasanya menjadi barang yang tidak berguna, tissue?”
Dia pun tertawa
Tawa yang aneh
“Aku berguna, tuan. Setidaknya aku pernah dibutuhkan dan dicari-cari oleh manusia yang penuh ingus!”
Jawaban yang bodoh
“Tapi tetap saja, kau tidak pernah merasakan hidup sempurna sepertiku.”
Mendengar perkataanku, dia hanya tersenyum sinis
“Tolong, tuan.”

Persetan dengannya

Aku memutuskan untuk keluar dari kamar terkutuk itu
Mungkin berbicara pada kulit kacang yang berserakan di sampah akan lebih menghibur
“Bagaimana rasanya menjadi tak berguna dan dibuang begitu saja, kulit kacang?”
Kali ini, aku tidak terlalu memikirkan kata-kata yang sopan
“Siapa bilang? Kami menjaga daging kacang tetap aman sampai ada seseorang yang memakannya, tuan.”
Jawaban bodoh, dan membuatku tertawa
“Ya, tapi kalian tidak dibutuhkan lagi sekarang. Tidak seperti aku dan kehidupan sempurnaku!”
Kali ini giliran mereka yang tertawa
“Tolong, tuan.”

Persetan dengan mereka

Kali ini lebih baik aku berbicara dengan mahluk paling tidak berguna di dunia: nyamuk
Dan lagi-lagi, mereka tertawa sambil berkata,
“Tolong, tuan.”

Ada apa dengan dunia akhir-akhir ini?

“Tuan,”
Kudengar suara nyamuk memanggilku. Dingin
“Dalam kehidupan SEMPURNA Tuan, berapa kali Tuan makan sendirian?”
“Tak terhitung,”
“Dalam kehidupan SEMPURNA Tuan, berapa kali Tuan membuat seorang wanita benar-benar menginginkan Tuan dan menjadikan Tuan sebagai satu-satunya pujaan hati?”
“Aku tidak tahu, tidak ada seorang wanita pun yang mau mengakui kalau mereka sebenarnya jatuh cinta padaku. Maksudku, banyak wanita yang jatuh cinta dan tergila-gila padaku, mereka hanya tidak tahu.”
“Bagaimana dengan teman-teman Tuan, berapa yang Tuan kenal, tapi tidak pernah sudi bertandang ke tempat Tuan lagi?”
“Sangat banyak.”
“Berapa uang yang ada di kantong Tuan saat ini?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak berani menghitungnya. Mengetahui jumlahnya hanya akan mengingatkanku betapa miskinnya aku sekarang.”
“Tolong, Tuan…”

Yogyakarta, 13 Juni 2014

This entry was posted in Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>