Puisi “Peringatan” Karya Widji Thukul

Indonesia ini sebenarnya masih berusia muda, hanya sekitar 60 tahunan. Tapi, sudah banyak kejadian yang menimpa negeri ini. Aksi-aksi heroik pasukan Garuda, tingkah polah berbagai gerakan rakyat, sampai pada kejahatan kemanusiaan, semua sudah pernah terjadi di Indonesia.

Terutama untuk cerita-cerita nadir dalam negeri ini, sudah banyak dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya penguasa. Penembakan brutal kepada setiap orang yang dianggap komunis misalnya, adalah salah satu contoh. Selain itu, masih banyak lagi contoh kekejaman lainnya. Salah satunya yang paling terkenal (namun mungkin kita lupakan sekarang) adalah peristiwa hilangnya aktivis Indonesia di tahun 1998. 

Hebatnya negeri ini, hampir semua peristiwa memilukan itu, dilupakan oleh rakyat Indonesia. Bagaimana mungkin para tersangka penjahat itu, sekarang tiba-tiba sudah berada bebas tanpa diadili hukum positif apapun yang ada di Indonesia? Padahal, para aktivis yang hilang itu, sampai sekarang tidak ada kejelasan nasibnya.

Jujur, kami mungkin juga sempat lupa. Namun, sebuah gerakan menolak lupa dari Superman Is Dead, dengan lagunya, Sunset Di Tanah Anarki telah membantu kami mengingat. Ingat akan lalimnya penguasa. Ingat akan hukum yang belum sepenuhnya berjalan di negeri ini. Ingat, akan para pahlawan bangsa yang sekarang sudah tidak ada (mungkin).

Dan salah satu aktivis yang hilang itu adalah penyair keras yang bukan sekedar protes, tapi menghargai proses: Widji Thukul.

Puisi-puisinya keras, menghantam hati penguasa yang mengandalkan ketakutan untuk memeras rakyat. Puisi-puisinya lantang, tak takut dibendung penguasa, tak takut dilibas peluru. Puisi Widji Thukul, adalah simbol perlawanan di zamannya.

Dan puisi peringatan ini adalah salah satu karya Widji Thukul yang dapat kita buktikan sendiri, betapa keras dan lantangnya puisi dari sang penyair.

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Wiji Thukul, 1986)

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Puisi “Peringatan” Karya Widji Thukul

  1. Pingback: Puisi “Bunga dan Tembok” Karya Wiji Thukul | SastraNesia

  2. ANDI RUSTONO says:

    selama ini kami cuma berharap agar bisa tau dimana kuburnya jika sudah gugur…tunjukan lah dimana..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>