Puisi “Pujangga” dan “Melati” Karangan Sanusi Pane

Pujangga

Sebagai Laksmi timbul dari lautan, duduk di atas teratai, demikian Kekasihmu naik dari laut waktu, berpeterana cintamu, dibuai-buai ragam sajakmu.

O, pujangga, buat senantiasa lagumu beralun-alun sampai ke darat kebakaan sebagai sekarang dan buat cerlang cemerlang dalam kegelapan tanah airmu matahari emas, yang terjadi dengan kekuasaan kesaktianmu,

Buat terdengar di tengah suara hewan kegelapan lagu sulingmu, dilayangkan sayap harapan kepada mereka, yang tiada dipenjara perasaan beku.

O, pujangga, jangan tuan mau ditakuti barang yang dahsyat.

***

Kecuali tema kebangsaan, romantik yang dalam Puspa Mega merajai seluruh, masih kita jumpai dalam Madah Kelana ini, hanya sudah mendapat bentuk pengucapan yang lebih matang dan sorotan pengalaman yang lebih dewasa. Seperti juga dalam Puspa Mega, penyair ini (Sanusi Pane) bukanlah seorang yang berbahagia dalam bercinta. Berkali-kali terdengar keluhannya merindukan kekasih yang tak ada di sampingnya.

Adalah menarik, bahwa penyair berkali-kali dalam berbagai sajaknya yang bersuasana seperti itu, memanggil kekasihnya dengan sebutan “Melati,” “Ratna Melati.” Apakah itu kiasan penyair terhadap kasih-cinta? Ataukah nama kekasihnya yang jauh daripadanya? Hal itu tidak jelas bagi saya. Tetapi nama dan sebutan itu telah kita jumpai sejak masih dalam Puspa Mega. Berulang-ulang penyair menujukan lagunya buat “Ratna Melati” (perisai), “Melati” ‘Melati’ “Ratna Melati” (cinta muda) dan dalam Madah Kelana nama itu kita jumpai pula dalam ‘Angin’ dan ‘Melati.’ Patut dicatat bahwa pabila yang dimaksudnya dengan perkataan itu adalah nama sejenis kembang, ia menulisnya dengna huruf m-kecil dan bukan dengan M-besar ‘Kembang Melati,’ ‘O, dengar,’ ‘Bagi Kekasih’). Betapapun juga, “Melati” bagi Sanusi Pane adalah kembang kasih-sayang yang murni, yang jauh, yang merindukan, yang “ta’ kan pernah tercapai tangan.” Maka kepada angin ia berpesan agar membawa keluhnya “Melalui pegunungan hijau” “Kepada dinda, Yang amat tercinta,” yaitu “Kepada Melati si jantung hati” ‘Angin.’ Cinta yang jauh dan “dipetik tidak ‘kan dapat’ itu, dilukiskan penyair dalam sebuah sajak yang berjudul seperti itu:

Melati

Kau datang dengan menari, tersenyum simpul,
Seperti dewi, putih kuning, ramping halus,
Menunjukan diri, seperti bunga yang bagus.
Dalam sinar matahari, membuat timbul,
Di dalam hati berahi yang suci-permai,
Jiwa termenung, terlena dalam samadi,
O, Melati, memandang kau seperti Pamadi,
Kebakaan kurasa, luas, tenang, dan damai.
Engkau tinggal sebagai bunga dalam taman,
Kenang-kenangan: dipetik tidak ‘kan dapat,
Biar warna dan wangi engkau berikan.
Engkau seperti bintang di balik awan,
Terkadang-kadang sejurus berkilat-kilat,
Tapi jauh, ta’ ‘kan pernah tercapai tangan.

Tetapi sebagai kenangan, meski tak mungkin dicapai dengan tangan, ia mencapai keabadian. Ia akan selalu hidup dan membawa ingatan penyair kepadanya, pabila melihat hal-hal yang bersangkutan dengan dia. Misalnya, pabila penyair melihat batang kemuning, maka terkenang ia akan “waktu dahulu,” karena “di bawah daunmu,” “adinda mendapatkan daku” : “Kami membisikkan cinta berganti-ganti.” ‘Kemuning.’ Begitu pula pabila pagi-pagi pergi ke pancuran terbayang pula olehnya adinda tercinta “menyandang perian, mengerling, memandang daku dan tersenyum sedikit.” Dan itu semua sudah jauh. “waktu bercinta pergi” dan ia merasa “Tidak pernah lagi angin berahi bertiup di tanah karang hatiku” ‘Kenangan.’

Karya sastra ini diambil dari buku Membicarakan Puisi Indonesia oleh Ajip Rosidi.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Puisi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>